Home / Agro Bisnis / Si Living Jewelry yang Mendatangkan Keuntungan Bagi Peternaknya

Si Living Jewelry yang Mendatangkan Keuntungan Bagi Peternaknya

Ikan Koi

Koi bukan sekadar ikan penghias kolam dalam taman, melainkan juga dapat dijadikan ladang bisnis yang menjanjikan. Meski harganya tidak seheboh ikan-ikan lain, tapi pasarnya selalu ada

 [su_pullquote]Dengan kualitas yang bagus, meski baru sepanjang 17 cm, Koi sudah dapat dijual dengan harga minimal Rp500 ribu/ekor[/su_pullquote]

e-preneur.co. Ikan Koi (Latin: cyprinus carpio, red.) merupakan lambang keberuntungan. Begitulah kepercayaan sebagian anggota masyarakat, terutama dari kalangan etnis Cina.

Hal ini, meski dianggap sekadar mitos oleh sebagian anggota masyarakat yang lain, setidaknya telah dibuktikan oleh para peternak ikan hias ini. Salah satunya, Fauzia L. Keller, breeder Ikan Koi (baca: Koi, red.) yang membangun usahanya di kawasan Jati Asih, Bekasi.

Perempuan yang akrab disapa Uci ini, waktu itu menjual Koi lokalnya dengan harga mulai dari Rp50 ribu/ekor dan mencapai Rp125 juta/ekor untuk yang impor. Bahkan, melalui tangan kedua, Koi impor “hasil karyanya” tersebut, bisa dijual dengan harga Rp325 juta/ekor.

Namun, ternyata, mahal murahnya harga ikan yang masih berkerabat dengan Ikan Emas ini tidak ditentukan oleh apakah ia “penduduk pribumi atau asing”, melainkan pada rapi tidaknya pattern/pola/corak tubuhnya. Apalagi, setiap Koi memiliki pattern—yang muncul saat satwa air ini memiliki panjang 5 cm—yang berbeda satu sama lain.

Selain itu, juga pada bentuk badannya (mulai dari mulut sampai ujung ekor, red.) yang proporsional. Dalam arti, menyerupai torpedo. Last but not least, tentu saja kualitas pemeliharaannya.

Berkaitan dengan pemeliharaan atau lebih tepatnya pembudidayaannya, menurut Uci, terbilang susah-susah gampang. Indukan Koi dikawinkan saat berumur tiga tahun. Lalu, induk Koi akan bertelur minimal 10 ribu butir (sumber lain menyebutkan 75 ribu telur/kg berat tubuhnya, red.).

“Induk Koi dapat dipaksa bertelur berkali-kali. Setiap dua bulan sekali, misalnya. Tapi, dampaknya, ia akan cepat mati. Karena itu, biasanya, saya mengistirahatkan mereka selama 3−6 bulan, setelah itu baru saya kawinkan lagi,” jelas Uci.

Selanjutnya, ia menambahkan, 10 ribu telur tersebut kemungkinan besar hanya tinggal 7−5 ribu ekor saja yang bertahan hidup hingga menjadi Koi dewasa. Kecuali, dengan perawatan yang bagus. Hal ini terjadi, lantaran, saat masih burayak (anak-anak ikan setelah menetas dan berukuran 3−5 cm, red.) banyak kendala yang harus mereka hadapi.

“Untuk menentukan mana yang layak jual dan mana yang tidak, ikan-ikan yang tersisa akan kami pilih dan pilah lagi. Biasanya, nanti tinggal 3−2 ribu ekor saja. Lantas, disortir lagi hingga akhirnya hanya tinggal 500 ekor yang benar-benar bernilai jual,” ungkapnya.

Sekadar informasi, saat dijual, ikan yang berasal dari Cina tapi menjadi terkenal setelah Jepang mengembangbiakkannya ini telah berumur 4−6 bulan atau berukuran 10 cm. “Koi sepanjang 17 cm dengan kualitas yang bagus sudah dapat dijual dengan harga Rp500 ribu/ekor,” imbuhnya.

Penyortiran yang berlangsung 3−4 kali itu, ia melanjutkan, lebih ditekankan pada pattern-nya di mana jika tidak sesuai dengan kriteria ideal, maka ikan-ikan ini akan dibuang, baik dalam arti sebenarnya maupun dalam arti dijual murah yaitu Rp10 ribu/ekor.

“Jadi, sebenarnya, meski berstatus buangan, tapi ia masih bernilai jual. Sementara pembelinya, kebanyakan berasal dari kalangan penggemar baru atau mereka yang sedang belajar memelihara Koi,” kata Uci, yang menamai usahanya Koi Collection.

Selanjutnya, Koi yang telah “lolos sensor” ini oleh Koi Collection diekspor ke Jerman. Kemudian, dari pasar Jerman, ikan-ikan yang mampu bertahan hidup sampai berumur sekitar 30 tahun ini menyebar ke Swiss, Denmark, dan negara-negara Eropa lainnya.

