Home / Agro Bisnis / Minim Risiko, Harga Jual Tinggi

Minim Risiko, Harga Jual Tinggi

Bibit Kubis

 

Bertani kubis itu biasa. Tapi, tidak dengan pembibitan kubis. Padahal, dari pembibitan ini nantinya akan dihasilkan bibit dan kubis yang berkualitas. Sayang, belum banyak yang menjalankan usaha ini. Bahkan, di kalangan petani kubisnya sekali pun

 

[su_pullquote]Pembibitan kubis sangat menguntungkan![/su_pullquote]

e-preneur.co. Kubis atau kol, pada mulanya merupakan tanaman liar di daerah subtropik. Dalam perjalanannya, tanaman asli Bangsa Eropa dan Asia ini, menjadi salah satu sayuran konsumsi yang paling diminati di seluruh lapisan masyarakat, dari dulu hingga sekarang.

Kubis segar, menurut beberapa penelitian, mengandung banyak vitamin. Seperti, Vitamin A, B, C, dan E. Bahkan, kandungan Vitamin C yang dimiliki kubis terbilang tinggi. Sehingga, mampu mencegah sariawan akut.

Selain mengandung banyak kebaikan, sayuran ini ternyata juga menyimpan potensi bisnis berupa pembibitan kubis. Dan, berbeda dengan bertani, pembibitan kubis dimulai dari biji atau usia nol. Di usia nol, biji kubis tersebut ditanam, lalu dirawat hingga bisa dipanen pada usia 1 bulan–40 hari.

Pembibitan ini, di samping memiliki risiko yang minim, harga jual bibitnya juga relatif tinggi yaitu sekitar Rp100,-. “Pembibitan kubis memang sangat menguntungkan. Karena, cepat perputarannya dan risiko kegagalannya kecil. Selain itu, pembibitan kubis juga bisa dilakukan kapan pun atau tidak mengenal musim,” ujar Hariyanto, salah satu petani bibit kubis dari Nangkadandang, Sidomukti, Jawa Timur.

Dalam pembibitan, ia melanjutkan, yang harus dilakukan pertama kali yaitu menyiapkan lahan. Berikutnya, media tanam. Menurut Hariyanto, media tanam merupakan unsur yang penting. Karena, dari media tanam tersebut, kelayakan bibit pada waktu panen nanti dipertaruhkan.

Lalu, membuat lubang-lubang di lahan dengan menggunakan lanji (alat sederhana untuk membuat lubang tempat biji, red.). Kemudian, masing-masing lubang diisi satu biji kubis dengan jarak antarbiji 2 cm–3 cm dan jarak per baris 5 cm. “Setelah itu, lahan ditutup gedheg (anyaman bambu) selama 2–3 hari,” katanya.

Agar hasil pembibitan memiliki kualitas bagus, ia menyarankan agar media tanam dicampur dengan fungisida dan kapur. Fungisida digunakan untuk mengantisipasi penyakit Akar Gada, yang kerap menyerang kubis saat dewasa. Sedangkan kapur, digunakan untuk menetralkan unsur kimia di dalam tanah.

Salah satu ciri serangan Akar Gada, Hariyanto memaparkan, yakni munculnya bintik-bintik atau bulatan pada akar di bibit kubis, saat dipanen. Bintik-bintik ini akan segera menyebar hingga ke daun. Dan, tanpa menunggu waktu yang lama, kubis pun mati.

“Munculnya Akar Gada hanya bisa dicegah. Penyakit ini, biasanya disebabkan oleh jamur yang terbawa oleh air kotor, yang digunakan untuk menyirami bibit,” ucapnya.

Saat ini, menurutnya, terdapat tiga jenis bibit kubis yang dibudidayakan di Desa Nangkadandang yaitu Otom, Berlian, dan Giyanti. Ketiga bibit kubis ini, memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing.

Contoh, pada musim kemarau, Otom yang paling unggul. Bibit ini memiliki pertumbuhan yang cepat dan daya tahan yang bagus. Sedangkan saat musim penghujan, disarankan untuk menggunakan Giyanti yang kekuatan daunnya sudah teruji.

“Otom ketika ditanam pada musim penghujan, daun-daunnya mudah sekali berlubang dan sobek. Saat musim penghujan, biasanya para petani menanam Giyanti atau Berlian,” ungkapnya. Perlu diketahui bahwa hujan yang turun terus-menerus akan mempengaruhi pertumbuhan bibit.

Petani pembibitan kubis, biasanya memperoleh biji kubis siap tanam di toko-toko pertanian atau toko mitra kelompok tani. Untuk satu bungkus dengan isi 2.500 biji, dijual dengan harga sekitar Rp40.000,-. Biasanya, satu bungkus biji kubis tersebut digunakan untuk lahan seluas 1 m x 6 m. Dengan demikian, lahan di belakang atau samping rumah pun bisa digunakan.

“Usaha pembibitan kubis, mungkin dianggap sepele oleh sebagian orang. Tapi, jika dijalankan dengan serius, bisa memberi keuntungan yang besar. Sebab, dari satu bungkus berisi 2.500 biji bisa dihasilkan 2.000 bibit. Sebulan kemudian, sudah bisa dipanen dan dijual dengan harga sekitar Rp100,-/bibit. Padahal, petani di sini rata-rata membudidayakan minimal lima bungkus,” jelasnya.

Karena itu, tidak mengherankan bila para petani kubis menjadikan Nangkadandang sebagai kawasan sentra bibit kubis berkualitas. “Bukan hanya warga sekitar yang mencari bibit kubis di Nangkadandang, melainkan juga sebagian wilayah di Tawangmangu hingga Karanganyar, Jawa Tengah,” lanjutnya. Selain itu, juga terdapat kelompok tani kubis yang siap menyalurkan bibit kubis milik warga. Singkat kata, dalam pemasarannya, tidak ada kesulitan.

Dari sini, dapat disimpulkan bahwa tingginya permintaan sayuran ini membuat makin banyak petani sayuran yang menanam kubis. Jika banyak petani yang menanam kubis, maka permintaan akan bibit kubis juga otomatis ikut meningkat. Dengan demikian, usaha pembibitan kubis bisa dijadikan alternatif usaha yang menguntungkan.

Check Also

Menyehatkan Konsumennya, Menguntungkan Petaninya

Beras Hitam Organik Meski buruk rupa, tapi kaya manfaat kesehatan. Tidak mengherankan, bila peminat Beras …