Home / Liputan Utama / Berbisnis itu Gampang (?)

Berbisnis itu Gampang (?)

Start Up Business

 

Banyak yang mengatakan bahwa berbisnis itu tidak perlu ribet. Begitu ada peluang, segeralah wujudkan menjadi bisnis. Padahal, di depan sana, ada kerikil-kerikil tajam hingga bongkahan-bongkahan batu yang siap menghadang, bahkan mematikan bisnis kita. Karena itu, sekali pun diyakini berbisnis itu mudah, kita tetap memerlukan “senjata” untuk menghadapi berbagai masalah yang tiada habisnya, dalam perjalanan menjadi wirausahawan/wirausahawati

 

[su_pullquote]Kita harus tahu apa tujuan kita, bagaimana mewujudkan tujuan itu, dan apa yang harus dilakukan ketika sudah sampai di tujuan[/su_pullquote]

e-preneur.co. Segala sesuatu selalu didahului dengan apa yang disebut permulaan. Hal ini pun, ada dalam dunia bisnis yang dikenal dengan istilah start up business.

Menurut Yunita Taniwangsa, start up business adalah bisnis yang baru saja dimulai. Bentuknya, ada yang baru berwujud konsep, ada pula yang sudah mulai dijalani. Dari konsep hingga dijalankan, membutuhkan rentang waktu yang bervariasi.

Rentang waktu itu akan semakin panjang, jika dari konsep tidak langsung dijalankan. Sebab, kadangkala, ada yang cuma berupa konsep, sementara yang menjalankan orang lain. Ada pula, yang membuat konsep sekaligus menjalankannya.

“Singkat kata, yang dimaksud para pemula dalam dunia bisnis adalah mereka yang baru membuat konsep hingga sudah sustainable, memperoleh profit,” jelas Business Coach pada ActionCoach ini.

Layaknya orang yang baru menekuni suatu bidang kerja, dia akan dihadapkan pada berbagai kendala. Menurut Yunita, penyebab utama “matinya” para start up business yakni financing (lihat: Teguh Aaron Muir Hendrata−Nature’s Energy).

“Kalau financing sendirian dan yang bersangkutan belum bisa mencari modal lain, lalu merugi melulu, tahan berapa lama ‘nafas’ bisnisnya? Tapi, ketika dia sudah bisa memperoleh keuntungan dan terus memperoleh keuntungan, maka dia sudah melewati status sebagai start up business. Keuntungan yang dimaksud di sini yaitu break even point (BEP),” lanjutnya.

Penyebab berikutnya yaitu mindset. Yunita mengibaratkannya sebagai seseorang yang akan ke pergi ke suatu tempat, dengan naik mobil.

“Orang itu harus menentukan: apakah mau nge-gas mobilnya atau tidak? Jika mau nge-gas, tapi tidak mempunyai tujuan apakah mau ke Bandung atau Depok, apakah akan sampai? Kalau mau nge-gas, tapi tanpa perhitungan, mau sampai kapan ini dilakukan? Yang terjadi justru mobilnya keburu mati, karena kehabisan bahan bakar (lihat: Mohamad Dadi Nurdiansah−Madu Cipon). Kalau mempunyai tujuan yang jelas, mempunyai business plan yang clear, tentu akan berusaha keras mewujudkannya. Dan, itulah yang pada akhirnya membuat orang itu sampai di tujuan,” paparnya.

Namun, sarjana teknik elektro dari Universitas Trisakti ini melanjutkan, kendati tujuannya sudah sangat jelas, tapi tidak mengetahui how to manage sepanjang jalan menuju ke tujuan, maka ia akan kehabisan bahan bakar lagi dan akhirnya juga tidak akan sampai di tujuan.

Sekadar informasi, bahan bakar yang dimaksud di sini yakni financial. “Financial itu bahan bakarnya bisnis. Tapi. financial di sini tidak selalu rupiah. Tergantung dari jenis bisnisnya, misalnya mesin, lahan, dan lain-lain,” tambahnya.

Ketika sudah berada di tujuan, tidak berarti tidak ada lagi masalah yang bisa membuat “mati”. Kali ini penyebabnya yaitu keasyikan (lihat: Teguh Aaron Muir Hendrata−Nature’s Energy).

“Ketika bisnis sudah gede, sudah profit, tapi masih tetap bisa mati, mengapa? Itu sama dengan sudah mendapat keuntungan Rp100 juta, tapi ternyata tidak tahu bagaimana bisa memperolehnya. Kalau dia tahu bagaimana caranya bisa sampai ke Bandung, tentu dia juga bisa merencanakan bagaimana caranya bisa sampai ke Solo. Tapi, kalau dia tahu bagaimana caranya bisa sampai ke Bandung karena kebetulan (luck), di Bandung pasti dia “mati”. Kenapa minggu lalu omset bisa naik ya? Enggak tahu. Bisa diulang lagikah? Tentu saja tidak bisa. Tapi, kalau kita mengetahui strategi yang dijalankan, kita bisa mengulanginya,” ujarnya.

Ketika pada akhirnya BEP, sudah profit, biasanya digunakan untuk mengembangkan bisnis atau untuk diinvestasikan ke bisnis lain (lihat: Romi Muhison−Royal Tea Roci). Imbasnya, kedua bisnisnya justru mati. Lantaran, bisnis yang satu belum kuat, tapi darah bisnisnya sudah digunakan untuk bisnis yang lain. Dengan kata lain, kecepeten (terlalu cepat).

Untuk itu, agar nantinya tidak mati di awal, di tengah, dan di akhir proses, kendati proses ini never ending, yang harus dilakukan di awal memulai bisnis yaitu membuat business plan untuk 3–5 tahun ke depan.

Jadi, bila tujuannya ke Bandung, maka perencanaannya yaitu kapan sampainya, naik apa, berapa biayanya, lewat mana, berapa orang yang akan dibawa, dan lain-lain (lihat: Katherine Jioe−Organicrush).

Dan, ketika sudah berada di tengah dan di akhir proses, buat lagi business plan. “Business plan itu setiap tahun harus di-review,” tegas kelahiran Jakarta, 17 Juni 1958 ini.

 

Catatan
  1. Sebagai pebisnis pemula, yang bersangkutan harus mempunyai pendamping, seperti partner bisnis, orang tuanya yang sudah mempunyai pengalaman bisnis, atau business coach.
  2. Jika bisnisnya kecil, jangan menggunakan konsep marketing seperti bisnis besar, jangan menarget semua orang adalah pasarnya.
  3. Investasinya bertahap.

 

Check Also

Sukses Membangun Kerajaan Bisnis dengan Telaten Merangkai Jaringan

Onny Hendro Adhiaksono (PT Trimatra Group) Dalam bisnis, selain modal, jaringan dan skill mempunyai peran …