Home / Liputan Utama / Kalau Tidak Sekarang, Kapan Lagi?

Kalau Tidak Sekarang, Kapan Lagi?

Berbisnis Tidak Bisa Menunggu

 

Umur seringkali dijadikan patokan, ketika orang-orang akan mengambil suatu langkah tertentu dalam hidup mereka. Salah satunya, saat akan terjun ke dalam dunia bisnis. Padahal, pada umur berapa pun membangun bisnis, masalah dan hambatan selalu ada. Sebaliknya, kesuksesan juga masih bisa diraih

 

[su_pullquote]Faktor usia bukan masalah bagi kita untuk memulai usaha. Usia bukan penghalang untuk menjadi lebih sukses[/su_pullquote]

e-preneur.co. The limit is not in the sky. The limit is in the mind. Banyak alasan yang menghambat kita untuk menjadi wirausahawan atau wirausahawati. Salah satunya, masalah umur.

Ada yang mengatakan bahwa mereka masih terlalu muda untuk memulai berwirausaha. Jadi, daripada membangun usaha mending sekolah atau kuliah dulu.

Sedangkan yang lain, mengatakan sudah terlalu tua. Sehingga, kondisi fisik tidak lagi selincah dan segesit dulu, selain itu juga sudah lelah berpikir. Jadi, lebih baik leha-leha sambil momong cucu. Atau, lebih sering mendatangi tempat ibadah, untuk menambah “bekal” kalau nanti berpulang.

Lain lagi kisah Tina Rahmawati dalam berbisnis, yang dimulai pada usia 37 tahun. Terbiasa “sekadar” berjualan, lalu ia ingin “berkegiatan” tetap. Tapi, ketika kemudian mendapat tawaran untuk berkegiatan tetap alias menjadi distributor baju muslim bermerek Keke Collection, ia justru merasa bimbang.

“Sebenarnya, saya merasa senang dan merasa kebetulan banget. Karena, memang sedang mencari kegiatan tetap. Tapi, lantaran pasar yang dituju berbeda dengan pasar yang selama ini saya rambah, saya ragu. Apalagi, saat itu saya sedang hamil. Tapi, pada akhirnya, Bismillah saya mencobanya dan Alhamdulillah sampai sekarang usaha ini terus berjalan,” tutur Tina.

Ya, kini, di usia pertengahan 40 tahun, sarjana commercial engineering dari Hogere Technische School ini tinggal mempertahankan dan mengembangkan bisnis ini. “Berbeda dengan dulu, masih sradag-srudug dalam mengambil langkah-langkah bisnis. Sekarang, saya merasa lebih matang, lebih banyak berpikir dulu sebelum menjalankan bisnis, dan selalu mendiskusikannya dengan suami,” ujar kelahiran Bogor, 17 Desember 1971 ini.

Sementara sang suami, Wisnu Anjar Buwono, baru bergabung di usaha sang istri pada tahun 2010 atau saat berumur 43 tahun dan setelah resign dari pekerjaannya di sebuah perusahaan minyak dan gas. “Selama ini, saya hanya membantu usaha istri pada Sabtu dan Minggu atau pada hari libur lainnya. Dan, pada tahun 2010 itu, ketika kami sepakat menjadikan usaha ini besar, maka saya memutuskan mengundurkan diri dari tempat kerja saya dan bekerja penuh di sini,” tutur Anjar.

Diakui sarjana teknik maritim dari Technische Universiteit, Delft, Belanda, ini bagi yang dulu bekerja seperti dirinya dan kemudian harus mulai berbisnis di usia 40an tahun pasti terasa agak berat. Karena, sudah mempunyai anak, ketakutan kalau tidak bekerja lagi dan fokus di bisnis maka pemasukan berkurang, dan lain-lain.

“Mengingat, masih ada ‘tuntutan-tuntutan’ hidup yang harus dipenuhi, saya tidak langsung meninggalkan pekerjaan saya. Saya bukan tipikal yang ‘bakar kapal’,” lanjutnya.

Namun, di sisi lain, kelahiran Jakarta, 3 Oktober 1967 ini menambahkan, mereka yang berbisnis di usia 40an tahun lebih matang dalam berpikir, lebih mau banyak belajar dari orang-orang yang lebih dulu berbisnis, rajin mengikuti coaching, lebih wise, dan sebagainya.

Jika Anjar bukan tipikal yang “bakar kapal”, sebaliknya dengan Denny Dachlan. Pria yang pernah bekerja di sembilan perusahaan dengan berbagai macam profesi/bidang kerja ini, mengundurkan diri dari pekerjaannya yang telah memberinya gaji yang lumayan besar plus berbagai tunjangan, tanpa tedeng aling-aling. Selanjutnya, ia menekuni dunia usaha, sekali pun mengetahui jika kehidupan di dunia bisnis itu up and down.

