Home / Agro Bisnis / Berat Volumenya, Besar Nilai Jualnya

Berat Volumenya, Besar Nilai Jualnya

Salak Nglumut

 

Jika berbicara tentang salak, maka yang terlintas dalam benak tentunya Salak Pondoh atau Salak Bali. Padahal, ada lho jenis salak lain yaitu Salak Nglumut yang berasal dari Magelang, yang tidak kalah lezatnya dengan kedua jenis salak tadi. Imbasnya, buah ini merambah Negeri Tirai Bambu dengan nilai jual yang tinggi

 

[su_pullquote]Salak Nglumut bisa dipanen tiap bulan. Bahkan, jika masuk musim panen raya, bisa dipanen hampir tiap hari[/su_pullquote]

e-preneur.co. Salak Nglumut memang belum setenar Salak Pondoh. Tapi, manisnya salak yang tumbuh di Dataran Tinggi Merapi ini, ternyata telah sampai ke lidah orang-orang Cina. Lantas, di mana perbedaan signifikan antara salak yang baru booming itu dengan Salak Pondoh?

Salak adalah buah yang memiliki kulit luar bersisik tajam, dengan duri kecil yang mudah putus di ujung-ujung sisik, daging berwarna kuning krem sampai keputihan, serta berasa manis, asam, dan sepat. Buah yang memiliki nama ilmiah Salacca Zallacca ini salah satu buah favorit masyarakat di berbagai lapisan.

Dan, salah satu jenis salak yang sangat diminati masyarakat yaitu Salak Pondoh. Ikon Yogyakarta ini ternyata memiliki banyak varian, di antaranya Salak Nglumut.

“Secara fisik, Salak Nglumut tidak berbeda dengan Salak Pondoh. Bahkan, akan menjadi sulit sekali dibedakan jika sudah berada di pasar buah. Dari segi rasa pun, tidak ada perbedaan yang mencolok,” ungkap Sunarno, salah satu petani Salak Nglumut dari Desa Jrakah, Srumbung, Magelang.

Kalau pun ada perbedaan, pria yang sering disapa Narno ini melanjutkan, hanyalah pada tempat tumbuhnya. “Salak Pondoh umumnya tumbuh di Dataran Turi, Sleman, Yogyakarta. Sedangkan Salak Nglumut, awalnya berasal dan berkembang dari Desa Nglumut, Magelang,” jelasnya.

Meski samar, tapi beberapa kalangan percaya jika salah satu perbedaan yang kasat mata antara Salak Pondoh dengan Salak Nglumut ada pada volume dan rasanya. Hal ini, dapat dimaklumi bila mengingat Desa Nglumut terletak lebih dekat dengan Puncak Merapi dibanding Dataran Turi. Sehingga, suhunya lebih dingin dan membuat masa panen Salak Nglumut lebih lama. Imbasnya, volume salak ini menjadi lebih besar dan rasanya lebih manis.

Salak Nglumut rata-rata dibudidayakan dengan sistem cangkok. Masa produktif Pohon Salak yang mencapai usia hingga 30 tahun ini, membuat sebagian masyarakat sekitar Lereng Merapi memberdayakan lahannya untuk ditanami pohon ini.

Salak Nglumut juga salah satu varietas salak yang bisa dipanen tiap bulan. Bahkan, jika masuk musim panen raya (biasanya jatuh pada November−Desember, red.), bisa dipanen hampir tiap hari. “Tapi, di musim penghujan, biasanya penyerbukan antara bunga salak betina dengan jantan sering gagal. Sehingga, berimbas pada kurang maksimalnya musim panen enam bulan berikutnya,” ujar pengajar di SMP IT Ihsanul Fikri ini.

Agar panen senantiasa maksimal, Narno selalu melakukan pemeliharaan Pohon-pohon salaknya yang seluas 5 kesuk (1 kesuk = 1.000 m², red.) secara maksimal. Dua hari sekali, dilakukan ngembangi (penyerbukan buatan), sambil melakukan pemapasan dahan salak yang sudah rusak karena kering.

Selain itu, melakukan pemupukan pada tanah di sekitar pohon. “Pemupukan sebanyak dua kali setahun dengan masing-masing pohon 1 kg setiap pemupukan, akan membuat hasil panen lebih maksimal,” bebernya.

Air juga merupakan elemen penting bagi Pohon Salak. Meski begitu, kondisi tanah diusahakan tetap kering atau tidak terlalu basah. Sebab, tanah yang terlalu kering atau terlalu basah membuat pohon salak mudah mati.

Salak Nglumut juga tahan serangan hama, selama kebersihan sekitar dapur atau kelompok pohon (dalam Salak Nglumut umumnya terdapat 2–3 batang dalam satu kelompok, red.) selalu terjaga. “Salak pada umumnya akan tahan terhadap hama, biasanya berupa hewan kecil-kecil, selama tanah di sekitarnya selalu bersih atau bebas dari daun-daun dan dahan kering. Hal inilah, yang membuat salak lebih produktif,” ungkap sarjana sejarah, Universitas Negeri Yogyakarta ini.

Dalam penjualannya terdapat tiga sistem. Pertama, biasanya para tengkulak atau penjual lokal datang langsung ke petani salak. Kedua, para petani salak menjual langsung hasil panennya ke pasar. Jika dibawa ke pasar, harga salak tentu saja lebih baik dibandingkan dijual ke tengkulak. Dan yang terakhir, salak dieskpor ke Cina melalui Gabungan Kelompok Tani Salak yang ada di tiap desa.

“Saat diekspor ke Cina, harga salak melonjak tinggi,” pungkasnya. Ya, ikon Magelang ini di samping dikirim ke berbagai wilayah di Indonesia, juga telah sampai ke Negeri Tirai Bambu.

 

Check Also

Menyehatkan Konsumennya, Menguntungkan Petaninya

Beras Hitam Organik Meski buruk rupa, tapi kaya manfaat kesehatan. Tidak mengherankan, bila peminat Beras …