Home / Inovasi / Mesin Tetas Made in Bogor Kualitas Ekspor

Mesin Tetas Made in Bogor Kualitas Ekspor

Glorybators

 

Seringkali, teknologi yang fungsinya melengkapi atau menyempurnakan suatu produk yang tergolong lawas, mampu mengubahnya menjadi produk yang baru seutuhnya. Hal itu pulalah yang dilakukan David, pada mesin tetas telur yang diberinya merek Glorybators ini

 

[su_pullquote]Semua mesin tetas telur kami dilengkapi dengan circulated air system. Hasilnya, 90% telur dapat ditetaskan[/su_pullquote]

e-preneur.co. Selama manusia masih makan ayam, maka selama itu pula ayam masih akan diternakkan. Tapi, di zaman sekarang, beternak ayam dengan cara membiarkan induk ayam mengerami telur-telurnya selama 21 hari dan lalu mengasuh anak-anaknya setidaknya untuk jangka waktu 30−45 hari, bukan lagi cara yang praktis dan mudah.

Dikatakan begitu, sebab, pada satu sisi, banyak induk ayam yang tidak lagi betah, bahkan sudah malas mengeram. Sementara, di sisi lain, proses mengerami dan pengasuhan yang terbilang lama, akan membuat produksi telur tertunda.

Imbasnya, usaha peternakan akan berjalan tersendat-sendat. Untuk itu, diperlukan bantuan mesin tetas telur.

Sejauh ini, masih banyak peternak yang menggunakan mesin tetas telur manual yang prinsip kerjanya yaitu membuka pintu mesin, lantas telurnya dipegang atau diputar-putar selama 25 hari untuk telur bebek dan 18 hari untuk telur ayam. Padahal, dalam sehari, telur-telur itu harus diputar-putar minimal sebanyak lima kali.

Jadi, kalau dalam mesin tetas itu diletakkan 1.000 butir telur, maka dalam sehari, setidaknya Anda harus memutar-mutar telur-telur itu 5.000 kali! Bukan cuma itu, pintu mesin yang dibuka akan membuat panas dan kelembaban di dalamnya menghilang. Dampaknya, penetasan seringkali gagal.

Hal itu, diamati oleh David Hendrawan (bersama dengan Sauvani, koleganya, red.) yang juga membangun bisnis peternakan ayam pada tahun 2003. “Peternakan ayam tidak jauh dari pembibitan. Dalam arti, ketika ayam-ayam mulai menua, otomatis akan terjadi regenerasi. Nah, di saat itulah akan terjadi pembibitan. Awalnya, untuk urusan pembibitan ini, kami nebeng ke Institut Pertanian Bogor yang berlokasi di Sentul. Tapi, lama-kelamaan kami merasa lokasi itu terlalu jauh dan memutuskan untuk membeli mesin tetas telur buatan Amerika,” kisah David.

Namun, selain harus dihambat oleh berbagai prosedur pembelian barang impor, ternyata mesin tetas itu hanya mampu menetaskan 2 butir dari 42 butir yang ditetaskan. Selanjutnya, berkembang menjadi 15 butir, 35 butir, dan seterusnya.

“Saya belum puas. Saya ingin menetaskan lebih banyak lagi. Kemudian, saya mencari mesin tetas lain buatan lokal. Tapi, ternyata, sangat sulit. Akhirnya, saya browsing di internet dan didukung oleh latar belakang pendidikan saya, saya pun belajar membuatnya sendiri,” tutur sarjana elektro dari Universtas Brawijaya, Malang, ini.

Setelah melalui tujuh kali trial & error yang dibiayai oleh konsumennya yang tertarik dengan hasil eksperimennya, mereka beralih membangun usaha pembuatan mesin tetas telur, pada tahun 2006. Usaha yang diberi nama Glorybators ini, membagi mesin tetas telur menjadi tiga tipe.