Ya, certificate promoter sekaligus trainer PT Stifin Finger Print Indonesia yang menguasai dunia sales dan terjun ke dalam dunia bisnis pada umur 46 tahun ini, harus menghadapi kenyataan bahwa menjadi pengusaha itu bukan pekerjaan yang mudah. Dalam arti, membutuhkan energi yang kuat dan nyali/keberanian yang besar yang kalau dilakukan di usia yang sudah tua, misalnya setelah pensiun, kemungkinan tidak akan “terkejar” lagi.

Namun, tidak berarti terjun ke dunia bisnis di usia yang sudah tidak muda lagi, tidak ada untungnya. “Saya pernah menjadi anak buah. Sehingga, ketika harus bekerja dalam tim, saya tidak merasa canggung. Kedua, saya mengetahui bagaimana caranya mengelola bisnis dengan baik, ada business plan, pola pikir lebih panjang dan matang, bisa berkomunikasi dengan lebih baik, dan sebagainya. Secara mental pun lebih kuat dalam menghadapi dinamika bisnis,” kata kelahiran Jakarta, 21 Mei 1966 ini.

Sementara M. Wuryaning Setyawati, justru dihinggapi keraguan sebelum membangun PT Mahkotadewa Indonesia. Mengingat, saat perusahaan tersebut dibangun (tahun 1999), perempuan yang lebih dikenal masyarakat luas dengan nama Ning Harmanto ini telah berumur 42 tahun, sebuah usia yang tidak muda lagi. Selain itu, ia juga awam dengan dunia bisnis dan gaptek (gagap teknologi, red.), serta otodidak.

Namun, sang suami menganggap apa yang Ning lakukan selama ini menarik. Jadi, sebaiknya dikembangkan menjadi perusahaan. “Memang, awalnya saya menolak. Karena, merasa tidak mampu jika nanti harus mengurusi banyak karyawan. Tapi, suami saya menguatkan dan berjanji akan membantu. Akhirnya, saya menjadikannya perusahaan dan suami saya menepati janjinya,” kisah kelahiran Yogyakarta, 8 Mei 1957 ini.

Menurut perempuan yang juga akrab disapa Oma Ning ini, menjadi pebisnis di usia yang sudah matang, tantangannya banyak. Seperti, banyak orang yang tidak percaya, merendahkan atau melecehkan kemampuannya mengingat ia “hanya” Ibu Rumah Tangga, dan sebagainya. Tapi, karena ia bukan tipikal yang gampang menyerah, ia tidak peduli dengan perkataan orang-orang, yang penting niatnya baik.

Untuk mengatasi kelemahan-kelemahan atau kekurangan-kekurangannya, alumnus Akademi Bahasa Asing, Yogyakarta, ini banyak mengoleksi data dan membuat penelitian, juga menulis buku dengan menggandeng dokter. Untuk produknya, sebelum diluncurkan, ia membuat penelitian ilmiah (observasi klinis) dengan dokter. Sehingga, orang-orang pun sangat menaruh kepercayaan. Bahkan, ia kuliah lagi di STAB Nalanda jurusan Dhasma Usada dan baru-baru ini diwisuda.

Berbeda dengan mereka yang tersebut di atas, Hidayat Sumbodo justru meninggalkan usahanya di bidang general contractor, interior desainer, dan furniture yang berlokasi di Jakarta, pada tahun 2003, dengan alasan jenuh. Lantas, dengan alasan malu bila leha-leha di usia yang masih seumur jagung dalam berkarya, ia mewujudkan mimpinya menjadi petani.

“Masih banyak hal yang bisa saya kerjakan, untuk sesuatu yang bermanfaat. Secara pribadi, saya merasa akan rugi dan terasa mati bila saya hanya berleha-leha saja. Dan, tentu saya belum mau itu,” ucap Day, sapaan akrabnya, yang baru memulai usahanya sebagai “petani” pada usia 41 tahun.

Menurut pria—yang menggeluti usaha di bidang pertanian organik dengan bendera Fresh Land Organic di Yogyakarta, membuka gerai sehat dengan nama Huma Organic di Solo, dan membuat aneka fermentor untuk bahan proses pembuatan kompos dengan bendera CV Komunika Karya Anteronusa, serta Exclusive Distributor GEM Fuel Power (pengirit BBM 100% nabati, red.) ini—umur hanya angka yang tertera. Tidak ada kendala untuk bertindak!

Check Also

“Dibandingkan Bisnis Pendidikan, Bisnis Makanan Dimungkinkan Menggenjot Laba Lebih Tinggi”

Susanty Widjaya (Bakmi Naga) Pengalaman adalah guru paling berharga. Hal itu, setidaknya telah dibuktikan oleh …