Home / Kiat / Menjaring Pelanggan dengan Gerai Berdesain Moderen

Menjaring Pelanggan dengan Gerai Berdesain Moderen

Kupat Tahu Bandung Mang Oman

 

Kuliner tradisional, masih menyimpan potensi besar bila dikemas secara moderen. Kupat Tahu Bandung Mang Oman, misalnya, yang dari gerobakan diubah Ato menjadi resto menengah atas. Imbasnya, ia memperoleh pemasukan selezat Kupat Tahu Bandung

 

[su_pullquote]Sesuaikan juga menu tradisional itu dengan tempat mangkalnya[/su_pullquote]

 e-preneur.co. Ibarat elang yang terbang tinggi ke udara, lalu kembali ke peraduannya, begitu pula dengan urusan lidah. Dalam arti, lidah boleh saja mencoba berbagai makanan yang sedang ngetren, tapi suatu saat pasti kembali ke makanan tradisional. Salah satunya, Kupat Tahu Bandung yang sudah ada sejak berabad-abad silam.

Karena itulah, Kupat Tahu Bandung memiliki pasar yang stabil. Terbukti, setiap orang yang berdagang salah satu pilihan menu sarapan pagi ini tidak pernah sepi pembeli. Seperti Ato Sunarto, pemilik Kupat Tahu Mang Oman.

“Saya memulai usaha ini dengan modal Rp150 ribu,” kisah Ato. Ia memulai usaha ini di rumahnya, tepatnya di Jalan Rusa Raya, Jababeka, Cikarang, pada tahun 2005. Di tempat itu, ia menata meja tamu rumahnya sebagai tempat meletakkan menu-menu dengan apa adanya. “Keesokan harinya langsung ada pembeli. Saya mulai semangat. Hari ketiga, saya mencari gerobak bekas,” lanjutnya.

Kendati masih berada di halaman rumahnya, memasuk minggu pertama, tempatnya berjualan sudah ditutup terpal. “Bertahan terus sampai ada uang dan renovasi rumah seperti restoran yang sekarang ini,” cerita pria kelahiran Ciamis ini. Ya, selanjutnya berdirilah gerai berdesain moderen dan berlabel Kupat Tahu Mang Oman.

Mengingat bukan jago masak, ia meminta bantuan sang Paman yang akrab disapa Mang Oman. “Kebetulan, Mang Oman pernah membantu membuatkan Kupat Tahu Bandung saat acara selamatan adik saya. Para tamu mengatakan jika kupat tahunya enak,” tutur alumnus Institut Pertanian Bogor ini.

Ketika pada akhirnya ia membuka resto ini, ia mengabadikan nama sang Paman. Sementara Mang Oman yang juga pedagang Kupat Tahu Bandung di Ciamis itu, diberinya royalty setiap bulan. “Nama Oman juga khas Sunda,” imbuhnya. Sehingga, terlihat serasi dengan kupat tahunya yang merupakan Kupat Tahu Singaparna atau Kupat Tahu Bandung.

Dengan gerai konsep moderen, ia bukan hanya menyasar orang-orang Sunda, melainkan seluruh lapisan masyarakat Indonesia. Terutama, keluarga-keluarga di sekitar gerainya. Imbasnya, keuntungan terus mengalir ke kantongnya.

Kupat tahu, ia melanjutkan, sebenarnya lebih dikenal sebagai menu sarapan pagi. Tapi, di Kupat Tahu Mang Oman, pengunjung berdatangan tanpa kenal waktu. “Memang ramai di pagi hari. Namun, walau tidak seramai pagi, masih ada juga pengunjung yang makan siang atau makan malam kupat tahu di sini,” ujarnya. Karena itulah, akhirnya, Kupat Tahu Mang Oman dibuka dari jam 06.00 hingga 21.00.

Dari sini, ia menyimpulkan bila usaha kuliner tradisional, seperti kupat tahu, masih menyimpan potensi yang besar. Asal bisa mendesainnya dengan cara menaikkan gengsi ke arah lebih moderen, dipastikan keuntungan akan didapatkan. “Selain itu, menu harus sesuai dengan tempat mangkalnya,” pungkasnya. Seperti menu kupat tahu, yang lebih cocok berada di sekitar kompleks perumahan miliknya.

Check Also

“Naik Kelas” dengan Mengganti Gerobak Dorong dengan Outlet Permanen Berkonsep Restoran

Bakmi Gila Usaha kakilima banyak diminati para pelaku usaha. Selain itu, konsep PKL mempunyai potensi …