Home / Kiat / Eksis dengan Mempertahankan Rasa dan Tekstur

Eksis dengan Mempertahankan Rasa dan Tekstur

Jenang Tradisional Ponorogo Teguh Rahardjo

 

Tak lekang oleh waktu. Begitulah makanan tradisional, termasuk Jenang Ponorogo. Apalagi, seiring dengan perkembangan zaman, untuk mendapatkannya tidak perlu harus datang ke Ponorogo, tapi bisa dengan cara memesan dan nantinya dikirimkan ke tempat tujuan

 

[su_pullquote]Untuk menjaga citarasa jenang, saya masih menggunakan alat tradisional[/su_pullquote]

e-preneur.co. Hampir sebagian Masyarakat Jawa Timur, khususnya Ponorogo dan sekitarnya, menyajikan jenang untuk tetamu di hari-hari istimewa, seperti lebaran, natal, tunangan, dan pernikahan menjadi sebuah keharusan. Demikian pula, membawakan jenang untuk calon besan.

Tradisi turun-temurun yang sarat akan makna di dalamnya itu, menjadi semacam representasi akan rasa sayang dan saling berbagi. Karena itulah, jenang menjadi begitu lekat dengan kehidupan masyarakat setempat.

Selama ini, jenang identik dengan Kudus dan Garut. Padahal, Ponorogo pun memilikinya. Di kota yang terkenal dengan kesenian dan tradisinya ini, jenang yang dijual merupakan jenang tradisional yang dibuat secara turun-temurun. Sehingga, rasa dan aromanya melekat kuat.

“Dalam menjaga citarasa jenang, saya masih menggunakan alat tradisional. Tapi, untuk beberapa prosesnya, saya juga menggunakan alat moderen agar lebih praktis dan cepat. Sedangkan resep yang kami pakai merupakan resep turun-temurun. Karena itu, jenang kami memiliki citarasa yang berbeda dengan jenang-jenang lainnya,” ungkap Sri Harijati, pemilik perusahaan Jenang Tradisional Ponorogo Teguh Rahardjo (baca: Jenang Teguh Rahardjo, red.).

Menurut Sri, jenang tradisional Ponorogo umumnya tidak menggunakan pengawet. Karena itu, usia jenang tidak bisa lama. Hal ini, bisa menjadi kendala sekaligus solusi untuk mengenalkan produknya di masyarakat luas.

“Sebenarnya, jenang tersebut bisa saja dibuat tahan lama dan teksturnya dibuat lebih padat, dengan menambahkan bahan pengawet di dalamnya. Tapi, saya berusaha menghindari pengawet. Karena, ternyata berpengaruh besar terhadap rasa,” jelas Sri, yang saat ini dibantu sekitar 25 pegawai.

Dalam memproduksi jenang tradisional ini, ia lebih memilih bermain aman yaitu menganalisa terlebih dulu hari pasarannya. Ya, di awal berdirinya, Sri dan Kakeknya tidak membuat jenang setiap hari, tapi mengikuti hari pasaran. Biasanya, mereka berjualan di selatan Pasar Legi.

“Kala itu, kami juga kerap mendapat pesanan jenang tradisional tiga jenis, untuk kepentingan seserahan atau hantaran pengantin. Karena sudah dikenal sebagian masyarakat di sini, Alhamdulillah pemasaran produk kami tidak mengalami kesulitan. Untuk melayani konsumen dari luar kota, kami juga siap. Hingga saat ini, pengiriman jenang terjauh sudah menjangkau Bali, Kalimantan, dan Sumatra,” kenang perempuan, yang sudah sejak tahun 1973 berkutat di bisnis jenang tradisional ini, meneruskan usaha sang Kakek.

Dari pengakuan konsumen yang kerap membeli Jenang Teguh Rahardjo, ada perbedaan mencolok antara jenang buatan Sri ini dengan jenang-jenang yang lain. Perbedaan itu, terletak pada rasa dan teksturnya.

Rasanya yang khas, menurut mereka, mengingatkan masa lalu. Hal inilah, yang membuat harga Jenang Teguh Rahardjo yang dibanderol Rp10 ribu−Rp15 ribu, lebih mahal dibanding merek lain.

Disinggung mengenai jumlah bahan baku yang digunakan, Sri mengaku, ia membutuhkan tepung beras dan ketan sebanyak 0,5 kw pada hari-hari biasa. Sementara menjelang hari-hari istimewa, seperti idul fitri, natal, dan bulan besar di mana banyak hajatan, ia membutuhkan bahan-bahan itu hingga 1 kw.

“Biasanya, saat memasuki hari raya dan tahun baru, permintaan meningkat,” pungkas Sri, yang selain membuat jenang tradisional (jenang ketan, jenang beras, dan wajik), juga memproduksi jenang rasa buah seperti jenang rasa waluh, pisang, nanas, tape, tomat, mangga, sirsak, dan lain-lain.

Sri yang membuka outlet di rumahnya, selain juga memiliki toko oleh-oleh di dekat Alun-alun Ponorogo ini, menjamin jika semua bahan yang digunakan untuk membuat jenang rasa buah merupakan buah-buahan asli dan tidak menggunakan pengawet.

 

Check Also

“Naik Kelas” dengan Mengganti Gerobak Dorong dengan Outlet Permanen Berkonsep Restoran

Bakmi Gila Usaha kakilima banyak diminati para pelaku usaha. Selain itu, konsep PKL mempunyai potensi …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *