Home / Celah / Peluang Menjanjikan dari Ikan Alam

Peluang Menjanjikan dari Ikan Alam

Crispy Pora-Pora

Selama ini, masyarakat di sekitar Danau Toba hanya mengenal Ikan Pora-pora sebagai ikan alam, yang menambah keindahan danau kebanggaan orang-orang Batak itu. Tapi, Parlin melihatnya dari sudut pandang yang berbeda. Dia melihat peluang bisnis yang sangat menggiurkan pada ikan ini. Dan, hal itu, dibuktikannya dengan menghasilkan Crispy Pora-Pora dan turunannya

[su_pullquote]Ikan Pora-pora jauh lebih enak dan sehat ketimbang Baby Fish. Karena, mereka makan gulma yang ada di danau[/su_pullquote]

e-preneur.co. Ikan Pora-pora dikenal sebagai ikon ikan di Danau Toba. Jika Anda pernah menginap di seputaran Danau Toba dan menikmati keindahan salah satu danau terbesar di dunia ini, Anda pasti dengan gampang melihat ikan-ikan kecil berwarna kehitaman yang selalu ingin dekat dengan manusia ini.

Kini, Ikan Pora-pora tidak hanya dikenal sebagai ikan penghias danau kebanggaan masyarakat Batak itu, tapi juga bernilai jual tinggi dan menjadi panganan enak nan bergizi. Konsumen bisa mencicipinya dalam bentuk kemasan.

Adalah Parlin Manihuruk, yang kali pertama mencetuskan pengembangan Ikan Pora-pora menjadi santapan siap saji bernama Crispy Pora-Pora. Pria berusia 51 tahun ini, memulai usaha itu bukan semata-mata berbicara laba rugi, melainkan karena kecintaannya terhadap Danau Toba. Dia ingin masyarakat di sekitarnya memperoleh manfaat dari apa yang dihasilkan danau tersebut dan tetap menjaga kelestarian lingkungannya.

“Saya anak kampung dan selalu akrab dengan menyelam, serta menangkap dan membakar ikan di Danau Toba. Tahun 1980-an, populasi ikan di danau ini berkurang. Akhirnya, mulai tahun 2003, saya galakkan kegiatan tabur ikan di danau yang saat itu hanya dihuni 11 ribu ekor. Termasuk, Ikan Pora-pora. Saya selalu menyuarakan: kalau Anda cinta Danau Toba, taburlah ikan satu ekor,” kenangnya.

Selepas kampanye tabur ikan, populasi ikan kian banyak. Termasuk, perkawinan silang ikan asli danau tersebut dengan ikan yang ditabur masyarakat. Salah satunya, Ikan Pora-pora.

Sejak saat itu, mantan Dosen Universitas Nomensen, Medan, ini mulai menelitinya. Tahun 2008, dia mendapati pertanian di sekitar danau rusak, lantaran cuaca ekstrim. Imbasnya, masyarakat yang biasanya bertani bawang beralih menjadi nelayan.

“Yang ditangkap nelayan membludak. Saya cek, ternyata yang ditangkap untuk dimakan berlebih. Bahkan, setelah dijual ke luar daerah. Lalu, saya mengamati di sekitar pasar-pasar tempat ikan ini didistribusikan. Banyak peminatnya. Termasuk, Ibu-ibu dekat rumah saya (Kawasan Bandar Khalifah, red.) dengan alasan ikan ini murah. Dari situlah, saya berpikir mengapa ikan ini tidak diproduksi siap saji saja. Apalagi, persediaannya juga booming,” ungkapnya.

Untuk memulai usaha, Parlin membawa contoh Ikan Pora-pora sebanyak 5 kg ke Balai Riset Perikanan Budidaya Air Tawar (BRPBAT), Bogor. Di balai tersebut, dia juga menemukan sejenis Ikan Pora-pora yang disebut orang Bogor Baby Fish. Bedanya, jika Ikan Pora-pora tumbuh alami di danau, Baby Fish ditambak.

“Saya diskusikan dengan mereka cara mengolah ikan ini,” beber mantan aktivis tahun 1990-an ini. Dua orang dari BRPBAT pun dibawa Parlin ke Danau Toba. “Dan, mereka pun menyimpulkan bahwa Ikan Pora-pora jauh lebih enak dan sehat. Karena, makan gulma di danau. Sejak saat itu, saya semakin semangat,” lanjutnya.

