Home / Liputan Utama / Melonjak 100% Pada H−7 Lebaran

Melonjak 100% Pada H−7 Lebaran

Era Ban

 

Banyak orang berlomba-lomba “memanen” rezeki pada saat ramadhan. Tapi, di sudut yang lain, ternyata ada juga usaha yang baru “panen” menjelang lebaran atau bahkan pada saat lebaran dan sesaat setelah lebaran. Di antaranya, Era Ban. Usaha ban dan bengkel ini “kebanjiran” rezeki pada H−7 hingga H−3 lebaran

 

[su_pullquote]Setiap bulan, rata-rata Era Ban menangani 200 mobil. Tapi, jumlah ini bisa melonjak hingga 100% pada H−7 lebaran[/su_pullquote]

 e-preneur.co. Demi menghemat biaya, khususnya, banyak pemudik yang menggunakan kendaraan pribadi ketika pulang kampung untuk merayakan lebaran. Agar perjalanan berjalan dengan lancar, mudah, dan nyaman, mobil pun harus dipersiapkan dengan baik-baik.

Nah, pada saat itulah, usaha yang bergerak dalam bidang perbengkelan panen rezeki. Seperti, yang terjadi pula pada Era Ban. Sekali pun, usaha yang terletak di kawasan Otista, Jakarta Timur, ini 60%nya bergerak dalam bidang penjualan ban.

“Era Ban adalah nama sebuah toko, yang berada di bawah badan usaha CV Wacana Mulia. Usaha ini, bergerak dalam bidang penjualan ban. Di samping itu, Era Ban juga menyediakan jasa spooring, balancing, vukanisir, olie, spare parts, velg, dan lain-lain atau perbengkelan,” tutur Joni Anwar, sang pemilik.

Era Ban, Joni melanjutkan, hadir pada tahun 2002. Usaha ini semula milik orang lain, dengan nama Vulkanisir Jaya. “Lalu, saya beli semuanya. Termasuk, para karyawannya. Lalu, saya lanjutkan dan kembangkan,” kisahnya.

Ia menambahkan, “Saya membeli usaha ini. Karena, meski sudah kerja kantoran, tapi sejak dulu saya ingin mempunyai usaha atau berdagang. Di sisi lain, usaha ini sudah berjalan, hanya tinggal dibenahi”.

Dibanding usaha sejenis yang bertebaran di sepanjang Otista, Era Ban tidak mempunyai perbedaan yang mencolok. Tapi, secara interen, Joni dan para karyawannya mengadakan pendekatan personal dan kekeluargaan kepada para konsumennya.

“Misi saya bukan money oriented, melainkan menjalin hubungan yang baik dengan para karyawan dan lingkungan di sekitarnya agar mereka juga merasa bahwa Era Ban juga usaha mereka,” jelasnya.

Untuk itu, soal ibadah juga diutamakan. Dalam arti, jika tiba waktunya salat, maka para karyawan harus salat. Tapi, tanpa harus menutup toko.

“Kecuali, kalau salat Jumat. Sebab, sebagian besar dari kami merupakan muslim. Demikian pula jika Minggu, kami buka. Saya akan meminta karyawan saya yang harus ke gereja ya gereja dulu,” ungkap pria berdarah Tionghoa Betawi, yang terlahir sebagai muslim ini.

Hal itu, ia lakukan lantaran ingin memberi pemahaman kepada para karyawannya bahwa hidup itu tidak lama. Selain itu, rezeki manusia sudah dijatah oleh Allah dan bagaimana kita menjemput rezeki itu tergantung pada kita.

Jadi, tidak perlu rebutan konsumen hanya karena si konsumen baik atau suka memberi tip besar, misalnya. “Bekerjalah sesuai dengan rezekimu,” ucapnya. Wejangan ini membuat para karyawan lebih bijaksana.

Prinsipnya, ia menambahkan, dalam berdagang harus fair, tidak ada niat membohongi konsumen. “Saya juga bilang kepada anak buah saya agar jangan mengatakan barang itu rusak, padahal tidak rusak. Kalau masih bisa dibetulkan ya dibetulkan semaksimal mungkin. Kalau mereka meminta produk yang bagus ya berikan yang bagus. Saya tidak mau mendapatkan uang dari hal-hal yang tidak benar, meski saya belum bisa berdagang seperti Rasulullah,” bebernya.

Apa yang Joni lakukan, ternyata berimbas bagus pada bisnisnya. Menurut sarjana akunting ini, kebanyakan orang berpikir kalau sebagian besar pemilik toko itu Cina dan Cina identik dengan non muslim.

Namun, ketika mereka mengetahui pemilik Era Ban itu Cina muslim, melalui mulut ke mulut, mereka menginformasikan kepada orang-orang lain dan mengajak mereka ke Era Ban. “Padahal, dalam berbisnis, saya sama saja dengan pebisnis lain yaitu mencari untung untuk membiayai ongkos operasional toko dan menggaji para karyawan saya,” katanya.

Era Ban menjual berbagai merek ban mobil dengan harga Rp300 ribu–Rp2 juta. Selain itu, di sini juga dijual ban truk dengan harga mencapai Rp3 juta. Sementara untuk jasa perbaikan mobil, berkisar Rp25 ribu–Rp400 ribu. Artinya, tidak termasuk pembelian plat kopling, spare part, dan sebagainya.

“Setiap bulan, rata-rata kami menangani 200 mobil. Tapi, jumlah ini bisa melonjak hingga 100% pada H−7 lebaran. Jumlah itu, semakin membengkak pada H−3 lebaran hingga terpaksa kami tolak. Karena, sudah tidak kepegang,” ucapnya, tanpa bermaksud pamer.

Usai libur lebaran dan Era Ban buka lagi, di depan pintu toko sudah banyak mobil yang menunggu. Padahal, teman-teman saya sudah buka lebih dulu,” lanjutnya.

Dengan kata lain, kelahiran Jakarta 30 Agustus 1967 ini menambahkan, bisnis ini prospektif. Asalkan, bisa memperoleh lokasi yang tepat.

Sebab, meski jumlah kendaraan semakin bertambah banyak, tapi karena jumlah toko juga semakin banyak, maka persaingan bisnis ini di kawasan Otista saja semakin ketat. Imbasnya, para pelaku bisnisnya hanya bisa memperoleh pemasukan yang dikategiorikan cukup.

“Jadi, prospektif atau tidaknya bisnis ini sangat tergantung pada lokasi, servis, serta hubungan baik dengan supplier dan konsumen,” ucap Joni, yang sampai sekarang masih memiliki pelanggan setia dari Ciledug, Pondok Gede, dan Depok.

Untuk menambah pemasukan, Era Ban menawarkan upgrade mesin-mesin. Mengingat, teknologi semakin canggih. “Saya juga melihat kalau kawasan Otista prospektif untuk usaha cuci mobil. Kendati, membutuhkan ruang yang lebih besar dan renovasi besar-besaran. Tapi, kalau Allah mengizinkan, saya akan segera mewujudkan rencana ini,” pungkasnya.

 

Check Also

Harus Pandai Membaca Karakter Orang

Fairuz (Redline Bags)   Membangun bisnis di dalam bisnis dan satu sama lain berhubungan itu …