Home / Liputan Utama / Harus Yakin dengan yang Dikerjakan

Harus Yakin dengan yang Dikerjakan

Alween Ong

 

Meski masih berstatus mahasiswa, bukan tidak mungkin mampu membuka lahan pekerjaan untuk orang lain. Setidaknya, hal itu telah ditunjukkan oleh Alween Ongyang sejak kuliah sudah membangun bisnis.Dan, kini, ia telah memiliki berbagai bidang bisnis di bawah bendera CV Alcompany Indonesia

 

[su_pullquote]Inilah saatnya, mahasiswa membuka lahan pekerjaan, bukan cuma mencari pekerjaan [/su_pullquote]

e-preneur.co.Mencapai titik sukses, tidak diraih dengan mudah oleh alumnus Fakultas Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara ini. Dari tahun 2003, saat memasuki bangku kuliah, Alween Ong sudah melakoni berbagai usaha untuk memenuhi kebutuhan hidup dan biaya kuliahnya. Mulai dari berjualan berbagai jenis barang, menjadi guru les private, agen handphone, agen sepeda motor, operator mesin fotokopi, penjual ikat pinggang, sales kartu kredit hingga bekerja di perusahaan penerbitan.

“Dulu,saya memang hidup serba terbatas.Mau minta kepada orang tua enggak mungkin. Ibu saya single parent (Ayah meninggal, red.). Saya ingin kuliah, tapi dana terbatas.Saat itulah, muncul tekad untuk kuliah,namun harus bisa membayar uang kuliah sendiri. Akhirnya, saya kerja serabutan. Misalnya, menerima tawaran seorang teman untukberjualanikat pinggang, handphone bekas,dan mengajar les,” kisah anak kedua dari lima bersaudara ini.

Lalu, pada akhir tahun 2006, Alweenresign dari pekerjaannya di sebuah usaha penerbitan. “Pada mulanya, saya enjoy. Karena, kerjanya enak dan nyaman. Tapi, saya berpikir, kalau terpaku di sana saya enggak bisa ‘besar’. Mengingat, gajinya Rp1,2 juta per bulan sudah dipatok, sementara kebutuhan terus naik,” lanjutnya.

Kesempatan menjadi pengusaha pun menghampiri Alween, ketikausahanya menjualkan handphone bekas merambah menjadi teknisi handphone. Pada saat itu, seorang teman memintanya memperbaiki handphone. Lantas, ketika membawa handphone tersebut ke toko reparasi handphone, ia memperhatikan dan akhirnya bisa memperbaikinya sendiri.

Kemudian, ia memberanikan dirimenerima orderan dan  membuka clinic handphone di sekitar kampusnya. Usaha itu berkembang dan ia mulai dikenal. Tapi,ia masih mengandalkan diri sendiri untuk membangun usahanya.

Tahun 2008, Alween mengikuti kompetisi Wirausaha Muda Mandiri kategori mahasiswa.Ia terpilih menjadi wakil 1 wilayah Sumatera Bagian Utara ke Jakarta.Pada saat presentasi seleksi di Medan, ia memukau dewan juri.

“Waktu itu, sebenarnya, saya bingung mau presentasi tentang apa.Karena, omset usaha masih kecil yaitu Rp1,2 juta/bulan atau sama dengan saat saya bekerja untuk orang lain. Jadi, saya katakan saja alasan saya inginmenjadi pengusaha yaitu jika semua orang menjadi pekerja, lalu siapa yang membuka lahan pekerjaan.Sementara, yang membutuhkan pekerjaan banyak. Saya memilih menjadi pengusaha, karena saya bisa banyak berbagi untuk orang-orang dan membuka lahan pekerjaan untuk mereka. Inilah saatnya mahasiswa membuka lahan pekerjaan, bukan mencari pekerjaan,” tutur Indonesia Delegation for China ASEAN Youth Camp tahun 2010 ini.

Selepas itu, Alween membuka outlet diGrand Paladium Plaza, Medan. Tahun 2009, ia mulai merekrut beberapa pegawaiuntuk membangun Clinic Handphone. Kemudian, iamengembangkan sayap dengan membuka Narsis Digital Printingdi lokasi yang sama. Dan, setahun kemudian, ia membuka CV Alcompany (baca: Alco, red.) Indonesia.

“Alco ini ibarat manajemen dariClinic Handphone dan Narsis Digital Printing, disamping juga membawahi pelatihan kewirausahaan. Saya jugamembuka usaha di bidang pupuk dan sebuah usaha yang fokus di ikandi Tebingtinggi. Sedangkan yang di Aceh, bergerak di bidang penanaman jagung,” jelas kelahiran Padang, 29 Januari 1985 ini.Dan, setelah menemukan positioning yang tepat untuk usahanya, Alween pun menawarkan kemitraan.

Meski begitu, perempuan yang juga sering diundang sebagai narasumber dan trainer untuk berbagai seminar motivasi baik di Jakarta maupun Medan ini masih belum mau menyebut usahanya sudah besar. Ia lebih memilih kata berkembang.

“Saya membangun usaha ini dengan modal awalsekitar Rp8 juta, yang saya pinjam dari kawan plus Rp2 jutayang diambil dari tabungan.Tapi, tidak sampai setahun, Clinic Handphone sudah membuat saya balik modal,” ungkapnya.

Dari berbagai usahanya, Alween menyebut Narsis Digital Printing paling banyak peminatnya, khususnya anak muda, dan sudah merambah negeri tetangga, seperti Malaysia dan Singapura. “Banyak pesanan dan sekarang lebih simpel. Kalau mau pesan, tinggal kirim desain sesuai dengan yang diinginkanviae-mail. Nanti, kami tinggal mencetaknya.Atau, boleh datang langsung ke lokasi,” katanya.

Peraih penghargaan dari Kementerian Pemuda dan Olahraga sebagai Wirausahawan Muda Berprestasi tahun 2009 ini berharap, jiwa-jiwa wiraswasta terus bermunculan sejak usia muda. “Karena, menjadi wirausaha itu bukan faktor keturunan, tapi habit. Kita harus yakin dengan yang dikerjakan, kerja keras, pantang menyerah, dan harus mampu berguna bagi orang lain,” pungkasnya.

 

Check Also

“Dibandingkan Bisnis Pendidikan, Bisnis Makanan Dimungkinkan Menggenjot Laba Lebih Tinggi”

Susanty Widjaya (Bakmi Naga) Pengalaman adalah guru paling berharga. Hal itu, setidaknya telah dibuktikan oleh …