Bersama mereka, dia mendesain mesin untuk mengolah ikan. Ada tiga mesin saat itu, yang difungsikan untuk menggoreng dan mengeringkan minyak.

Lantas, Parlin membuat kelompok-kelompok nelayan di Danau Toba. Tepatnya, di sekitar Aji Bata dan Parapat. Imbasnya, masyarakat di sekitar danau tidak hanya mencari ikan, tapi juga mendapatkan pekerjaan baru dengan menyiangin (membersihkan ikan) dan kemudian menggorengnya dengan mesin, yang disediakan untuk kelompok masyarakat tersebut.

Parlin mengurai bahwa di Danau Toba, setiap hari, hampir 40 ton ikan mentah hasil tangkapan nelayan didistribusikan ke Jambi, Padang, Bengkulu, Batam, dan lainnya. “Saya libatkan masyarakat, karena ingin menaikkan taraf hidup mereka. Ikan ini, harga per kilogramnya hanya Rp2 ribu. Tapi, karena saya membangun kelompok nelayan, maka saya membelinya dengan harga Rp3 ribu/kg. Selanjutnya, saya ajarkan menggunting ikan, lalu saya beli lagi dengan harga Rp5 ribu/kg. Setelah mereka kerjakan hingga dibumbui dan digoreng, saya beli dari mereka Rp80 ribu/kg. Terakhir, dikirim ke saya dan saya kemas menjadi Crispy Pora-Pora,” jelasnya.

Tanpa disangka, produk yang dikemas dengan ukuran 100 gr dan dibanderol dengan harga Rp15 ribu, serta dengan daya tahan delapan bulan ini ketika dibawa Parlin ke beberapa pameran, langsung menjadi buruan. Tahun 2011, Parlin mendirikan CV Crispy Pora-Pora dan mulai melebarkan pengenalan produk ke Jakarta, Surabaya, Penang, dan lainnya. Kini, peminatnya datang dari Aceh, Pekanbaru, Jakarta, Bandung, dan tentu saja Medan, serta beberapa menteri yang kebetulan singgah ke Danau Toba.

Perjalanan bisnis Crispy Pora-Pora memang tidak langsung melejitkan keuntungan. Semua berjalan pelan. Rata-rata dalam sebulan, alumnus Fakultas Teknik Universitas Nomensen ini baru menjual sekitar 2.000 kotak. Padahal, jumlah ini bisa meningkat tajam, jika disesuaikan dengan kemampuan mesin yang bisa menampung 1.800 kotak/hari dengan hanya lima jam kerja.

“Belum saya lakukan itu. Karena, pasarnya belum kencang. Produksi masih saya batasi. Tapi, tahun 2013, saya targetkan bisa mencapai posisi enak di bisnis ini. Sebab, Jakarta sudah memesan 1.000 kotak/bulan. Saat ini, saya sudah balik modal dari modal awal Rp60 juta, namun belum pada momen untung besar,” ucap Bapak tiga anak, yang menerima SNI Nominee Award tahun 2012 ini.

Sejatinya, Parlin mempunyai target lebih besar yakni bisa memproduksi Crispy Pora-Pora dengan kualitas rasa yang sama di seluruh Danau Toba. Seperti, yang sudah dipasarkannnya. Niatnya, agar ada serapan tenaga kerja bisa tercapai.

“Saya katakan kepada pemerintah (Sumatera Utara/Sumut) ketika diundang seminar bahwa dasar saya ingin membuat ini yaitu pertama, mengurangi pengangguran. Saat ini, katanya, Indonesia krisis pangan. Padahal, ada kok makanan dari air tawar dengan protein bagus. Kedua, mengapa ikan sarden dari Cina bisa datang/dimasukkan ke Surabaya dan dikalengkan, tapi mengapa ikan danau tidak? Ketiga, saya mau bilang ini untuk menambah oleh-oleh khas Sumut,” tuturnya.

Dia juga ingin mengembangkan limbah minyak bekas menggoreng Ikan Pora-pora menjadi sabun dengan formula khusus. “Bisa dibilang, ini produk turunan. Kami akan menamainya Sabun Pora-pora,” pungkasnya.

Check Also

Banyak Peminatnya

Rental Portable Toilet Kehadiran toilet umum—terutama yang bersih, nyaman, wangi, dan sehat—menjadi salah satu kebutuhan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *