Home / Kiat / Mempertahankan Pelanggan dengan Kesederhanaan Menu

Mempertahankan Pelanggan dengan Kesederhanaan Menu

Nasi Uduk Babe Saman

 

Masalah makanan berarti masalah lidah. Jadi, bukan masalah asli atau tidak, melainkan enak atau tidak rasa masakannya. Dan, yang enaklah yang pasti akan banyak pengunjungnya. Setidaknya, prinsip inilah yang dipegang teguh Zainal dengan Nasi Uduk Ayam Goreng Babe Saman-nya, yang tetap membuat nasi uduk senikmat mungkin dari resep warisan Babenya. Imbasnya, pengunjung pun tidak mau berpaling darinya

 

[su_pullquote]Nasi Uduk Ayam Goreng Babe Saman mempertahankan kesederhanaan menu dari dulu hingga sekarang[/su_pullquote]

e-preneur.co. Pedagang kakilima (PKL) tidak bisa dipandang sebelah mata. Karena, meski mereka sering “bentrok” dengan para petugas Satpol PP (Satuan Polisi Pamong Praja) dan “menyabot” badan jalan khusus untuk pejalan kaki (trotoar), tapi banyak dari mereka yang pada akhirnya berhasil menjadi juragan kaya raya.

Tengok saja, Zainal Arifin. Pada awalnya, ia hanya melanjutkan usaha yang telah susah payah dibangun oleh sang Ayah, seorang penjual nasi uduk yang membuka usahanya di sebuah rumah petak di pinggir jalan. Lantas, sebagai generasi kedua, ia membawa sukses dengan menjadikan Nasi Uduk Ayam Goreng Babe Saman terkenal hingga ke Banjarmasin.

“Ayah saya yang akrab dipanggil Babe Saman, yang membangun usaha ini dari nol. Nah, sebagai anaknya, sebenarnya saya tinggal melanjutkan saja. Begitu pun dengan saudara-saudara saya yang lain, yang juga ikut mengelola usaha ini,” tutur Zainal.

Usaha ini, ia melanjutkan, bermula dari keputusan Babe Saman membuka warung nasi uduk kecil-kecilan pada tahun 1963. Layaknya sebuah usaha yang baru dirintis, pahit getir dalam menjalankan roda usaha merupakan hal yang tidak bisa dihindari. Seperti, digusur oleh aparat trantib (ketentraman dan ketertiban) hingga persaingan antara sesama pedagang nasi uduk.

“Saya dan saudara-saudara saya memang tidak terlalu merasakan bagaimana susahnya membangun usaha ini. Tapi, kami tetap memutar otak agar usaha ini tidak runtuh di tangan generasi kami,” katanya.

Masalah “kejar-kejaran” dengan petugas satpol PP, memang tidak terjadi lagi terhadap para pedagang nasi uduk di kawasan Kebon Kacang, Jakarta Pusat, ini. Sebab, lokasi ini bagian dari gedung pasar. Jadi, tidak mungkin digusur, kecuali ada pembangunan atau renovasi. Sehingga, Zainal pun tidak perlu merasa kuatir.

“Soal penggusuran pernah mengalami sekali yaitu pada awal Ayah saya membuka warung. Lokasinya kurang lebih 100 m dari tempat ini. Setelah peristiwa itu, kami pindah ke sini pada tahun 1984 hingga sekarang,” kisahnya.

Namun, ia tetap harus menghadapi masalah persaingan antara sesama pedagang nasi uduk yang kian ketat. Sekadar informasi, kini, kawasan Kebon Kacang telah dipenuhi puluhan pedagang nasi uduk yang menyajikan menu sejenis. Untuk itu, Zainal harus berstrategi bagaimana membuat Nasi Uduk Ayam Goreng Babe Saman bisa tetap berjalan.

Untuk mempertahankan usaha yang juga sudah tersebar hingga Riau itu, ternyata Zainal hanya mengandalkan kesederhanaan menu-menu yang sudah dihadirkan sejak Nasi Uduk Ayam Goreng Babe Saman dibuka. Ia merasa cukup dengan cuma membuat nasi uduk ayam goreng senikmat mungkin, sesuai dengan resep turunan dari sang Ayah.

“Mengapa takut dengan banyak orang yang mengklaim warung nasi uduk mereka yang asli. Bagi saya, yang penting laku. Selama pelanggan masih suka dengan resep nasi uduk Babe Saman, urusan asli atau bukan itu tidak penting. Toh, akhirnya, pelanggan sendiri yang menilai nasi uduk mana yang enak,” tegasnya.

Dan, ucapannya memang terbukti. Pelanggan Nasi Uduk Ayam Goreng Babe Saman tidak hanya didominasi generasi sepuh yang saat Zainal masih kecil setia berkunjung, tapi kini juga disinggahi oleh kaum muda.

Padahal, menunya hanya terdiri dari nasi uduk yang dibungkus daun pisang, lalu dibentuk kerucut. Sementara semua lauk pauknya digoreng, seperti ayam goreng dan jeroannya (hati, ampela, usus dan jantung), babat, empal, dan paru sapi, serta udang. Sedangkan menu tambahannya, cuma Asinan Betawi.

Untuk sambal yang menjadi primadonanya, juga tidak banyak berubah dari dulu hingga sekarang yaitu sambal kacang. Kalau pun ada penambahan menu (yang dilakukan pada tahun 1990-an, red.), cuma berupa sambal goreng, serta tahu dan tempe goreng. Sedangkan minumannya, Zainal hanya menyediakan teh dan jeruk yang bisa dipesan dingin atau hangat.

“Saya tidak tertarik menyediakan menu baru. Saya tetap mempertahankan kesederhanaan. Sederhana saja tetap dicari orang, kan?” ujarnya.

Setiap hari, Zainal dengan dibantu para karyawannya mesti menyiapkan 100 ekor daging ayam berikut jeroannya untuk dijajakan pukul 17.00−24.00. Tapi, biasanya, sebelum jam tutup warung, semua menu sudah habis terjual dan para pelanggan yang kehabisan terpaksa gigit jari.

“Nasi uduk yang biasanya paling cepat habis. Dan, kalau sudah habis, meski lauk masih tersedia, biasanya pelanggan langsung pergi,” katanya.

Imbasnya, omset ratusan juta pun dibukukan setiap bulannya. Sebuah angka yang terbilang fantastis untuk ukuran PKL. Kesimpulannya, meski cuma berdagang nasi uduk di pinggir jalan, ternyata mampu mengantarkan seorang Zainal Arifin menjadi pengusaha sukses.

 

Check Also

“Naik Kelas” dengan Mengganti Gerobak Dorong dengan Outlet Permanen Berkonsep Restoran

Bakmi Gila Usaha kakilima banyak diminati para pelaku usaha. Selain itu, konsep PKL mempunyai potensi …