Home / Kiat / Cari Pasar dengan Taktik Klasik

Cari Pasar dengan Taktik Klasik

Baggu Bags

 

Zaman boleh berganti, bidang bisnis boleh beragam, teknologi boleh semakin canggih tapi strategi pemasaran dan promosi “konvensional” seperti door to door tetap terus digunakan. Lantaran, keampuhannya telah terbukti. Seperti yang dialami Ion dengan Baggu Bags-nya, hingga meraih pasar tersendiri di antara bisnis tas yang telah membanjiri negeri ini

 

[su_pullquote]Karena sama sekali tidak mempunyai jaringan, maka setiap perusahaan aku sambangi. Dan, akhirnya, satu persatu perusahaan itu memesan produkku[/su_pullquote]

e-preneur.co. Berbekal  ilmu yang diperoleh dari perusahaan tempat mereka bekerja dan kemudian ditinggalkan dengan alasan bosan dengan rutinitas kerja kantoran, Union Selina dan sang suami dengan optimis mendirikan usaha sendiri. Usaha yang dibuka pada pertengahan tahun 2009 itu, bergerak dalam bidang pembuatan tas kulit.

Untuk model dan company profile, mereka merancang sendiri. Sementara dalam pemasarannya, Ion, begitu ia akrab disapa, secara door to door atau dari perusahaan satu ke perusahaan lainnya. Taktik ini, terbilang nekad dan berani. Mengingat, Ibu dua anak ini cuma berbekal sok tahu dan berlagak kenal dengan karyawan di perusahaan yang disambanginya.

“Aku memberanikan diri saja. Aku sama sekali tidak mempunyai jaringan, waktu itu. Kira-kira 15 kantor yang aku sambangi,” kisah Ion, saat ditemui di tempat usahanya di kawasan Jati Makmur, Pondok Gede, Bekasi.

Kenekadan wanita kelahiran 18 Juli 1982 ini berbuah manis. Satu persatu perusahaan yang didatanginya mulai memesan produknya. Seperti Premier Oil, perusahaan minyak berskala internasional yang merupakan klien pertamanya, yang saat itu memesan tempat notebook, gantungan kunci, dan suvenir kantor.

Namun, sarjana Hukum lulusan Universitas Pancasila, Jakarta, ini merasa kalau hanya mengandalkan pemesanan suvenir tidak bisa membuat perusahaannya berjalan dengan baik. Menurutnya, sebaiknya memenuhi pesanan itu dilakukan sebulan atau bahkan setahun sekali saja.

Selanjutnya, Ion membuat tas perempuan dengan model terbaru. “Tidak mungkin aku mengandalkan pesanan yang cuma setahun sekali. Karena itu, aku mencari yang banyak dipesan yaitu tas perempuan. Aku membuat sampelnya. Alhamdulillah, aku mendapat klien. Dan, klien pertamaku yaitu Ace Hardware,” tuturnya.

Di samping itu, perempuan yang pernah selama empat tahun bekerja sebagai marketing itu juga mempromosikan produknya ke beberapa perusahaan, yang bergerak di bidang fashion. Caranya, dengan mencari yang bertanggung jawab di bagian desain dan tidak segan meneleponnya.

“Aku juga menghubungi perusahaan fashion. Mereka biasanya mengatakan ya sudah kirimin aja sampelnya lewat e-mail. Jika mereka kekurangan vendor tas, aku dipanggil untuk kerja sama,” katanya.

Selain memasukan ke perusahaan-perusahaan besar, Ion juga memasukan produknya ke berbagai distro dengan label mereka masing-masing. Sementara demi mendongkrak omset, ia juga  membuat label sendiri yaitu Baggu Bags yang penjualannya dilakukan melalui pameran dan online.

“Tapi, seiring waktu, aku hanya berjualan melalui online. Karena, pameran itu banyak menyita waktu. Terutama, untuk keluargaku,” ujar Ion, yang untuk desain produknya masih browsing dari model luar negeri yang lalu diberi tambahan di sana-sini.

Baggu Bags, Ion melanjutkan, tidak mengikuti tren mode dan bergaransi satu tahun. “Tasku ini bergaransi satu tahun. Kalau reslesting atau aksesoris lainnya rusak, kami akan memperbaikinya,” ucapnya. Garansi ini, ia berikan agar para reseller-nya percaya diri dalam menjual tas buatannya. Pasalnya, sebagian besar tas ini dijualnya melalui dunia maya.

Ion belum berhenti sampai di situ. Tidak ingin terlihat monoton, ia juga membuat tas dari kulit asli seperti kambing, domba, dan sapi. Tapi, hanya berdasarkan pesanan dengan harga mulai dari Rp150 ribu.

Dalam satu minggu, Ion dengan dibantu 10−15 pegawainya memproduksi 400 tas. Sedangkan dalam memenuhi pemesanan, ia yang masih rajin memantau proses produksi ini seringkali membuat lebih banyak daripada jumlah yang dipesan.

“Kalau ada yang memesan tas, selalu aku lebihin membuatnya. Misalnya, memesan 120 tas, aku membuatnya 125 tas di mana kelebihan tas itu kadang aku jadikan stok atau dibagi-bagikan,” ungkapnya.

Kini, usaha ini telah membukukan pendapatan puluhan juta rupiah per bulan. Tapi, masih banyak keinginannya yang belum tercapai. “Aku ingin membesarkan merek produkku ini, mempunyai toko sendiri, dan lebih mempunyai ciri dalam bentuk produk tanpa melihat merek luar,” pungkasnya.

 

Check Also

“Naik Kelas” dengan Mengganti Gerobak Dorong dengan Outlet Permanen Berkonsep Restoran

Bakmi Gila Usaha kakilima banyak diminati para pelaku usaha. Selain itu, konsep PKL mempunyai potensi …