Home / Liputan Utama / Berbisnis? Siapa Takut?

Berbisnis? Siapa Takut?

Youngpreneur

 

Menjadi entrepreneur, kini, merupakan keinginan hampir setiap orang. Tidak terkecuali mereka, yang dianggap masih terlalu muda untuk menjadi entrepreneur.

 

[su_pullquote]Ketika Anda patah semangat, maka saat itulah Anda sudah “habis”! [/su_pullquote]

(Ittipat Peeradechapan, CEO Tao Kae Noi Food and Marketing Co. Ltd. sekaligus milyader berumur 28 tahun)

e-preneur.co. Sewaktu kita masih kecil, orang tua dan orang-orang di sekitar kita selalu bertanya kita ingin menjadi apa kalau sudah besar. Dan, hampir semua anak kecil akan menjawab ingin menjadi dokter.

Waktu berlalu. Tahun-tahun berganti. Ketika pertanyaan yang sama dilontarkan, jawabannya bisa berbeda. Sebab, (meminjam istilah yang sedang happening) kidszaman now berbeda dengan zamanold. Dipengaruhi oleh lingkungan, pergaulan, teknologi informasi, dan sebagainya, sebagian besar anak-anak generasi milenial ini ingin, salah satunya, menjadi entrepreneur.

Namun, ketika lulus SMA (Sekolah Menengah Atas) atau kuliah, mereka menjadi gamang: apakah meneruskan sekolah, kerja kantoran, atau menjadi entrepreneur. Apalagi, sebagian besar orang tua selalu menginginkan anak-anak mereka kerja kantoran, sesuai dengan ilmu yang ditimba di sekolah atau perguruan tinggi.

Namun, itu dulu.Saat ini,orang tua, meski masih segelintir, mendukung keinginan anak-anak mereka untuk menjadi entrepreneur.Seperti Putra Ahmad Syarif Irawan Pasaribu, yang memperoleh dukungan penuh dari kedua orang tuanya ketika ingin menjadi pengusaha sukses, mengikuti jejak Bapaknya. Padahal, saat itu, ia masih remaja berusia 16 tahun yang disibukkan oleh urusan sekolah dan seabreg kegiatan lain.

Untuk itu, sang Bapak memberinya hadiah berupa QS Futsal, Food Court, & Family Karaoke pada 10 Oktober 2010 sebagai media pembelajaran, sekaligus realisasi dari hobinya bermain futsal. “Di satu sisi, saya memang bercita-cita menjadi pengusaha. Di sisi yang lain, Bapak ingin saya belajar dari usia muda agar mengetahui bagaimana terjun ke dunia bisnis,” kata Arif, sapaan akrabnya.

Dan, Arif membuktikan bila ia memang bisa mengelola QS Futsal, Food Court, & Family Karaoke,dengan balik modal dalam tempo dua tahun.Meski, belum mampu membukukan keuntungan yang besar. Kuncinya: harus selalu berkomunikasi dengan para karyawan.

Sementara Tony Wijaya, memutuskan untuk berhenti sekolah ketika masih duduk di bangku SMA danlangsung masuk ke dalam dunia kerja. Ia memantapkan diri melangkah ke bisnis kecantikan, sebuah bisnis yang juga membesarkan nama Mamanya.

Untuk itu, selain belajar secara otodidak, ia juga menimba ilmu di Sekolah Kecantikan Johnny Danuarta, serta belajar dan mencari pengalaman di Wanny Salon. Selanjutnya, tentu saja membuka salon dengan nama Asian Style Salon pada tahun 2010 atau saat ia berumur 24 tahun.

Namun, ternyata, kesuksesan itu baru diraih ketika ia menyelesaikan pendidikan di Hair & Business Salon Limkokwing, Malaysia, pada tahun 2011. Lalu, membuka salon dengan nama My Salon pada tahun yang sama.

Dari jatuh bangunnya membangun bisnis, Tony memetik banyak pelajaran. Di antaranya, dalam berbisnis, kita harus bersungguh-sungguh dan harus ada aksi. Selanjutnya, harus ada follow up.

Dukungan dari orang tua yang kebetulan single parent, juga diterima oleh Alween Ong. Menyadari kalau kehidupanekonomi keluarganya serba terbatas, ia pantang putus asa. Anak kedua dari lima bersaudara ini pun bekerja serabutan, karena ingin kuliah dengan biaya sendiri.

