Home / Senggang / LifeStyle / This is The Future Business

This is The Future Business

Organic & Natura

 

Makanan dan minuman yang sehat itu mahal, serta susah diperoleh. Tapi, sakit itu jauh lebih mahal. Jadi, lebih baik jika kita me-maintain dengan gaya atau pola hidup sehat. Untuk memfasilitasi orang-orang yang ingin hidup sehat, termasuk dirinya sendiri dan keluarga, Aha membuka Organic & Natura. Dan, pelan namun pasti, outlet-outlet ini pun dikunjungi banyak konsumen dan diminati untuk diwaralabakan

 

[su_pullquote]Dari sisi pengunjung, saya melihat adanya kebutuhan akan keberadaan toko organik semacam Organic & Natura untuk anak-anak, orang tua, maupun diri mereka sendiri[/su_pullquote]

e-preneur.co. Sakit itu mahal. Tapi, sakit dapat pula mengubah kehidupan seseorang. Setidaknya, itulah yang terjadi pada Aha.

Sang Ayah yang meninggal karena stroke dan dia yang pernah mengalami kolesterol tinggi, membuatnya beralih ke gaya hidup sehat yang diawali dengan menjadi vegetarian pada tahun 1999.

Namun, titik baliknya terjadi pada tahun 2008. Saat itu, dia mulai berkenalan dengan pupuk hayati yang membuatnya banyak bertemu langsung dengan para petani, hampir di seluruh Jawa. Di situlah, dia melihat secara langsung efek negatif dari penggunaan pestisida dan pupuk kimia di lahan pertanian dan perkebunan di Tanah Air.

Kondisi ini, ditambah dengan sang Kakak yang terkena (dan akhirnya meninggal) kanker lever. Sehingga, apa pun yang berhubungan dengan kimia tidak boleh masuk ke dalam tubuhnya.

Akhirnya, keluarganya berbelanja semua bahan organik yang dalam sehari bisa menghabiskan Rp200 ribu–Rp300 ribu. “Pada tahun 2011, saya dan keluarga memutuskan untuk sebisa mungkin beralih ke makanan organik. Minimal, yang natural (tanpa bahan pengawet, pewarna buatan, dan penguat rasa/MSG, red.),” kisahnya.

Lantas, berlanjut dengan mencoba membuka toko Organic & Natura di Pasar Modern Bintaro Sektor 7, pada July 2011, agar bisa membantu banyak orang untuk hidup sehat. Walau, tidak mudah. Karena, harus terus mengedukasi pasar.

“Saat itu, orang-orang hanya lewat. Jarang sekali yang berkunjung. Sehingga, stok sayuran, kami habiskan sendiri di rumah. Di sisi lain, kami cuma memiliki satu kulkas kecil. Padahal, sayuran organik jika diletakkan dalam suhu ruang cepat layu,” lanjutnya.

Supaya bisnisnya bisa terus bergulir, sayuran yang tersisa dia buat menjadi minuman kesehatan. “Saya berusaha memilih beberapa bahan baku yang saya ketahui ada khasiatnya dan membuatnya lebih praktis dikonsumsi. Misalnya, ubi ungu yang mengandung antioksidan tinggi,” ujarnya.

Minuman kesehatan dengan brand freO (Fresh & Organic) tersebut, mencakup susu kedele organik, kacang hijau, ubi ungu, wijen hitam, dan beras hitam. Untuk membelinya, konsumen bisa mengunjungi Organic & Natura di Pasar Modern Bintaro atau Pasar Modern Bumi Serpong Damai (BSD).

“Kami melayani delivery (dengan mengirim e-mail ke Custcare@organicnatura.com), dengan minimal order Rp50 ribu. Tapi, hanya untuk lingkup BSD dan Bintaro. Karena, produk kami tidak menggunakan pengawet dan fresh. Dalam arti, produk ini hanya bertahan tiga hari di dalam kulkas, sedangkan dalam suhu ruang hanya bertahan setengah hari,” ungkapnya.

Dalam sehari, di tempat tinggalnya, Aha memproduksi minuman kesehatan ini sekitar 300–500 cup dan sejauh ini setiap kali berproduksi selalu terjual. “Dibandingkan dengan produk sejenis yang meski tidak diembeli-embeli minuman kesehatan, freO lebih unggul dalam rasa. Mengingat, bahan bakunya organik dan semua ingredient-nya natural atau tanpa penambahan bahan perasa sedikit pun, serta dalam berproduksi menggunakan air suling. So far, orang-orang mengatakan rasanya oke,” tambahnya.

Namun, tidak berarti tidak ada lagi kendala bisnis. “Toko saya ‘kan mirip dengan jaringan minimarket yang ada saat ini, tapi berbeda dalam produk. Untuk itu, saya harus mem-built up sebuah sistem. Kedua, human resources-nya tidak mudah. Karena, di toko saya ada unsur edukasi. Ketiga, masalah permodalan. Karena, jika dikembangkan dengan benar/secara profesional seperti yang mereka lakukan, hasilnya pasti luar biasa,” jelasnya.

Sedangkan dari sisi harga, ia melanjutkan, ada pasar yang menganggapnya lebih mahal daripada produk pada umumnya, tapi ada juga yang bisa memaklumi. “Menurut saya, ini hanya masalah demand and supply. Kalau nantinya semakin banyak orang yang mencari produk natural, cost dapat ditekan dan harga menjadi murah,” imbuhnya. Sementara dari sisi produk, karena organik, jadi tidak bisa tahan lama. Imbasnya, penyebarannya berkejaran dengan daya tahan produk.

Prospeknya? “Dari pertama kali saya membuka toko ini hingga saat ini, dari sisi pengunjung, saya melihat adanya kebutuhan akan keberadaan toko organik untuk anak-anak, orang tua, maupun diri mereka sendiri. Di sisi lain, kini, orang-orang mulai beralih ke gaya hidup sehat. Jadi, secara prospek luar biasa,” pungkas Aha, yang ke depannya akan membuka bakery dan menawarkan franchise.

 

Check Also

Ketika Para Perantau Kangen dengan Kampung Halamannya

Bubur Samin Bubur Samin bukanlah makanan tradisional Solo, tapi menjadi menu takjil yang ikonik di …