Home / Agro Bisnis / Harganya Membuat Tergagap-gagap

Harganya Membuat Tergagap-gagap

Ayam Ketawa

 

Sebenarnya, Ayam Ketawa hanyalah ayam kampung khas Sulawesi Selatan. Statusnya yang berubah dari ayam liar, menjadi ayam aduan, hingga akhirnya ayam hias membuatnya sangat mahal. Tapi, ternyata “pasarnya” baru 4%. Apa pasal?

[su_pullquote]Baru sehari keluar dari cangkangnya, anakan Ayam Ketawa yang belum diketahui jenis kelamin dan suaranya pun sudah dapat dijual dengan harga Rp300 ribu/ekor di tingkat peternak dan Rp800 ribu/ekor di tingkat pedagang[/su_pullquote]

e-preneur.co. Ketawa itu sehat. Itu berarti, orang yang masih bisa ketawa adalah orang yang sehat.

Hal ini, tentu saja berhubungan pula dengan segala sesuatu yang bisa membuat orang ketawa. Ambil contoh, Ayam Ketawa yang mampu “menyehatkan” pundi-pundi keuangan pedagangnya atau setidaknya peternaknya.

Sebab, baru sehari keluar dari cangkangnya, anakan Ayam Ketawa yang belum diketahui jenis kelamin dan suaranya, sudah dapat dijual dengan harga setidaknya Rp300 ribu/ekor. Tapi, itu harga peternak. Sedangkan pedagangnya, bisa menjualnya dengan harga minimal Rp800 ribu/ekor!

Lho, kok bisa? Tentu, itu pertanyaan yang muncul.

Begini ceritanya. Ayam Ketawa merupakan ayam yang berasal dari Sidrap, Sulawesi Selatan. Ia mengeluarkan suara atau berkokok mirip orang yang sedang ketawa ngakak.

Pada awalnya, ayam yang di daerah asalnya disebut Manu Gaga (Makassar: Manu = ayam, Gaga = gagap, red.) ini hanyalah ayam kampung biasa, yang hidup dan berkembang biak secara alamiah di habitatnya. Lalu, anggota keluarga unggas ini ditangkap dan dijadikan binatang peliharaan para Bangsawan Bugis.

Lantas, sekitar tahun 2006, ayam yang memiliki postur tinggi besar ini diternakkan, untuk dijadikan ayam aduan oleh sebagian Masyarakat Makassar. Tapi, empat tahun kemudian, ia dilombakan dan berubahlah statusnya menjadi ayam hias.

Dalam lomba itu, kokok Ayam Ketawa dibagi menjadi tiga kategori yaitu pemula atau remaja, dangdut, dan slow. Pemenangnya akan diganjar dengan harga jual terbilang mahal.

Misalnya, pemenang kategori pemula/remaja memiliki nilai jual Rp3 juta−Rp5 juta, pemenang kategori dangdut dihargai Rp12 juta−Rp15 juta, dan pemenang kategori slow dapat dibeli dengan harga minimal Rp25 juta. Uniknya, harga ini bukan ditentukan oleh si penjual, melainkan si pembeli.

Mahalnya harga Ayam Ketawa kualitas lomba itu, menjadikan ayam yang satu ini hanya bisa dimiliki oleh kalangan terbatas yaitu masyarakat kelas atas. Kondisi tersebut, memaksa mereka yang tidak berasal dari kalangan elit dan sekadar ingin memeliharanya, membeli mulai dari anakannya.

Maklum, seperti sudah dinyatakan di atas, anakan Ayam Ketawa yang baru sehari menetas hanya seharga sekitar Rp300 ribu/ekor, di tingkat peternak. Sementara di tingkat pedagang, bisa melonjak menjadi setidaknya Rp800 ribu/ekor. Meski, hal ini, ibarat membeli kucing dalam karung. Sebab, dari segi suara, khususnya, belum dapat diketahui.

Permintaan pasar yang terbilang tinggi untuk anakan Ayam Ketawa, ternyata belum memperoleh tanggapan yang bagus dari para peternak. Pada dasarnya, dalam pengembangbiakkannya, Ayam Ketawa sama saja dengan ayam kampung pada umumnya. Dalam arti, harus dilakukan sealamiah mungkin.

Termasuk, dalam pengeraman di mana sebaiknya dilakukan langsung oleh induknya agar mendapatkan anakan yang bagus. Maksudnya, tidak lemah fisiknya dan suara kokoknya bagus. Tapi, sampai sejauh ini, indukan Ayam Ketawa masih harus “diimpor” dari Sidrap dan itu tidak murah.

“Di sisi lain, orang-orang Makassar yang mengambil langsung ayam ini dari daerah asalnya, berniat menternakkannya sendiri dengan kemampuan alakadarnya. Imbasnya, justru tidak berkembang,” kata Andi Pasdar, seorang wiraswastawan dari Maiwa, Sulawesi Selatan. Berkaitan dengan itu, yang dapat dilakukan para peternak sampai sejauh ini hanyalah melakukan pembesaran.

Namun, ia melanjutkan, seiring dengan berjalannya waktu, para peternak di Jakarta, khususnya, tidak kekurangan akal. Mereka mengawinkan Ayam Ketawa betina dengan ayam jantan jenis lain, seperti Ayam Bangkok, Pelung, Bekisar, bahkan Kate.

