Home / Senggang / Resto Area / Enak Dipandang, Nikmat Disantap

Enak Dipandang, Nikmat Disantap

Lezzatos Cake & Chocolate

 

Cake 3D sudah dikenal dengan baik di Jakarta, tapi belum di Medan. Maka, Hendra dan Aurora melalui usaha mereka yang diberi nama Lezzatos Cake & Chocolate membawa kue yang setiap bagiannya dapat dimakan, selain juga sedap dipandang ini, ke Ibukota Sumatra Utara itu. Sehingga, peminatnya tidak perlu repot harus ke Jakarta

 

[su_pullquote]Seperti namanya, kue Lezzatos Cake & Chocolate tidak hanya enak dipandang tapi juga nikmat disantap[/su_pullquote]

e-preneur.co. Saat ini, tampilan kue tidak lagi monoton. Seperti, kue buatan pasangan suami istri (pasutri) M. Hendra Nugraha dan Aurora Azura di mana disesuaikan dengan keinginan konsumen. Bukan cuma itu, melainkan semua bagian kue yang bisa dimakan ini juga enak dipandang dan nikmat disantap seperti namanya, Lezzatos Cake & Chocolate.

Hendra dan Aurora merintis usaha ini pada tahun 2008, saat melihat ada peluang untuk memulai eatable photo. “Kami melihat kue semacam ini di Jakarta. Lalu, kami menawarkannya di Medan di mana kue yang ada ditambahi foto. Sementara fotonya, menggunakan tinta makanan dan kertas yang kami ambil dari Jakarta. Karena, di Medan belum ada,” kisah Aurora.

Untuk membuat cake-nya tidaklah sulit. Sebab, seperti membuat bolu biasa dengan bahan dasar tepung, telur, gula, mentega, dan lain-lain. Tapi, menjadi sulit dan mahal ketika melangkah ke proses carving atau “memahat”.

Menurut Hendra, membutuhkan waktu berjam-jam untuk “memahat” satu kue saja agar seperti aslinya. “Misalnya, ketika ‘membuat’ tas ya harus benar-benar seperti tas. Ini yang membuat konsumen suka. Banyak konsumen memberikan testimoni tentang hasil karya ini,” timpal Hendra.

Untuk itu, mereka menjual cake 3D ini dengan harga sekitar Rp600 ribu–Rp900 ribu. Harga ini, sempat menjadi perdebatan. Karena, harga pembuatan kue dengan model tas bermerek, misalnya, sama dengan harga tas aslinya.

“Banyak yang bilang kok harganya mahal. Kami pun mengedukasi konsumen tentang betapa rumitnya proses carving-nya. Setelah dijelaskan, konsumen bisa mengerti,” ungkapnya.

Sementara untuk menjaga kesehatan pembeli, mereka tidak menggunakan satu bahan pengawet pun. Alhasil, kue hanya bertahan selama tiga hari. Imbasnya, mereka terkendala untuk mengembangkan usaha ini ke luar provinsi. “Ke depannya, kami ingin menemukan produk pendukung tahan lama. Setidaknya, bisa tahan lima hari,” ujarnya.

Sedangkan dalam pemasarannya, pasutri yang sama-sama arsitek dari Universitas Sumatera Utara ini memilih menggunakan jejaring sosial dengan sistem by order. Untuk itu, bagi yang ingin memesan bisa meng-klik di facebook atau datang langsung ke kawasan AR Hakim, Medan. Hal ini, bukan tanpa alasan. Hendra ingin produk yang dibawa pulang konsumen masih fresh.

“Prosentase pelanggan 90% dari online, sisanya dari mulut ke mulut. Seperti, yang sudah pernah membeli, memberi tahu temannya. Lalu, kalau lokasi mereka dekat dengan rumah kami, mereka akan datang ke rumah kami. Ada juga yang menelepon, lantas menjabarkan model yang diinginkan,” pungkas Hendra, yang ingin mengembangkan usaha ini tidak sebatas cake saja, tapi sebuah bisnis kuliner.

 

Check Also

Ketika Para Perantau Kangen dengan Kampung Halamannya

Bubur Samin Bubur Samin bukanlah makanan tradisional Solo, tapi menjadi menu takjil yang ikonik di …