Home / Profil / CEO / Menjalankan Bisnis dengan Management Cinta dan Kekeluargaan

Menjalankan Bisnis dengan Management Cinta dan Kekeluargaan

Ketut Ely Kusuma Widiastuti

(Owner Labatu Spa)

 

Tidak semua pelaku bisnis menjalankan bisnis mereka dengan orientasi ke margin profit. Beberapa di antaranya lebih mengutamakan kepengelolaan dengan cinta dan kekeluargaan, baik dengan para karyawan maupun para konsumen. Seperti yang dilakukan Ketut Ely Kusuma Widiastuti, dengan Labatu Spa dan bisnis-bisnisnya yang lain. Imbasnya, Labatu Spa pun berkembang, bukan cuma dari sisi jumlah cabangnya, melainkan juga jumlah member-nya yang mencapai ratusan dalam tempo singkat

 

[su_pullquote]Dalam menjalankan kepemimpinan, saya melakukannya dengan cinta dan kekeluargaan. Sesuai dengan didikan Papa saya[/su_pullquote]

e-preneur.co. Para pengamat ekonomi pernah mengatakan bahwa perempuan (termasuk para Ibu, red.) dan anak-anak merupakan target market bisnis yang paling empuk. Fakta di lapangan sudah membuktikan hal itu di mana produk-produk yang berhubungan dengan perempuan dan anak-anak lebih gampang dan lebih cepat diserap pasar.

Namun, tidak semua orang membangun bisnis dengan alasan, pertimbangan, atau latar belakang agar produk bisnisnya lebih cepat diserap pasar. Seperti Ketut Ely Kusuma Widiastuti, yang membangun Labatu Spa atau Labatu Baby, Kids, and Mom Spa (baca: Labatu, red.) lebih kepada alasan pribadi. Berikut perbincangan e-preneur.co dengan perempuan cantik yang akrab disapa Ely ini:

Apa yang melatarbelakangi dihadirkannya Labatu?

Labatu hadir dilatarbelakangi oleh pengalaman pribadi saya, sewaktu mempunyai anak pertama yaitu Putu Ellia Kusuma Dinatha. Saat itu, saya kebingungan mencari tempat massage untuk dia. Karena, di sini (Batam, red.) ‘kan saya pendatang. Akhirnya, saya membawanya ke rumah sakit. Saya ingin memberinya yang terbaik.

Lalu, lahir anak kedua (Made Shriratna Shivari Kusuma Dinatha) yang berdekatan waktunya dengan anak pertama. Dua bulan setelah dia dilahirkan, saya terpaksa meninggalkannya untuk mengikuti training internasional di Singapura.

Awalnya, saya ingin mengambil franchise saja biar gampang. Ternyata, di Batam sudah ada yang mengambil franchise itu, meski bangunannya masih dalam taraf pembangunan.

Selang sebulan di Jakarta untuk bertemu si franchisor, akhirnya saya memutuskan membangun sendiri dengan sebelumnya mengambil sertifikat internasional dari Singapura tersebut. Dalam training tersebut, saya bahkan menjadi mengetahui tentang perkembangan bayi, pentingnya massage bagi bayi, kejiwaan bayi, aromaterapi yang bagus untuk bayi, dan sebagainya.

Kemudian, pada 3 November 2013, Labatu yang mengantongi dua sertifikat internasional untuk infant massage dan Massage in the School Program pun dibuka untuk pertama kalinya di Waterfront Harris Hotel Marina, Batam. Sebulan kemudian, Labatu kedua dibuka di Ruko Kepri Mall, Panbil, Batam.

Jadi, Apa itu Labatu?

Labatu berasal dari Bahasa Sanskerta yang berarti happiness (kebahagiaan) and prosperity (kesejahteraan). Jadi, saya berharap, siapa pun yang datang ke Labatu dalam kondisi happy dan keluar dari Labatu lebih happy lagi. Sedangkan prosperity, lebih mengacu kepada kesejahteraan karyawan Labatu.

