Home / Liputan Utama / Agak Berat, Tapi Lebih Matang

Agak Berat, Tapi Lebih Matang

Tina Rahmawati & Wisnu Anjar Buwono

 

Dilihat dari semangatnya, berbisnis saat umur masih 20-an tahun dengan umur 40-an tahun, sama saja. Tapi, pada satu sisi, bagi yang pernah bekerja pasti terasa agak berat. Sementara, pada satu sisi yang lain, lebih matang dalam berpikir. Seperti Anjar, yang terjun ke dunia bisnis untuk mendampingi Tina. Saat itu, ia resign dari pekerjaannya dan telah berumur 43 tahun

 

[su_pullquote]Memang terasa lebih berat, tapi lebih matang dalam berpikir dan lebih wise[/su_pullquote]

e-preneur.co. Gemar berdagang atau berjualan dari masih kecil atau masih sekolah, adakalanya menjadi pemicu bagi banyak orang untuk menjadi wirausahawan/wirausahawati ketika mereka sudah dewasa. Hal semacam itu, terjadi pula pada Tina Rahmawati.

Sehingga, suatu ketika tidak mempunyai kegiatan apa pun, ia merasa bingung. Hingga, akhirnya, ia berjualan baju, meski hanya saat ramadhan.

Tina mengambil baju-baju tersebut di tempat Ibu Tika, yang menjalankan usahanya dengan konsep makloon. Setelah 10 tahun usaha itu dijalani, pada Februari 2006, beliau memproduksi baju muslim yang diberinya brand Keke Collection. Brand ini menyediakan busana muslim untuk anak-anak dan dewasa, baik wanita maupun pria. Sementara, untuk penjualannya melalui distributor.

“Kemudian, saya ditawari menjadi distributornya. Saya merasa senang dan kebetulan banget. Karena, memang sedang mencari kegiatan tetap. Meski, pada awalnya saya masih pikir-pikir, lantaran sedang hamil. Di samping itu, ada perbedaan pasar yang harus dituju di mana jika merek-merek sebelumnya menyasar kalangan menengah, maka Keke Collection menyasar menengah ke atas. Tapi, pada akhirnya, Bismillah saya mencobanya dan Alhamdulillah sampai sekarang usaha ini terus berjalan,” kisah Tina.

Saat itu, sarjana commercieel engineering dari Hogere Technische School, Den Haag, Belanda, ini berumur 37 tahun. Kini, ia tinggal mempertahankan dan mengembangkan bisnis ini.

“Dulu, saya sradag-srudug atau tanpa perhitungan dalam mengambil langkah-langkah bisnis. Sekarang, saya merasa lebih matang dan banyak belajar, lebih banyak berpikir dulu sebelum menjalankannya, serta mendiskusikannya dengan suami,” ujar kelahiran Bogor, 17 Desember 1971 ini.

Sementara sang suami, Wisnu Anjar Buwono, dulu bekerja di sebuah perusahaan minyak dan gas. Pada tahun 2010, ia berpikir apakah usaha yang dijalankan sang istri akan menjadi besar atau hanya akan seperti ini saja.

“Kalau ingin besar, maka saya harus ikut terjun untuk membantu. Selama ini, saya hanya membantu pada Sabtu dan Minggu atau pada hari libur lainnya. Dan, pada tahun 2010 itu, ketika kami sepakat menjadikan usaha ini besar, saya memutuskan mengundurkan diri dari tempat kerja saya dan bekerja penuh di sini,” tutur Anjar, sapaan akrabnya.

Berbicara tentang umur ketika berbisnis, sarjana teknik maritim dari Technische Universiteit, Delft, Belanda, ini menambahkan, dilihat dari semangatnya, berbisnis saat umur masih 20-an tahun dengan umur 40-an tahun, sama saja. “Tapi, memang di usia 40-an tahun, kami lebih matang dalam berpikir, lebih banyak belajar dari orang-orang yang lebih dulu berbisnis, rajin mengikuti coaching, lebih wise, dan sebagainya,” lanjutnya.

Namun, di sisi lain, diakuinya bahwa bagi yang dulu bekerja seperti dirinya dan kemudian harus mulai berbisnis di usia 40-an tahun pasti terasa agak berat. Karena, sudah mempunyai anak, ketakutan kalau tidak bekerja lagi dan fokus di bisnis maka pemasukan berkurang, dan lain-lain.

“Sebab itu, saya juga tidak langsung meninggalkan pekerjaan saya, mengingat masih ada ‘tuntutan-tuntutan’ hidup yang harus dipenuhi. Saya bukan tipikal yang bakar kapal. Saya memilih yang ada risiko, tapi masih bisa dikelola,” lanjut kelahiran Jakarta, 3 Oktober 1967 ini.

Tapi, dalam usaha ini, lantaran merasa tidak begitu pintar berbisnis namun mempunyai latar belakang pekerjaan pernah bekerja di beberapa perusahaan asing, maka Anjar memilih menekuni sistemnya. Selain itu, ia juga mengelola masalah keuangan di mana dulu tercampur antara uang usaha dengan uang rumah tangga, maka sekarang sudah dipisahkan. Bahkan, hingga mempunyai akun sendiri. “Kini, semuanya boleh dikata sudah tertata,” kata Anjar, saat ditemui di tempat usahanya yang terletak di kawasan Taman Cimanggu, Bogor.

Imbasnya, pasangan suami istri ini menjadi distributor terbesar Keke Collection. Mereka memegang pasar untuk wilayah Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur, serta membawahi 200-an agen. Dan, kini, mereka sedang bersiap-siap mewujudkan impian bersama mereka yaitu membuka toko retil di kota-kota besar di Indonesia, yang dikelola secara profesional.

“Sejak beberapa waktu lalu, kami sudah memulainya. Tapi, di Ciamis atau kota kecil dulu dan anggap saja itu sebagai laboratoriumnya. Berikutnya, kami membuka toko ritel yang sebenarnya di Surabaya dan Bandung,” pungkas Anjar, yang menargetkan bisnisnya sudah menggurita di saat ia memasuki usia (karyawan) pensiun.

 

Catatan Tina & Anjar
  1. Fokus pada apa yang dikerjakan. Seperti yang saya lakukan di mana setelah merasa yakin dengan usaha ini, saya pun fokus. Memang, adakalanya tergoda untuk membangun dan menjalankan usaha-usaha lain. Tapi, ternyata, kemudian tidak berhasil. Pada akhirnya, saya fokus di sini.
  2. Pantang menyerah. Memang ada saja tantanganya. Tapi, saya segera bangun dan menghadapi tantangan itu. Jika fokus dan pantang menyerah, serta ketika ada kendala berusaha mencari solusinya, bukan malah meninggalkan, InsyaAllah usaha akan berkembang.
  3. Berbisnislah sesuai dengan passion. Hal ini, juga akan membuat Anda tidak mudah menyerah.
  4. Bergaullah dengan orang-orang yang juga mempunyai kecenderungan ingin berwirausaha atau masuklah dalam suatu komunitas bisnis.

Check Also

“Dibandingkan Bisnis Pendidikan, Bisnis Makanan Dimungkinkan Menggenjot Laba Lebih Tinggi”

Susanty Widjaya (Bakmi Naga) Pengalaman adalah guru paling berharga. Hal itu, setidaknya telah dibuktikan oleh …