Home / Inovasi / Bahan Bakar Pengganti yang Tahan Lama dan Lebih Hemat

Bahan Bakar Pengganti yang Tahan Lama dan Lebih Hemat

Green Flame

 

Risiko terbakar karena ketidakpraktisan pemakaian spirtus, kini sudah diantisipasi dengan kehadiran green flame. Dengan keunggulan lebih hemat dan mudah cara pakainya, green Flame pelan namun pasti mulai menggeser kedudukan spirtus

 

[su_pullquote]Hemat sampai 35% ketimbang spirtus cair[/su_pullquote]

e-preneur.co. Bagi Anda yang menekuni bisnis katering, tentu kejadian buruk, seperti kebakaran saat event berlangsung, pernah Anda alami. Hal tersebut, memang risiko yang mau tidak mau harus dihadapi. Sementara penyebab pastinya yaitu belum adanya pengganti spirtus, sebagai bahan bakar yang dipakai untuk menghangatkan makanan.

Namun, sejak beberapa waktu lalu, para pelaku usaha katering bisa sedikit bernafas lega. Sebab, ketidakpraktisan spirtus bisa dikurangi dengan kehadiran green flame atau bahan bakar spirtus dalam bentuk gel.

Meski dibuat dari spirtus, tapi sifat green flame sudah berubah. Dalam arti, tidak lagi mudah menguap bila terpapar udara. “Kami mengadakan penelitian tentang bagaimana caranya membuat spirtus, yang bila terkena udara tidak akan cepat menguap. Hasilnya, yang semula cair berubah menjadi gel. Walau tidak padat, tapi mampu mengubah sifat spirtus,” jelas Ahmed Tessario dan Achmad Ferdiansyah, pencetus green flame.

Duo sarjana teknik kimia ini, hanya membutuhkan waktu dua bulan untuk “menciptakan” green flame. Imbasnya, hasil karya mereka diapresiasi dengan baik oleh publik. Dalam peluncurannya (Mei 2011), langsung terjual 100 kaleng.

Ya, green flame mudah diterima masyarakat. Lantaran, efektif mengganti posisi spirtus cair dengan penghematan sampai 35%. Bahkan, jika dibandingkan dengan parafin kaleng, green flame masih jauh lebih unggul (tabel perbandingan terlampir).

 

Tabel Perbandingan Green Flame dengan Spirtus dan Parafin

Selain itu, green flame mempunyai api berwarna biru. Sehingga, lebih ramah lingkungan. “Keunggulan lainnya yaitu pemakaiannya mudah, sudah dikemas dalam kaleng, dan aman penyimpanannya,” kata Tessar, sapaan akrab Ahmed Tessario.

Cukup dengan membuka tutup kalengnya dengan menggunakan sendok, kemudian sulut dengan api tepat di bagian lubang, dan green flame pun siap digunakan. Jika sudah selesai digunakan, tutup kembali lubang pembakaran dengan tutup kalengnya, tidak perlu ditiup atau disiram air.

Bila gel di dalam kaleng masih ada, green flame masih bisa digunakan lagi. Yang perlu diwaspadai yaitu jangan sampai kaleng terguling saat green flame digunakan. Dikuatirkan, bahan bakar yang tercecer bisa memicu berkobarnya api.

“Green flame bisa digunakan selama 2,5−3 jam dan diisi ulang tanpa membuang kaleng sebagai wadahnya, dengan syarat kondisi kaleng tidak berkarat. Karena itu, jangan simpan green flame yang masih bisa dipakai di tempat yang lembab,” ucapnya.

Dalam pemasarannya, green flame yang dikemas dalam kaleng berbobot 190 ml dan isi ulang 650 ml ini, menyasar pengusaha katering, restoran berkonsep prasmanan, hotel atau penginapan, serta posko tugas TNI/Polri. “Sementara second market-nya berupa kalangan pecinta alam, pramuka, toko peralatan katering, dan toko bahan bangunan yang biasa menjual spirtus cair,” ujarnya.

Target ke depan? Tessar cuma berharap, secara bertahap pengguna spirtus maupun parafin akan beralih ke green flame yang jauh lebih praktis. “Mudah-mudahan keoptimisan saya dan rekan-rekan akan mendapat hasil baik. Sekarang, sedang proses ekspor ke Singapura dan Amerika Serikat,” pungkas Tessar, yang membangun usaha ini di bawah naungan CV Joyfresh International, yang berlokasi di Wisma Mukti, Surabaya.

 

Check Also

Cucian Bersih, Ekosistem Terjaga

Deterjen Minim Busa Isu ramah lingkungan membuat para pelaku usaha terus menggali ide untuk menciptakan …