Sementara Labatu sebagai bisnis adalah spa yang ditujukan untuk Ibu-ibu, baik yang sedang hamil, baru melahirkan, maupun baru mempunyai bayi atau anak kecil. Dalam perkembangannya, banyak remaja putri yang tertarik untuk ikut merasakan treatment yang ada di Labatu. Akhirnya, Labatu saya kembangkan bukan hanya untuk para Ibu, melainkan juga remaja putri.

Dengan demikian, dalam Labatu tersedia fasilitas treatment untuk Ibu hamil, bayi, dan anak-anak, serta salon. Selain itu, juga ada fasilitas treatment untuk pre wedding.

Khusus untuk treatment Ibu hamil, terbagi menjadi berapa usia kehamilan si Ibu. Misalnya, untuk Ibu-ibu yang usia kemahilannya 1‒3 bulan di mana kebanyakan mereka sedang mual, muntah, mood-nya naik-turun, dan sebagainya akan menjalani treatment dalam tempo pendek. Intinya, hanya untuk membuat mereka fresh kembali.

Tapi, yang paling aman yaitu pada usia kehamilan di atas empat bulan. Pada saat itu, mereka sudah bisa di-massage. Sementara untuk para Ibu yang mendekati kelahiran, masih dapat di-massage namun dengan tekanan yang berbeda, hanya seperti dielus-elus.

Namun, tidak berarti semua Ibu yang sedang mengandung diperbolehkan mengikuti treatment ini. Karena itu, sebelum mengikuti treatment, mereka harus mengisi formulir terlebih dulu yang menyangkut masalah kesehatan mereka.

Misalnya, yang bersangkutan mengalami masalah pendarahan, maka kami akan menanyakan terlebih dulu apakah ada rekomendasi dari dokternya. Demikian pula, untuk Ibu yang sedang demam. Sebab, massage bisa membuat suhu tubuh naik. Untuk itu, kami menyarankan untuk tidak di-massage dan mengusulkan untuk refleksi kaki saja agar kaki mereka tidak bengkak, menjalani manicure-pedicure, foot massage, dan sebagainya.

Ketika melakukan treatment untuk Ibu hamil itu seperti berhadapan dengan barang yang fragile, betul-betul harus dengan hati. Hal itu pula, yang saya tekankan ke terapis-terapis saya. Dalam arti, mereka harus mempunyai rasa sayang, rasa cinta.

Labatu juga menyediakan massage untuk Ibu-ibu setelah nifas. Mereka boleh massage lagi tiga bulan setelah melahirkan. Mengingat, kebanyakan Ibu zaman sekarang melahirkan secara cesar. Biasanya, proses ini dilakukan oleh para terapis senior.

Sementara untuk para bayi dan anak-anak yang boleh di-massage di Labatu yaitu para bayi yang sudah lepas pusar dan lukanya sudah bersih/kering sampai mereka berumur dua tahun. Sedangkan untuk anak-anak, mulai dari umur dua tahun hingga 16 tahun.

Labatu juga sering dikunjungi oleh anak-anak special need. Anak-anak, apa pun kondisi mereka, tetaplah buah hati orang tua mereka, malaikat kecil bagi orang tua mereka. Sehingga, tetap harus diberi cinta.

Untuk itu, saya menekankan kepada para terapis saya untuk melakukan hal yang sama, dengan pendampingan dari orang tua mereka. Sekadar informasi, anak-anak seperti mereka, jika biasa di-massage, akan lebih tenang dan dapat tidur lebih nyenyak. Itu yang saya amati dalam beberapa tahun terakhir ini.

Berbeda dengan anak-anak yang tidak “bermasalah” di mana mereka lebih gampang diajak berkomunikasi dan bermain dulu sebelum di-massage, anak-anak special need biasanya harus melibatkan dua terapis untuk mengatasi jika mereka tantrum. Untuk massage, kami mematok waktu 45 menit, tapi untuk mereka bisa lebih dari dua jam. Tapi, kami tidak meminta orang tua mereka untuk membayar ekstra, itu servis kami.

Demikian pula dengan saat sedang treatment, si anak menangis sementara bak mandi sudah diisi, misalnya. Kalau di tempat lain akan kena charge, tapi tidak di Labatu. Kami akan membiarkan sampai si anak tenang, sekali pun membutuhkan waktu lama.

