Home / Liputan Utama / Utamakan Kenyamanan Produk

Utamakan Kenyamanan Produk

geraicantique.com

 

Bila kita yakin bahwa usaha kita akan menemukan hasilnya suatu saat nanti, maka usaha kita pun akan berhasil. Seperti Rikzul, yang terus berusaha agar baju muslim sarimbitnya mempunyai pasar tersendiri. Dan, ia menemukan pasar itu ketika merambah baju muslim untuk ke pesta bagi anak-anak

 

[su_pullquote]Meski anak-anak bukan target market Gerai Cantique, tapi dalam perkembangannya mereka menjadi penentu pembelian dan model busana muslim sarimbit kami. Artinya, anak-anak turut membantu dalam pemasarannya[/su_pullquote]

e-preneur.co. Kalau sudah rezeki, tidak akan ke mana. Begitulah, kurang lebih gambaran usaha yang dijalani Rikzul Masy’aril Imra. Dikatakan begitu, sebab, ketika anak keduanya membutuhkan kehadirannya lebih daripada biasanya, ia pun rela melepaskan karirnya.

Tapi, Rikzul bukan perempuan yang bisa duduk manis begitu saja. Kala sang putra dirasa sudah cukup mandiri, Ibu empat anak ini mencari kegiatan-kegiatan yang dapat ia jalankan di rumah, namun tetap menghasilkan.

Segala usaha pernah dijalankan Rikzul. Hingga, akhirnya, ia memutuskan membuat baju muslim sarimbit. Sarimbit itu sendiri berasal dari kata dalam Bahasa Jawa yang berarti sepasang pria dan wanita. Dalam perkembangannya, mengerucut menjadi pasangan suami istri (pasutri).

Dengan demikian, baju muslim sarimbit berarti baju muslim yang biasanya dikenakan pasutri, yang terbuat dari bahan yang sama, serta mempunyai motif dan warna yang sama. Seiring berjalannya waktu, baju sarimbit merambah ke anak-anak dari pasutri tersebut. Ujungnya, baju yang biasanya dipakai dalam acara-acara pesta ini menjadi baju seragam untuk satu keluarga.

Sementara ketiadaan pengalaman dalam berbisnis dan dunia jahit-menjahit, memang membuat Rikzul pontang-panting dan “berdarah-darah”. Tapi, dengan kejeliannya di mana ia melihat bahwa baju muslim sarimbit yang diproduksi, kebanyakan tidak menyediakan untuk Ibu yang sedang menyusui, maka sarjana teknik kimia dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya ini memandangnya sebagai peluang usaha. Dan, pada akhirnya, membuatnya menemukan pasarnya sendiri, sekaligus nilai tambah bagi usahanya yang dinamai Gerai Cantique.

Bukan cuma itu, para Ibu yang melihat baju-baju muslim—yang dibuat untuk anak-anak perempuan dalam paket baju muslim sarimbit—itu beranggapan juga pantas dipakai oleh gadis-gadis kecil mereka, terlepas dari baju sarimbit. Hal ini, membuat Rikzul juga memproduksi baju-baju muslim untuk anak-anak perempuan, khususnya. Di sisi lain, adanya tren lomba penghafal Alquran dan dai muda, juga membuatnya terpicu untuk membuatkan baju bagi anak-anak.

“Dengan demikian, meski anak-anak bukan target market Gerai Cantique, tapi dalam perkembangannya mereka menjadi penentu pembelian dan model busana muslim sarimbit ini. Artinya, anak-anak turut membantu dalam pemasaran baju muslim sarimbit kami. Sehingga, menjadi lebih laku. Dikatakan begitu, sebab, orang tua pasti tidak akan membelikan baju untuk anak-anak mereka, kalau anak-anak itu tidak mau memakainya lantaran tidak suka,” ungkap Rikzul.

Namun, ia tetap menekankan bahwa fokus Gerai Cantiqeu tetap pada baju muslim sarimbit. Tapi, kalau kemudian juga mengarah ke anak-anak itu karena banyaknya permintaan untuk membuat baju muslim bagi anak perempuan, khususnya, yang secantik mungkin dan dibuat mekar di bagian bawahnya. Sehingga, mereka leluasa bergerak dan cantik seperti princess.

