Home / Senggang / Resto Area / Oleh-oleh Khas Balikpapan

Oleh-oleh Khas Balikpapan

Abon Kepiting

 

Bermula dari sekadar memanfaatkan potensi sumber alam lokal yang berlebihan, Ansori berhasil menjadikan abon kepitingnya sebagai makanan khas Balikpapan dan sebuah bisnis oleh-oleh, yang boleh dikata, tanpa pesaing yang telah merambah provinsi-provinsi lain

 

[su_pullquote]Bonting terbagi menjadi rasa original dan rasa bumbu, serta dikemas dalam kemasan kotak karton dengan bobot 50 gr, toples plastik berbobot 100 gr, dan composite can berbobot 200 gr[/su_pullquote]

e-preneur.co. Sumber daya alam yang melimpah bisa menjadi berkah, bisa pula menjadi “musibah”. Seperti yang terjadi di Manggar, sebuah kelurahan di Balipapan Timur.

Sebagai “lumbungnya” kepiting, di sini banyak pengepul binatang bercapit itu. Setelah proses pemilahan dan pemilihan, para pengepul membagi kepiting-kepiting itu menjadi yang bagus untuk pasar ekspor dan yang kurang bagus untuk pasar lokal. Tapi, karena jumlah kepitingnya sangat banyak, pasar lokal pun membludak.

“Pada mulanya, saya bergerak dalam usaha pemasokan daging kepiting ke berbagai perusahaan. Lama-kelamaan, saya berpikir bahwa menjadi pemasok tidak mempunyai masa depan. Dan, kedua hal tersebut di atas membuat saya berpikir untuk membuat produk olahan daging kepiting,” tutur Ansori.

Kalau kemudian yang dipilih abon kepiting, ia melanjutkan, karena suatu hari perusahaan yang dipasok mengatakan bahwa kualitas daging kepitingnya kurang bagus dan dikembalikan sebanyak tiga koli. “Saya bingung, daging kepiting sebanyak itu dimakan tidak akan ada habisnya, diberikan ke para karyawan juga masih tersisa banyak. Tidak sengaja terucap kepada para karyawan, agar daging-daging kepiting itu tahan lama, cobalah kalian membuat abon,” kisah sarjana kehutanan dari Universitas Mulawarman, Samarinda, ini.

Sesudah itu, ia tidur. Ternyata, apa yang ia ucapkan, didengar dan dikerjakan para karyawannya yang berasal dari berbagai suku, di antaranya Jawa, Banjar, dan Bugis. Mereka mencoba membuat abon kepiting sesuai dengan daerah asal mereka.

Contoh, yang berasal dari Jawa membuat abon kepiting yang sekarang dikenal sebagai rasa original, sementara yang berasal dari Banjar dan Bugis membuat abon kepiting yang sekarang dikenal sebagai abon kepiting bumbu. “Malamnya, pas bangun tidur, istri saya meminta saya untuk mencicipi. Ternyata enak,” lanjutnya.

Tahun 2006, Balikpapan membuat festival makanan khas Balikpapan. Ansori mengikutsertakan abon kepitingnya dan meraih juara pertama, serta dinobatkan sebagai makanan khas Balikpapan. Setahun kemudian, ia menjadikannya sebagai bisnis dengan merek Beruang Madu.

“Awalnya, saya menggunakan rajungan dan Kepiting Bakau. Tapi, karena rajungan tidak selalu ada, tergantung musim, akhirnya saya menggunakan Kepiting Bakau yang selalu ada. Saya juga tidak menggunakan Kepiting Kenari, lantaran harganya mahal,” ungkap kelahiran Rembang, 29 Agustus 1975 ini.

Abon kepiting, ia menjelaskan, merupakan abon yang terbuat hanya dari daging kepiting, tidak termasuk cangkang-cangkangnya. “Karena itu, prosesnya rumit. Mengingat, harus memisahkan daging kepiting dari cangkangnya terlebih dulu, sebelum diolah. Dari 5 kg–7 kg kepiting segar, setelah diambil dagingnya hanya tersisa 1 kg dan setelah diolah cuma menjadi 3,5 ons abon. Sehingga, jika dikaitkan dengan proses produksinya, harga abon kepiting yang kami jual murah sekali,” ujarnya.

Ansori menjual abon kepitingnya yang terbagi menjadi rasa original dan rasa bumbu dalam tiga kemasan yaitu kemasan kotak karton dengan bobot 50 gr, toples plastik berbobot 100 gr, dan composite can berbobot 200 gr. Abon kepiting ini, dipasarkan secara ritel dan dititipkan ke beberapa toko di Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan, secara konsinyasi.

Untuk mereka yang berada di luar kedua provinsi itu, dapat memesannya melalui www.abonkepiting.com. “Kalau memesan minimal 100 pieces, maka harganya akan disamakan dengan harga reseller,” katanya.

Namun, sekali pun sudah dinobatkan sebagai makanan khas Balikpapan, pada mulanya orang-orang tetap tidak mengetahuinya. Dampaknya, abon bertekstur kasar ini sama sekali tidak laku. Tapi, berkat liputan media nasional, abon kepiting terangkat hingga meledak bukan dari sisi produksi saja, melainkan juga dari sisi mereka yang “bermain” di makanan ini.

“Saat abon kepiting mengalami booming, banyak orang yang berbisnis abon kepiting. Saking banyaknya, membingungkan konsumen yang ingin mengetahui mana abon kepiting yang perintis dan mana yang pengikut. Akhirnya, saya berpikir untuk membuat brand dan lahirlah Bonting yang merupakan kependekan dari abon kepiting. Kini, semua produk saya menggunakan brand Bonting, sekali pun tidak terbuat dari kepiting,” ucapnya.

Sementara dari sisi kapasitas produksi, setiap hari, Ansori yang dibantu 20 karyawannya memproduksi lebih dari 70 kg abon kepiting yang setidaknya dalam tempo dua hari sudah tandas diserap pasar. Sedangkan saat menjelang lebaran, kapasitas produksi bisa melonjak hingga 100%, bahkan 200%.

Namun, ia melanjutkan, jumlah kepiting di Balikpapan mulai berkurang. Mengingat, banyak investor dari daerah lain yang mengolah kepiting soka di mana kepiting-kepiting ini masih sangat kecil dan dipaksa untuk molting, sehingga dapat dimakan secangkang-cangkangnya.

Karena, kepiting-kepiting itu masih sangat kecil yang notabene belum sempat berkembang, maka lama-kelamaan kepiting-kepiting itu akan habis. “Kalau ini terjadi, saya akan mencari kepiting ke daerah lain. Di sisi lain, saya sudah mengadu ke pemerintah kota dan kementerian terkait agar dibuat suatu peraturan tentang ini,” ungkapnya.

Prospeknya? “Saya kok melihat dari tahun 2006 sampai sekarang, produksi saya semakin lama semakin banyak. Artinya, pasarnya bagus, kan? Terutama untuk pasar Jakarta,” pungkasnya.

 

Check Also

Ketika Para Perantau Kangen dengan Kampung Halamannya

Bubur Samin Bubur Samin bukanlah makanan tradisional Solo, tapi menjadi menu takjil yang ikonik di …