Perlu diketahui bahwa bayi yang sedang rewel/menangis tidak boleh di-massage, harus ditenangkan dulu. Sebab, jika dipaksakan justru akan trauma. Berkaitan dengan itu, saya tidak bisa membatasi waktu. Karena, membutuhkan kesabaran ekstra. Jadi, bayi yang akan di-treatment idealnya sudah menyusu, makan, atau tidur siang.

Terus terang, business oriented saya bukan di sana. Saya mengatakan kepada suami saya, I Wayan Soma Dirgantara Dinatha, yang sangat men-support saya bahwa di bisnis ini saya tidak berorientasi ke margin profit dulu. Karena, yang ingin saya tawarkan yaitu cinta kepada Ibu, bayi, dan anak-anak. Di sisi lain, bagi Batam yang merupakan wilayah yang baru berkembang, massage untuk bayi dan anak-anak masih sesuatu yang belum perlu.

Bagaimana dengan para terapisnya?

Saat rekrutmen, yang pertama kali saya lihat yaitu senyum mereka. Dalam arti, ikhlas atau tidak. Lalu, saya memberi mereka training selama beberapa bulan. Tapi, kalau pada akhirnya, saya tidak melihat pancaran aura mereka ya mereka tidak bisa bekerja untuk saya. Karena, aura itu munculnya dari dalam.

Pada awal Labatu hadir, saya meng-hire empat konsultan. Termasuk, saya. Seiring berkembangnya waktu, karena para staf senior sudah paham, maka konsultannya tinggal satu. Dia yang menjadi konsultan tetap dan bertugas memberi training, khususnya untuk menangani Ibu hamil.

Selain itu, saya mengikutkan semua terapis saya ke sebuah ujian kompetensi untuk terapis yang diselenggarakan setiap tahun dengan biaya dari Labatu, agar mereka mendapat sertifikat.

Dalam mengelola para staf yang notabene memiliki latar belakang yang berbeda-beda, saya melakukannya dengan cinta. Saya mempunyai staf yang masih remaja, yang saya ambil dari panti asuhan.

Diakui atau tidak, anak-anak yang hidup dengan orang tua mereka berbeda dengan anak-anak yang tidak lagi memiliki orang tua. Untuk mereka yang dari panti asuhan, saya melalukan pendekatan dengan cinta dan kekeluargaan. Untuk itu, saya membuat mereka merasa nyaman seperti dengan Ibu mereka. Kebetulan, begitulah saya diasuh dan dididik oleh kedua orang tua saya, Ketut Adnyana dan Putu Suarni.

Di sisi lain, saya juga CEO (Chief Executive officer) Adhi Jaya Group, perusahaan yang memayungi sebuah hotel milik orang tua saya yang berlokasi di Bali. Di sini, saya menjalankan kepemimpinan sesuai dengan didikan Papa saya yaitu secara kekeluargaan. Sehingga, setiapkali ada masalah, para karyawan saya akan lari ke saya terlebih dulu. Mereka tidak sungkan dengan saya, tapi mereka juga mengetahui sampai sebatas mana kedekatan itu.

Di samping itu, saya juga owner dari Multi Mart Group. Di minimarket ini, saya juga menerapkan gaya kepemimpinan yang sama.

Kembali ke Labatu. Di sini, saya membawahi sekitar 20 staf. Gesekan antara mereka memang tidak dapat dihindarkan. Tapi, saya sangat bersyukur. Karena, leader-leader (para manager) mereka yang saya pasang baik di Labatu Waterfront Harris Hotel Marina maupun Labatu Ruko Kepri Mall bisa merangkul bawahan mereka.

Contoh, kami akan membuat target untuk meningkat revenue dari bulan lalu. Lalu, mereka masing-masing akan berusaha untuk mewujudkan target itu.

Namun, biasanya, yang masih muda agak sulit diatur. Akhirnya, yang tua yang mengalah. Tapi, dalam perkembangannya, yang muda akan sadar diri dan memperbaiki etos kerja mereka. Bahkan, kemudian, mereka merasa bahwa tempat kerja ini perusahaan mereka sendiri.