“Jadi, penekanannya ada pada desain Ibu dan anak perempuan. Anak-anak tersebut, menginginkan baju-baju yang dapat mereka pakai dalam acara ulang tahun, fashion show, dan sebagainya. Berkaitan dengan itu, sekali pun anak-anak bukan target utama, tapi pangsanya cukup besar. Sehingga, akhirnya, kami juga mengarah ke anak-anak. Apalagi, baju-baju mereka dibuat dengan menggunakan bahan-bahan yang nyaman dipakai. Sehingga, hal ini menjadi pertimbangan tertentu para orang tua untuk membeli/memesannya,” lanjutnya.

Tapi, ternyata, tidak berarti semuanya berjalan mulus. “Dulu, kami ragu-ragu membuat stok. Karena, modalnya belum besar. Sementara, model baju pesta selalu berubah. Kami kuatir nantinya ketinggalan zaman. Sekarang, seiring dengan banyaknya event, kami membuat stok untuk baju anak perempuan. Mengingat, anak-anak perempuan itu, di samping Ibu mereka, merupakan pangsa yang paling besar. Sementara untuk baju koko Bapak dan anak laki-laki, menyusul pembuatannya,” jelas kelahiran Kediri, 24 Mei 1979 ini.

Untuk harganya, baju untuk Ibu dimulai dari Rp500an ribu. Untuk anak (perempuan) dimulai dari Rp300an ribu. Anak-anak ini, dibagi dalam tiga kelompok yaitu kelompok pertama, anak-anak berumur 2 tahun, 4 tahun, dan 6 tahun. Kelompok kedua, anak-anak berumur 8 tahun dan 10 tahun. Kelompok ketiga, anak-anak berumur 12 tahun.

Dan, dengan alasan modal belum besar juga, Gerai Cantique mengusung sistem made by order. Saat lebaran, misalnya, Gerai Cantique membuka pemesanan 2–3 bulan sebelumnya. “Tapi, semakin ke sini, karena ingin lebih berkembang, kadangkala kami menerima pesanan untuk dipakai keesokan harinya. Bahkan, kadangkala ada yang minta yang sudah jadi. Akhirnya, kami pun membuat stok,” kata Rikzul, yang mengalami pick season pada Idul Fitri dan Idul Adha.

Selain itu, Gerai Cantique juga mengusung konsep by online. Dengan konsep ini, produk-produk Gerai Cantique yang mempunyai 10 karyawan ini bukan cuma merambah pasar dalam negeri, melainkan juga mancanegara, seperti Australia, Hong Kong, Amerika Serikat, Singapura, Malaysia, Vietnam, dan lain-lain.

Dalam pemasarannya, Gerai Cantique juga dibantu 10 agen yang bergerak secara online. Jadi, jika berminat memesan tinggal klik website-nya (www.geraicantique.com), fanpage-nya di facebook (gerai cantique), atau instagram-nya (@geraicantique), lalu tinggal pilih dan langsung memesan ke produsen atau agen.

Dari sini, Rikzul  menyimpulkan bahwa anak-anak merupakan target market paling empuk dalam dunia bisnis. Sebab, bagi orang tua yang berpenghasilan lebih dari cukup, harga bukan masalah. Demikian pula, dengan yang terjadi di Gerai Cantique. Sekali pun, acara-acara tersebut di atas hanya tren, tapi cukup bisa mendongkrak omset.

“Pada dasarnya, bisnis saya berlandaskan apa yang sedang tren. Seperti para Ibu yang tidak lagi menggunakan pakaian berbahan katun, tetapi sifon, maka saya pun mendesain baju untuk mereka dengan bahan sifon. Banyak baju pesta yang tidak ditujukan bagi para Ibu menyusui, lalu saya membuat baju muslim untuk ke pesta untuk mereka. Jika dikatakan bahwa bisnis yang berlandaskan tren hanya akan laku pada saat tren tersebut, berbeda dengan bisnis yang menciptakan tren, ya memang benar. Tapi, masalahnya, tidak semua pebisnis mampu menciptakan tren sendiri,” pungkasnya.

 

Check Also

Sukses Membangun Kerajaan Bisnis dengan Telaten Merangkai Jaringan

Onny Hendro Adhiaksono (PT Trimatra Group) Dalam bisnis, selain modal, jaringan dan skill mempunyai peran …