“Kami melakukan pengiriman selama musim panas dengan kapasitas minimal 300−400 ekor untuk sekali kirim,” ujar pemilik 18 kolam Koi ini di mana dua di antaranya seluas 7 m² x 4 m², sedangkan sisanya masing-masing seluas 3 m² x 5 m².

Pasar Jerman, ia menambahkan, menjadi pasar utama peternakan yang mulai beroperasi tahun 2004 ini bukan karena Koi Collection berorientasi ekspor, melainkan lantaran sejak awal berbisnis hal itu sudah dilakukan. Kendati begitu, usaha yang mempunyai dealer di Jerman dan Belanda ini tidak menutup pasar lokal.

“Saya dan suami berbagi tugas di mana suami saya yang mencari pasarnya dan saya yang menyediakan ikannya,” kata perempuan, yang bersuamikan pria berkebangsaan Jerman ini.

Sekadar informasi, bagi pembeli Koi, impor khususnya, yang pernah menjuarai suatu kompetisi dan memperoleh hadiah berupa piagam/sertifikat dan piala, maka Koi Collection bukan hanya menyerahkan ikannya melainkan juga hadiahnya.

Sedangkan untuk kolam yang digunakan, ibarat makan buah simalakama. Dikatakan begitu, sebab, jika Koi dipelihara di kolam tanah, akan mengurangi pengeluaran dan mempercepat pertumbuhan. Tapi, akan terkendala oleh Ikan Gabus dan Ular Tanah yang merupakan predator utama Burayak Koi. Sedangkan jika dipelihara di kolam semen, ikan air tawar ini akan aman dari predator, namun pertumbuhannya terbilang lama. Mengingat, lamanya perputaran air.

Air merupakan faktor utama yang sangat menentukan bukan hanya hidup mati dan sehat sakitnya ikan yang secara alamiah hidup di air deras ini, melainkan juga kualitas tampilannya. Berkaitan dengan itu, kondisi air harus selalu bersih dan berkadar oksigen tinggi. Terutama, saat masih burayak.

“Sebenarnya, Koi tidak susah dipelihara. Di sini, hanya diperlukan ketelitian dan kesabaran, serta rajin memantau kondisinya. Sehingga, ketika terjadi kondisi yang tidak diharapkan, segera dapat ditangani. Koi juga gampang makannya. Karena, tergolong omnivora (pemakan segalanya, red.),” jelas pemilik 17 jenis Koi dari sekitar 34 jenis yang ada ini.

Sementara untuk membedakan mana Koi lokal yang kebanyakan diambil dari Blitar (kota ini dikenal sebagai pengembang biak Koi lokal terbaik, red.) dan mana Koi impor (dari Jepang, red.), juga sangat mudah. Sebab, hal itu terlihat dengan gamblang dari kecepatan pertumbuhannya dalam umur yang sama di mana Koi lokal hanya mampu mencapai panjang badan 70 cm, sedangkan Koi impor mencapai 100 cm. “Bahkan, kami pernah memiliki Koi sepanjang 109 cm,” ucap Uci, yang membangun Koi Collection di atas lahan seluas 1.350 m².

Prospeknya? “Bagus. Pasarnya selalu ada. Buktinya, setiap hari, saya bisa membukukan omset setidaknya Rp5 juta−Rp8 juta untuk pasar lokal melalui penjualan baik langsung maupun by online,” pungkasnya. Tidakkah Anda tertarik?

Catatan:

  • Untuk pemula, tahap awal sebelum menternakkan atau membesarkan Koi yaitu harus belajar terlebih dulu tentang bagaimana merawat ikan ini.
  • Untuk kolam, ukurannya tergantung pada luas lahan yang dimiliki. Tapi, tinggi kolam sebaiknya 1,5 m.
  • Filtrasi harus digunakan. Sebab, kualitas air sangat berpengaruh bagi hidup matinya Koi.
  • Jika masih sebatas belajar, dapat menggunakan 5−10 ekor anakan Koi. Tapi, jika sudah mengarah ke bisnis minimal 100−200 ekor anakan.
  • Anakan Koi yang digunakan biasanya berukuran 15 cm−20 cm.
  • Kemungkinan mati sebanyak 10%−20%.
  • Anakan Koi sudah dapat dijual pada umur 6 bulan. Harganya dapat bertambah besar, jika kualitas Koi yang dibesarkan juga semakin bagus.
  • Yang harus diingat, peternakan harus memiliki kapasitas air yang bagus.

Check Also

Menyehatkan Konsumennya, Menguntungkan Petaninya

Beras Hitam Organik Meski buruk rupa, tapi kaya manfaat kesehatan. Tidak mengherankan, bila peminat Beras …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *