Home / Waralaba / Jangkau Pasar Lokal dengan Tawaran Kemitraan

Jangkau Pasar Lokal dengan Tawaran Kemitraan

Rumah Abia

 

Bisnis mainan (sebenarnya) memiliki prospek yang cerah. Tapi, karena adanya persaingan ketat, di samping konsinyasi yang kurang sehat yang dilakukan peritel, membuat penjualan produk mainan tidak terdongkrak. Untuk mengatasi masalah ini dan menjangkau pasar seluas-luasnya, Rumah Abia pun menawarkan kerja sama dalam bentuk business opportunity yang menguntungkan baik produsen mainan maupun mitra

[su_pullquote]Keuntungan yang diperoleh mitra, sekitar 50% dari margin diskon yang diberikan Rumah Abia[/su_pullquote]

e-preneur.co. Prospek usaha mainan di dalam negeri sangat besar. Peritelnya kian gampang dijumpai, baik perorangan maupun yang berbadan hukum.

Pengecer perorangan, biasanya menggelar dagangan di pinggir jalan, toko mainan, pasar, atau mobile dengan kendaraannya sendiri. Sementara peritel berbadan hukum, lebih moderen. Mereka menjual mainan dengan konsep gerai minimarket khusus mainan hingga space khusus mainan di pusat-pusat perbelanjaan.

Prospek sangat besar yang dimaksud di atas, dipicu oleh legitnya laba dari selisih harga produsen mainan dengan harga jual para pengecer. Di samping itu, juga karena membanjirnya produk-produk mainan dari produsen lokal atau pun impor.

Namun, saking banyaknya, imbasnya daya tawar para produsen di mata pengecer pun menjadi rendah. Sehingga, tidak mengherankan jika dalam konsinyasinya dengan para pengecer, produsen terpaksa lebih banyak mengalah. Kendati, harus menanggung banyak risiko rugi.

Sedangkan bagi pengecer, yang penting omset bagi usaha dagangnya. Tidak peduli apa pun mainan yang terjual, apalagi siapa produsennya. Bahkan, untuk urusan display, satu produk (mainan) tertutup mainan lainnya dalam etalase dagangan mereka bukanlah masalah. Sebab, bila tidak laku, barang bisa dikembalikan ke produsen. Singkat kata, pengecer tidak pernah rugi.

“Kalau terjadi penjualan, mereka justru mendapatkan margin yang yang terbilang tinggi dari produsen mainan tersebut,” ujar Riza Ambadar, pemilik perusahaan pembuatan mainan berbahan baku kayu.

Kondisi itulah, yang membuat Riza tidak lagi menyasar pasar mainan lokal setelah sempat bergelut di dalamnya pada tahun 1999−tahun 2000. “Saya sudah tidak menitipkan produk mainan saya di toko-toko. Sebab, konsinyasinya sudah tidak menarik lagi,” katanya.

Selanjutnya, di bawah bendera PT Safira Tumbuh Berkembang yang beroperasi pada tahun 1992 dengan produk furnitur, ia kembali fokus mengekspor produk mainannya ke luar negeri. Mainan yang sudah menjadi langganan masyarakat Swiss itu, mampu menarik transaksi AS$20.000 setiap bulannya.

Namun, tidak berarti ia kapok bermain di dalam negeri. Pada tahun 2007, ia berinovasi. Riza menjual program kunjungan ke pabrik mainannya ke setiap sekolah.

Untuk itu, ia membuat brand Rumah Abia yang berlokasi dalam areal pabrik mainannya di Ciawi, Bogor. Di dalam Rumah Abia, ia membuat outlet yang menjual berbagai mainan produksinya hingga bioskop mini yang menayangkan film bertemakan lingkungan.

“Keuntungannya bagi para siswa yang berkunjung yaitu mereka bisa membuat mainan sendiri dan lalu memberinya warna, kemudian membawanya pulang,” ucap Riza, yang saat itu memasang tarif Rp35 ribu untuk pembuatan satu mainan.

Melalui program kunjungan itu, ia membukukan penjualan ritel lokal, meski lokasi pabrik yang berdiri di atas lahan lebih dari 1 ha itu jauh dari trafik pengunjung. Tapi, ia masih belum puas.

“Kalau dulu, ada yang terjual, tapi ya serabutan saja. Mereka mengambil untung, tapi tidak terorganisasi,” bebernya. Lalu, timbullah ide untuk menawarkan business opportunity Rumah Abia.

Dalam paket usaha Rumah Abia itu, ia menjual berbagai produk berbahan baku kayu untuk pasar lokal yang terdiri dari mainan educational, mainan biasa, gift, dan aksesoris. “Untuk gift, tersedia lampu tidur, gantungan baju, dan sebagainya. Sementara untuk mainan biasa berupa mobil-mobilan, helikopter, kelereng, dan lain-lain. Sedangkan untuk educational, ada balok susun, puzzle, dan sebagainya,” katanya.

Business opportunity Rumah Abia, ia melanjutkan, merupakan suatu terobosan dalam ritel mainan di Indonesia. “Karena, belum ada mainan kayu dengan ritel yang terorganisasi. Di sini, ada uniform, image, dan brand lengkap dengan training, alat marketing dan administrasinya,” paparnya.

Dengan konsep business opportunity yang ia tawarkan dalam sebuah pameran franchise itu, ia tidak perlu lagi berkonsinyasi dengan para pengecer tapi menjadi pesaing pengecer. Terutama, di tempat-tempat yang memiliki tingkat trafik tinggi, seperti di pusat-pusat perbelanjaan.

Saat itu, Riza memberi nilai barang yang terjual dalam satu booth Rumah Abia sebesar Rp20 juta. Dan, jumlah tersebut dimungkinkan akan tercapai dalam jangka waktu satu bulan. “Pendapatan itu mengacu pada penjualan ritel Rumah Abia yang ada di pabrik,” katanya.

Investasi awal bagi mitra sebesar Rp30 juta untuk tiga tahun. Sementara maintenance booth diambil 5% dari net profit mitra setiap bulan. Namun, bila tidak berhasil membukukan laba, ia memberikan garansi buy back Rumah Abia.

Keuntungan yang diperoleh mitra, ia menambahkan, berkisar 50% dari margin diskon yang ia berikan. “Mereka memperoleh diskon 50% dari harga ritel. Jadi, jika bisa menjual Rp20 juta dalam sebulan, lalu mitra mendapat diskon 50%, maka perolehannya Rp10 juta,” jelasnya. Dari perolehan Rp10 juta itu, setelah dikurangi biaya ini itu yang diasumsikan sebesar Rp7 juta, maka mitra akan mengantongi keuntungan bersih sekitar Rp3 juta.

Menurutnya, kendati prospek pasar mainan lokal masih sangat besar, tapi kompetisi dan kurang enaknya konsinyasi dengan para peritel membuat bisnis ini tidak bisa melesat lebih cepat.

Untuk itulah, melalui kemitraan yang pertama untuk produk mainan di Tanah Air ini, ia bisa menjangkau pasar ritel lokal seluas-luasnya. “Saya menargetkan sekitar 50 mitra. Sebab, produk mainan tidak begitu dibutuhkan, tapi begitu konsumen tertarik, biasanya lalu dibeli,” pungkasnya.

 

Check Also

Menunya Ciamik, Tawaran Franchise-nya Menarik

SamWon House   Dalam bisnis yang mengusung konsep franchise, jika bukan keunggulan produknya yang dikedepankan, …