Home / Senggang / Jalan-Jalan / Batik Brebes yang Digemari Masyarakat Mancanegara

Batik Brebes yang Digemari Masyarakat Mancanegara

Batik Salem

 

Batik Solo, Yogyakarta, atau Pekalongan tentu Anda sudah pernah mendengarnya, bahkan memakainya. Tapi, bagaimana dengan Batik Salem? Batik khas Brebes ini tidak kalah cantiknya lho dari batik-batik yang sudah kita kenal. Untuk mendapatkannya, Anda pun tak perlu repot harus ke Brebes, melainkan cukup memesannya secara online

 

[su_pullquote]Batik Brebesan menggunakan sistem pencelupan satu warna demi satu warna dan menggunakan pewarna alam[/su_pullquote]

e-preneur.co. Bila berbicara tentang batik, maka yang terlintas dalam ingatan Solo, Yogyakarta, atau Pekalongan. Padahal, di Brebes, tepatnya di Kecamatan Salem, juga terdapat batik yang dikenal dengan Batik Brebesan atau Batik Salem yang tidak kalah cantiknya dengan batik-batik yang dihasilkan oleh Kota-kota Batik tersebut di atas.

Menurut Warwin Sunardi, yang sudah menekuni usaha Batik Salem lebih dari 30 tahun, dilihat dari bahan bakunya, Batik Salem sama dengan Batik Solo, Yogyakarta, Pekalongan, dan batik-batik di kota-kota yang lain. Tapi, dalam proses pewarnaan dan sistem pencelupannya ternyata ada perbedaan.

“Batik Brebesan menggunakan sistem pencelupan satu warna demi satu warna. Maksudnya, usai dilakukan pewarnaan dengan satu warna, maka kain batik dikeringkan dulu langsung di bawah sinar matahari. Setelah kering, dilakukan pewarnaan berikutnya. Demikian seterusnya (rata-rata menggunakan tiga warna yang berbeda, red.). Sehingga, untuk menghasilkan selembar kain baik yang berukuran 2,25 meter maupun 1,15 meter saja membutuhkan waktu 10−25 hari,” jelas Warwin.

Meski begitu, Anda tidak perlu kuatir tidak akan menjumpai Batik Salem ketika berkunjung ke Kompleks Pasar Bentar, Desa Bentar, Kecamatan Salem, Brebes, Jawa Tengah, ini. Sebab, kawasan ini merupakan Sentra Batik Brebesan atau Batik Salem.

Di sini, terdapat 450 pengrajin Batik Salem di mana enam di antaranya menangani bagian produksi. Secara bersama-sama, mereka menghasilkan 3.000 potong kain di mana 2.500 di antaranya diserap pasar dalam negeri, sedangkan sisanya dijadikan persediaan di masing-masing toko. Sehingga, di antara mereka tidak ada persaingan. Justru, saling mengisi persediaan.

Warwin sendiri, selain berproduksi dan menjualnya melalui tokonya (Mitra Batik) dan toko putranya (Rumah Batik Just 2), juga menerima pesanan secara online melalui facebook “Rumah Batik Aan Darwati”. “Untuk Batik Brebesan dengan warna-warna ngejreng, kami menjualnya dengan harga mulai dari Rp175 ribu. Sedangkan untuk warna dan motif klasik, kami mematok mulai dari harga Rp250 ribu,” katanya.

Sekadar informasi, Batik Salem klasik didominasi oleh warna cokelat dan hitam. Sedangkan motifnya sangat khas, seperti Kopi Pecah, Ukel Kangkung, Sawat Rante, Uneg, Manggaran, Ukel Pisang Bali, dan Sidomukti Ukel. Di samping itu, Batik Salem diwarnai dengan pewarna alami.

Dalam pemasarannya, Warwin sudah “melempar” Batik Salem-nya ke Jakarta, Bogor, Bandung, Purwokerto, Tegal, Blitar, Ngawi, Riau, Batam, serta beberapa kota di Papua dan Sulawesi. Sementara di mancanegara, diminati oleh penduduk Malaysia, Singapura, Thailand, dan Korea.

“Kami memperkenalkannya melalui para tenaga kerja wanita (TKW) yang bekerja di sana. Untuk itu, setiap bulan kami mengirimkan 100−200 potong kain ke negara-negara tersebut,” ujarnya.

Secara bisnis, tentu saja Batik Salem sudah bisa diacungin jempol. Tapi, para pengrajinnya masih belum puas. Mengingat, masih merasa tertinggal dibandingkan dengan batik di kota-kota lain. Terutama, dari sisi kapasitas produksi. Sehingga, belum berani bersaing.

“Kami ingin pemerintah memberi kami kesempatan untuk melakukan studi banding ke sentra-sentra batik di kota-kota lain. Di samping itu, kami juga ingin adanya bantuan peralatan berupa canting dan kompor gas. Sehingga, kami bisa berproduksi lebih banyak lagi,” pungkasnya.

 

Check Also

Ketika Para Perantau Kangen dengan Kampung Halamannya

Bubur Samin Bubur Samin bukanlah makanan tradisional Solo, tapi menjadi menu takjil yang ikonik di …