Saya juga menerapkan reward and punishment. Contoh, salah seorang karyawan saya bertugas sebagai terapis, tapi dia mempunyai passion di akunting. Dia sering merapikan data-data keuangan. Untuk itu, saya memberinya reward berupa bonus gaji.

Sementara untuk punishment, terjadi ketika ada karyawan yang berkali-kali telat datang. Meski sudah diperingatkan, tetap diulangi, akhirnya saya memintanya untuk tidak tinggal lagi di Labatu.

Di luar itu, para karyawan saya terikat kontrak kerja selama dua tahun. Jika ingin keluar sebelum kontrak kerja berakhir, mereka harus mengembalikan biaya training terlebih dulu.

Singkat kata, jika dibandingkan dengan bisnis-bisnis sejenis, Labatu itu komplet. Karena, ada salon serta treatment untuk remaja putri, Ibu hamil, anak-anak, dan bayi.

Di samping itu, Labatu mengutamakan sistem kekeluargaan baik dari saya ke konsumen maupun dari para staf ke konsumen. Secara pribadi, saya juga sering consulting dengan para terapis saya untuk mendalami “kekuatan” mereka. Sehingga, dengan passion, mereka bisa bekerja lebih maksimal. The right person in the right position.

Bagaimana mengatasi persaingan?

Saya welcome for the competition. Yang penting, saya bisa mempertahankan usaha saya dengan lebih bagus, apa yang sedang happening saya masukkan, mencari orang-orang yang bisa mewujudkan hal itu, dan sebagainya. Di sisi lain, saya terus berinovasi. Bisnis kami maintain relationship, bukan bisnis yang sekali jadi seperti di warung makan.

 

Siapa yang paling berperan dalam kehidupan Anda, terutama yang berhubungan dengan Labatu?

Suami saya adalah orang yang paling berperan terhadap hadir dan berjalannya Labatu. Sebab, boleh dikata, Labatu dibangun dengan tangisan. Mengingat, saya harus meninggalkan bayi saya yang baru berumur dua bulan untuk sekolah ke Singapura. Belum lagi, gempuran dari mana-mana yang membuat Labatu jatuh bangun dan saya ingin mundur.

Saya tipikal pekerja yang tidak berani mengambil risiko-risiko dalam bisnis. Apalagi, saya sarjana hukum dari Universitas Atmajaya, Yogyakarta, dan Martin College, Sydney, Australia. Sementara latar belakang pekerjaan saya di bidang perhotelan. Artinya, saya sama sekali tidak mempunyai latar belakang bisnis.

Tapi, suami saya yang pebisnis sejati mengetahui jika Labatu ini sebuah peluang. Jadi, dia meminta saya untuk maju terus. Dan, ketika ada banyak permintaan, ya, saya melihat ini sebuah peluang.

Selain suami, kedua orang tua saya yang membangun mental saya sejak kecil. Tapi, dalam berbisnis, Papa saya mengajarkan bila mengalami kejatuhan dalam bisnis itu tidak apa-apa. Anggap saja suatu proses. Sedangkan suami saya menekankan jika jatuh, maka saya harus mengambil pelajaran dari sana, apa yang harus diperbaiki.

Terus-terang, saya mencintai bisnis ini. Bukan dari omset yang saya terima, melainkan membuat saya bersemangat setiap harinya. Namun, keluarga tetaplah nomor satu. Suami saya berpesan, “Mami mau bisnis apa saja silahkan, tapi anak-anak tetap nomor satu”. Itu yang saya pegang sampai sekarang. Untuk itu, saya harus pandai mengatur waktu.

 

Rencana ke depan?

Saya ingin me-Labatu-kan Indonesia dengan sistem franchise. Saat ini, saya sedang merapikan sistemnya.

Prospeknya?

Bagus. Karena, selama masih ada Ibu yang hamil, mempunyai bayi dan anak-anak, serta ada gadis-gadis remaja yang doyan dandan, maka bisnis semacam ini akan terus ada. Apalagi, saat ini sudah menjadi lifestyle dan kebutuhan.

 

Check Also

Sukses Membangun Kerajaan Bisnis dengan Telaten Merangkai Jaringan

Onny Hendro Adhiaksono (PT Trimatra Group) Dalam bisnis, selain modal, jaringan dan skill mempunyai peran …