Tipe pertama, mesin tetas telur manual. “Sekali pun mesin tetas telur ini manual, tapi kami menambahinya dengan circulated air system. Sehingga, semua telur akan terkena panasnya cahaya lampu bohlam. Hasilnya, 90% telur dapat ditetaskan,” ungkap kelahiran Jakarta, 25 Oktober 1965 ini. Sekadar informasi, berdasarkan penelitian, selama ini, mesin tetas telur manual konvensional cuma mampu menetaskan telur hingga 40% dan itu sudah dianggap bagus.

Tipe kedua, mesin tetas telur semi otomatis. Pada mesin ini selain dilengkapi dengan circulated air system, juga terdapat tuas pemutar. Cara kerja mesin ini yakni cukup dengan memutar tuas pemutar dan selanjutnya telur-telur akan berputar-putar 45°.

Tipe ketiga, mesin tetas telur otomatis yang dibagi menjadi standar dan digital. Pada mesin tetas ini, di samping dilengkapi dengan circulated air system dan tuas pemutar, juga terdapat sistem pengendali. Sehingga, ia dapat berputar dengan sendirinya setiap tiga jam sekali. “Di luar itu, kami juga membuat mesin tetas telur sesuai dengan keinginan konsumen,” ujarnya.

Hal inilah, David melanjutkan, yang menjadi pembeda dengan mesin tetas telur yang dijual di poultry shop, yang kebanyakan hanya berupa mesin tetas telur manual atau setidaknya semi otomatis. Bukan cuma itu, mesin-mesin yang dibuat di home industry-nya yang berlokasi di Bogor ini, juga mampu menampung 50–10.000 butir telur.

“Beberapa waktu mendatang, saya akan membuat mesin tetas telur yang mampu menampung 50.000 butir telur,” imbuhnya. Sekadar informasi, sampai sejauh ini, sebagian besar mesin tetas telur berkapasitas lebih dari 10.000 butir telur masih buatan mancanegara.

Keunggulan mesin-mesin tetas telur yang bukan hanya dapat digunakan untuk menetaskan telur ayam, melainkan juga telur-telur unggas lain dan telur reptil ini belum berhenti sampai di sini. Dikatakan begitu, sebab mesin-mesin ini dibuat dengan menggunakan peralatan/komponen/bahan yang aman. Karena, berhubungan dengan listrik dan air.

Selain itu, juga tidak sembarangan. Hal ini dilakukan, semata-mata untuk menghindari munculnya complain dan ingin menunjukkan kepada konsumen bahwa ada jaminan kualitas di produk ini.

“Pada umumnya, mesin tetas telur terbuat dari MDF yang diketahui sebagai kayu yang murah harganya. Selain itu, kayu ini akan berjamur saat udara lembab dan melengkung jika terkena air. Karena itulah, kami menggunakan (di antaranya) block board/solid board dan besi yang harganya tentu saja jauh lebih mahal. Untuk itu pula, kami berani menjamin mesin ini mampu bertahan hingga lima tahun,” ucapnya.

Mesin-mesin ini juga memberikan garansi selama tiga bulan. Tapi, meski masa garansi sudah berakhir, usaha ini tetap bersedia memberikan perbaikan atau sekadar konsultasi, secara gratis.

Di sisi lain, bisnis yang bersifat made by order ini tidak serta merta menerima pesanan dari konsumen. Semuanya harus melalui semacam konsultasi terlebih dulu, untuk menjaga reputasi.

Dengan sistem kerja yang quick response dan personal touch seperti itu, tak pelak usaha ini secara rutin menerima banyak pesanan untuk semua tipe, yang datang dari seluruh penjuru Tanah Air, Malaysia, Brunei, dan Pantai Gading (Afrika Barat). Setiap bulannya, usaha yang dibangun tanpa modal (lantaran bersifat pesanan, maka modalnya diambil dari uang muka pemesanan sebesar 50%, red.) ini menerima pesanan 80% melalui internet, 10% dari repeat order, dan 10% dari mouth to mouth ini.

Prospeknya? “Selama masih ada ayam yang dapat dimakan, maka selama itu pula mesin tetas telur masih dibutuhkan,” pungkasnya.

 

Check Also

Cucian Bersih, Ekosistem Terjaga

Deterjen Minim Busa Isu ramah lingkungan membuat para pelaku usaha terus menggali ide untuk menciptakan …