Dari bekerja serabutan, mncul keinginan untuk memiliki usaha sendiri atau menjadi pengusaha. Setelah mengikuti kompetisi Wirausaha Muda Mandiri 2008 kategori mahasiswa, kesempatan itu datang. Ia memberanikan diri membuka Clinic Handphone dan lalu mengembangkan sayap dengan membuka Narsis Digital Printing. Kedua usaha ini, berada di bawah naungan CV Alcompany Indonesia.

“Saya juga membuka usaha di bidang pupuk dan sebuah usaha yang fokus di ikan di Tebingtinggi. Sedangkan yang di Aceh, bergerak di bidang penanaman jagung,” ujar Alween, yang mulai menancapkan kuku sebagai pengusaha saat umurnya baru 23 tahun.

Tidak sampai setahun, Clinic Handphone sudah balik modal. Sementara Narsis Digital Printing, sudah merambah Malaysia dan Singapura. Meski begitu, peraih penghargaan Wirausahawan Muda Berprestasi 2009 dari Kementerian Pemuda dan Olahraga ini masih belum mau menyebut usahanya sudah besar. Ia lebih memilih kata berkembang.

Dari sini, anggota Indonesia Delegation for China ASEAN Youth Camp 2010 ini berharap, jiwa-jiwa wiraswasta terus bermunculan sejak usia muda. Karena, menjadi wirausaha itu bukan faktor keturunan, tapi habit. Jadi, harus yakin dengan yang dikerjakan, kerja keras, pantang menyerah, dan harus mampu berguna bagi orang lain.

Hampir sama dengan Alween,Riezka Rahmatiana juga terjun ke dunia bisnis lantaran merasa kondisi keuangan keluarganya begitu-begitu saja. Padahal, Ayah dan Ibunya yang karyawan kantoran lebih banyak menghabiskan waktu di kantor alias pergi pagi−pulang petang.

Dengan tekad ingin memiliki kondisi keuangan lebih baik daripada kedua orang tuanya, ia berbisnis. Tapi, lantaran belum tahu akan berbisnis apa, maka ketika kuliah Riezka memulainya dengan menjadi agen MLM (multi level marketing), lalu membuka laundry kiloan, isi pulsa, hingga bisnis kuliner dengan membuka kafe dengan modal terbilang besar.

Semuanya gagal total. Riezka pun terpukul dan ngambek tidak mau lagi berbisnis. Hingga, ia “bertemu” dengan pisang ijo. Pengalaman menikmati salah satu makanan ringan dari Makassar itu, membuat jiwa bisnisnya kembali muncul.

Tahun 2008, perempuan kelahiran Mataram, Nusa Tenggara Barat, itu membuka gerai pisang ijo dengan modal cuma Rp2 juta. Ternyata, respon dari masyarakat boleh dikata luar biasa. Dagangan Riezka ludes seketika.

Bahkan, dalam waktu setahun, Pisang Ijo JustMine, begitu nama bisnis ini, semakin berkembang dengan membukukan 250 gerai yang tersebar di seluruh Indonesia.Hingga, Riezka yang kala itu berumur sekitar 26 tahun membuka kemitraan untuk memantapkan bisnis ini,.

Namun, walau bisnisnya sudah berkembang pesat, Riezka tidak segan terlibat dan memantau langsung gerai-gerainya. Dengan campur tangannya tersebut, ia yakin bisnisnya akan semakin maju.Ia juga memberikan tip:

  1. Harus berani memulai bisnis, jangan ragu-ragu.
  2. Jangan takut rugi. Sebagai pebisnis harus berani mencoba. Kerugian yang dialami harus menjadi pelajaran.
  3. Bisnis harus fokus satu bidang. Jangan terlalu banyak bisnis.Karena, nantinya akan merugikan diri sendiri. Semakin banyak macam bisnis yang digeluti, semakin tidak fokus.
  4. Terus mengembangkan ide-ide bisnis.
  5. Mau terjun langsung ke lapangan. Jangan menyerahkan bisnis seutuhnya kepada orang lain.

Check Also

“Dibandingkan Bisnis Pendidikan, Bisnis Makanan Dimungkinkan Menggenjot Laba Lebih Tinggi”

Susanty Widjaya (Bakmi Naga) Pengalaman adalah guru paling berharga. Hal itu, setidaknya telah dibuktikan oleh …