Home / Waralaba / Turun Jangan, Naik Boleh

Turun Jangan, Naik Boleh

Hungry Boy

 

Bisnis makanan merupakan salah satu bisnis yang paling menjanjikan. Apalagi, jika makanan yang dibisniskan enak dan unik. Setidaknya, seperti snack dada ayam crispy yang ditawarkan Hungry Boy. Imbasnya, belum lama franchisenya dibuka, ia langsung mempunyai 20 outlet

 

 

 

[su_pullquote]Demi keuntungan franchisee, Hungry Boy mematok harga menu di mana franchisee tidak boleh menurunkan, tapi boleh menaikkan harga menu tersebut[/su_pullquote]

e-preneur.co. Daging Ayam, baik yang dimasak sebagai teman makanan berat atau sekadar camilan, digemari oleh semua orang mulai dari anak-anak hingga dewasa. Karena itu, tidak mengherankan, bila restoran cepat saji yang menyediakan menu ayam ada di mana-mana. Salah satunya, Hungry Boy

“Ketika sedang berlibur ke Taiwan, owner kami (Djap Siat Sien, red.) melihat ada camilan sehat yang berasal dari dada ayam utuh, lalu dibuat menjadi ayam goreng crispy dan dimakan tanpa nasi,” kisah seorang Marketing Hungry Boy.

Lantas, Djap Siat Sien belajar bagaimana caranya membuat dada ayam crispy tersebut langsung dari orang Taiwan itu. Setelah merasa bisa membuatnya, pada tahun 2010, dia menjualnya ke Indonesia, khususnya Surabaya.

 

Ada beberapa menu dalam Hungry Boy. Selain dada ayam tanpa tulang, juga ada crunchy chicken snack, chicken dice, prawns king mayo, calamari, french fries, hot cheese sauce, dan crunchy dory fish.

Menurut sang marketing, yang membuat Hungry Boy berbeda dengan ayam goreng tepung yang lain yaitu tepungnya. Tepung yang sangat khas Taiwan di mana bumbu cabainya pedas sekali ini, memang diimpor dari Taiwan.

“Tepung Hungry Boy tidak sama dengan tepung ayam crispy pada umumnya. Tepung ini ada grinjilannya tapi halus dan saat di goreng menjadi renyah. Bahkan masih renyah, tidak keras seperti tepung ayam goreng yang sudah ada, meski kondisinya sudah dingin,” jelasnya.

Setahun berjualan, banyak pelanggannya yang meminta untuk dibukakan franchise. Kemudian, dengan keyakinan yang kuat kalau Hungry Boy akan laku keras bila difranchisekan, pada akhir tahun 2011, Hungry Boy pun difranchisekan.

Dan, ternyata, baru saja dibuka franchisenya, sudah ada 20 outlet yang menjadi franchisee-nya. Kebanyakan mereka berada di luar kota, seperti Surabaya, Cirebon, Balikpapan, Makassar, dan Palembang.

Ya, Hungry Boy memang lebih diminati franchisee di luar kota. Sebab, minat mereka terhadap makanan unik lebih tinggi dbandingkan di Jakarta. “Di Jakarta kan makanan apa saja sudah ada, sedangkan di luar kota tidak begitu banyak makanan yang unik,” ungkapnya.

Selain itu, sewa outlet di mal di Jakarta masih mahal dan harus waiting list. Sementara para franchisee, kebanyakan mengambil paket mal.

Hungry Boy menawarkan tiga paket franchise. Pertama, paket outdoor yang dengan sejumlah modal yang ditanamkan, franchisee mendapat gerobak, seragam, banner, sticker, penggorengan khusus, bumbu-bumbu, saos, dan lain-lain. Kedua, paket indoor di mana franchisee memperoleh gerobak dari bahan yang lebih eksklusif (standar mal) dan proteksi wilayah. Ketiga, paket ini memberi franchisee gerobak berukuran lebih besar (2 m x 2 m) dan bahan-bahan yang dua kali lipat lebih banyak dari paket indoor.

Di samping itu, franchisee mendapat training bagi karyawan mereka. Sementara untuk franchisee di luar kota yang tidak bisa mengikuti training, franchisor memberi DVD bagaimana cara-cara membuat menu-menu Hungry Boy.

Dalam kerja sama ini, franchisor tidak mau menyusahkan para franchisee-nya. Misalnya, dengan mengharuskan mereka membeli bahan-bahan baku kepada supplier. “Kami tidak mau memberatkan franchisee. Kami hanya meminta mereka membeli tepung dari kami,” katanya.

Demi keuntungan franchisee, franchisor juga mematok harga menu. “Kalau franchisee mau menaikan boleh saja. Karena, mereka yang lebih mengetahui lahan yang mereka gunakan,” pungkasnya.

 

Check Also

Menunya Ciamik, Tawaran Franchise-nya Menarik

SamWon House   Dalam bisnis yang mengusung konsep franchise, jika bukan keunggulan produknya yang dikedepankan, …