Home / Celah / Membuat Ulos Bekas Tak “Merana” Lagi

Membuat Ulos Bekas Tak “Merana” Lagi

Nick Creation

 

Adanya unsur adat yang tidak bisa dan tidak mau diganggu gugat, menjadikan ulos kalah populer dari batik. Tapi, seiring dengan berjalannya waktu, ketika kain tradisional masyarakat Batak ini dimodifikasi menjadi berbagai produk yang lebih fungsional, ulos pun mulai lebih banyak dikenal. Bukan cuma itu, nilai jualnya pun naik

 

[su_pullquote]Dengan menjadikan ulos sebagai tas, dompet, dan dompet handphone, maka nilai fungsional dan nilai jualnya pun lebih tinggi[/su_pullquote]

 e-preneur.co. Ulos yang dalam bahasa Batak berarti kain, mempunyai peranan yang sangat penting dalam setiap tahapan kehidupan masyarakat, yang mendiami Provinsi Sumatera Utara itu. Ia selalu hadir dalam berbagai upacara adat nan sakral, seperti kelahiran, perkawinan, dan kematian.

Dengan demikian, kain yang didominasi warna merah, hitam, dan putih ini memiliki posisi yang sangat tinggi bagi masyarakat Batak. Begitu tinggi penghargaan terhadap kain yang ditenun dengan alat tenun bukan mesin (ATBM) ini, maka dalam pemakaiannya posisi ulos selalu di atas. Misalnya, di kepala sebagai ikat kepala atau di tubuh sebagai selendang, dengan maksud untuk menghangatkan, menyelimuti, dan memberkati.

Begitu banyak upacara adat Batak yang melibatkan ulos. Imbasnya, si penerima ulos akan memiliki ulos yang sangat banyak. Contoh, ketika orang Batak menikah, ia akan menerima banyak ulos dari seluruh keluarga dan kerabatnya dari berbagai marga atau yang populer dengan istilah Mangulosi. Padahal, dalam penyimpanannya, ulos harus sering diangin-anginkan agar tidak bulukan dan bau.

Kondisi ini, menjadi masalah tersendiri kala si penerima ulos tidak mempunyai rumah dan halaman yang berukuran relatif besar. “Yang terjadi kemudian, ulos-ulos itu kami angkut ke Pasar Senen dan di sana cuma ditawar Rp5 ribu/lembar!” tutur Denny Maria Magdalena Nainggolan.

Bertolak dari situlah, Denny berinsiatif menjadikan ulos sebagai tas, dompet, dan dompet handphone. Dengan demikian, nilai fungsional dan nilai jualnya lebih tinggi. Lebih daripada itu, masyarakat di luar masyarakat Batak menjadi lebih mengenal apa itu ulos. “Sebab, selama ini kan mereka hanya mengenal batik dan songket Lombok,” lanjut perempuan, yang membangun usaha tas dan dompet dari ulos ini sekitar tahun 2009−2010.

Setahun kemudian, ia membuat kelom geulis di mana untuk pelapis/penutup kakinya digunakan ulos. “Saat aku membuat tas ulos tidak ada complain dari sesama orang Batak, yang tinggal di sekitar rumahku. Tapi, ketika aku menjadikannya kelom, sebagian besar dari mereka melemparkan complain,” kisahnya.

Menurut mereka, ia menambahkan, tidak selayaknya ulos dijadikan kelom. “Untuk itu, aku menjelaskan bahwa pertama, meski namanya kelom ulos, tapi aku tidak menempatkan ulos di bagian yang diinjak. Aku hanya menjadikannya sebagai pelapis/penutup jari-jari kaki. Atau, dengan kata lain, posisinya tetap di atas,” jelas Denny.

Kedua, kelahiran Pematang Siantar, 7 Desember 1959 ini melanjutkan, ketika orang Batak meninggal, maka jenazahnya akan ditutup dengan ulos dari kepala sampai kaki. “Jadi, sebenarnya posisinya sama dengan kelom ulos. Tapi, kalau kelom ulos dipakai untuk berjalan (berdiri), ulos penutup jenazah dipakai dalam kondisi berbaring,” katanya.

Ketiga, dulu, ulos dibuat dengan ATBM. Sekarang, sudah menggunakan mesin-mesin pabrik. “Dengan demikian, nilai magisnya sudah luntur. Lebih daripada itu semua, ulos hanyalah sebuah benda,” imbuhnya.

Ya. Motif ulos memang mengandung unsur magis, di samping juga menunjukkan apa fungsinya, tingkat sosial ekonomi si pemilik atau pemberi ulos, dan ulos untuk laki-laki atau perempuan. “Ulos semacam ini, tidak aku gunakan. Karena, harganya sangat mahal, minimal dan paling jelek Rp300 ribu/lembar. Kalau pun aku menggunakannya, aku akan menjadikannya jas, rompi, atau topi. Sehingga, ‘nilainya’ tidak akan turun,” ungkap sarjana perbankan dari Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Perbanas, Jakarta, ini.

Berkaitan dengan itu, Denny yang menamai usahanya Nick’s Creation ini memutuskan untuk menggunakan ulos yang sekadar sebuah kain. Sebuah kain yang dapat dipakai kapan pun dan dalam kondisi apa pun. Dengan demikian, posisinya sama dengan kain batik yang dijadikan pakaian, tas, sandal, dan lain-lain.

Dan, selanjutnya, dengan alasan-alasan itu, ia semakin gencar membuat berbagai produk berbahan baku utama ulos, seperti boneka yang mengenakan baju dari ulos yang diproduksinya tahun 2011. Lalu, produk-produk itu dipasarkannya melalui SMESCO.

Selain di SMESCO, ia juga memperkenalkan produk-produknya ke mancanegara sebagai souvenir, dengan cara menitipkannya ke saudara-saudaranya yang bermukim atau sedang bertugas di Eropa dan Amerika. Sementara di dalam negeri, produknya, dalam hal ini kelom ulos, juga sudah memperoleh tanggapan bagus.

“Aku sudah membuat lebih dari 100 pasang kelom,” ujar Denny, yang menjalin kerja sama dengan para pengrajin kelom di Tasikmalaya. Kelom ulos berukuran 36−41 itu, dijualnya secara grosir dan eceran. Sedangkan untuk tas, dompet, dan dompet handphone, dijualnya dengan harga mulai dari Rp50 ribu.

Diakuinya, bila sifat pemasaran produknya masih tradisional dan terbatas. Demikian pula, dengan proses produksinya.

“Untuk produksi, aku sangat tergantung pada tingkat penjualan dan berapa duit yang aku punya saat itu. Aku tidak mau banyak stok. Karena, andalanku cuma SMESCO. Mungkin, nanti cerita akan lain kalau aku sudah mempunyai outlet sendiri,” ungkap Denny, yang menjalin kerja sama dengan seorang penjahit di Bogor. Tapi, dari penjualan produknya yang hanya melalui SMESCO itu, Denny yang membangun usahanya dengan modal Rp500 ribu−Rp1 juta ini membukukan omset rata-rata Rp500 ribu/bulan.

Check Also

Banyak Peminatnya

Rental Portable Toilet Kehadiran toilet umum—terutama yang bersih, nyaman, wangi, dan sehat—menjadi salah satu kebutuhan …