“Hal ini bukan masalah. Sebab, berdasarkan asal muasalnya, Ayam Ketawa tidak selalu berasal dari sepasang Ayam Ketawa. Yang lebih sering terjadi yaitu anakan Ayam Ketawa berasal dari Ayam Ketawa betina dan bukan Ayam Ketawa jantan,” jelasnya.

Di sisi lain, anakan Ayam Ketawa mengikuti garis Ibu. Dengan demikian, jika induknya Ayam Ketawa, maka anak-anaknya kemunginan besar adalah Ayam Ketawa dibandingkan jika cuma “Bapaknya” yang Ayam Ketawa.

“Meski, dalam perkembangannya, biasanya anak-anak ini dikawinkan dengan Ayam Ketawa yang lain untuk mendapatkan Ayam Ketawa 100% atau bibit-bibit Ayam Ketawa yang lebih bagus,” lanjut Andi Pasdar, yang ingin mengusulkan perlunya sertifikasi kepada Asosiasi Pecinta Ayam Ketawa Indonesia.

Tapi, kendala (kalau boleh dibilang begitu) belum berhenti sampai di situ. Untuk memperoleh Ayam Ketawa kualitas lomba, dibutuhkan waktu yang relatif lama. Dalam arti, setelah 2−3 kali masa reproduksi baru bisa dihasilkan anakan Ayam Ketawa dengan suara merdu. Sementara dari segi umur, keindahan kokoknya tidak dapat dideteksi.

“Ada yang sudah menunjukkan memiliki suara bagus pada umur lima hari. Tapi, ada pula yang setelah berumur 2−3 bulan,” jelas Andi Ansar, pedagang Ayam Ketawa di kawasan Cempaka Putih, Jakarta Pusat.

Di sisi lain, sekali pun setiap Ayam Ketawa mengeluarkan suara, tapi yang dilombakan hanyalah Ayam Ketawa jantan. Sebab, suara si betina tidak sebagus yang jantan dan cuma sesekali bersuara. Misalnya, saat akan bertelur.

Imbasnya, anakan Ayam Ketawa betina yang dinilai bersuara bagus nantinya hanya akan dijadikan indukan. Dengan harapan, anakan yang dihasilkan bersuara merdu. Tapi, jika Ayam Ketawa betina itu tidak bersuara bagus, maka hidupnya akan berakhir sebagai lauk.

Namun, apa pun itu, semuanya dikembalikan kepada pembeli ayam yang masa hidupnya 10−15 tahun ini: apakah ingin memilikinya untuk dilombakan atau sekadar memilikinya untuk dijadikan ayam hias. Sebab, sekali pun hanya ingin menjadikannya ayam hias, tetap ada nilai lebih yang dapat diambil dari Ayam Ketawa. Mengingat, selain suara, bagian-bagian lain dari ayam ini juga menambah nilai jualnya. Seperti, postur tubuh, warna bulu, sisik di kaki, dan lain-lain.

Khusus untuk warna bulunya, sebagian tokoh Masyarakat Bugis percaya kalau ada maknanya. Contoh, Ayam Ketawa Lappung (berbulu cokelat kekuningan dengan sisik hitam di kaki, red.) dipercaya sebagai penampung harta. Sementara Ayam Ketawa dengan warna bulu yang lainnya lagi, dipercaya membawa aura yang menentramkan. Kepercayaan ini, sekali pun kemungkinan besar sekadar mitos, menular ke para hobiis ayam yang sangat lincah ini dan membuatnya tambah mahal.

Prospeknya? “Masih bagus. Karena, yang mengetahui tentang kehadiran Ayam Ketawa baru sekitar 4% dan itu berasal dari kalangan atas. Di sisi lain, pasar anakannya juga bagus. Sebab, orang yang ‘tidak mampu’ pun bisa membelinya. Menternakkan Ayam Ketawa juga sangat bagus bagi mereka yang tidak memiliki pekerjaan tetap,” pungkasnya.

 

Catatan
  • Sebagai ayam kampung, untuk menternakkan Ayam Ketawa juga dibutuhkan lingkungan seperti di kampung. Dalam arti, bersih, steril, dan tenang.
  • Untuk Jakarta, meski dikenal sebagai kota yang banyak virusnya dan lahannya sempit, tapi tetap masih ada wilayah dengan lingkungan semacam ini. Sementara masalah lahan sempit, dapat diatasi dengan sistem kandang bertumpuk.
  • Misalnya, untuk lahan seluas 10 m² dapat ditempatkan 33 kandang. Dalam kandang tersebut, sudah disertakan tempat untuk bertelur, makan, dan minum.
  • Semakin besar ukuran kandang, semakin bisa disiasati. Misalnya, dengan menempatkan satu Ayam Ketawa jantan dan tiga Ayam Ketawa betina. Sehingga, telur yang dihasilkan lebih cepat dan lebih banyak.
  • Seekor induk Ayam Ketawa mampu bertelur sebanyak 13 butir, yang sehari setelah menetas dapat dijual dengan harga sekitar Rp200 ribu−Rp350 ribu/ekor. Bahkan, jika pejantannya kualitas lomba/juara, maka anakannya dapat dijual dengan harga Rp2 juta/ekor.
  • Ayam-ayam ini cukup diberi makan sekali sehari.
  • Tidak diperlukan tenaga kerja.

Check Also

Menyehatkan Konsumennya, Menguntungkan Petaninya

Beras Hitam Organik Meski buruk rupa, tapi kaya manfaat kesehatan. Tidak mengherankan, bila peminat Beras …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *