Home / Celah / Memanfaatkan Bahan Baku Lokal

Memanfaatkan Bahan Baku Lokal

Tiramizu Kukus Dien’Z

Banyak cara untuk membuat makanan yang lain daripada yang lain. Seperti, tiramizu kukus buatan Dina ini. Dengan menggunakan bahan dasar umbi-umbian dan buah-buahan, tampilannya pun berbeda hingga menarik peminat untuk membeli. Di sisi lain, langkah Dina ini diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan para petani

[su_pullquote align=”right”]Prospek tiramizu kukus sangat menjanjikan. Karena, bahan bakunya sangat variatif, serta rasa dan produknya inovatif[/su_pullquote]

e-preneur.co. Selama ini, kita mengenal tiramizu atau tiramisu sebagai kue keju khas Italia dengan taburan bubuk kakao di atasnya. Sementara, bahan dasar hidangan penutup ini yaitu biskuit yang sudah direndam ke dalam larutan kopi dan Keju Mascarpone.

Tapi, di Yogyakarta, hadir tiramizu khas Indonesia yang terbuat dari bahan dasar umbi-umbian dan buah-buahan. Seperti apa konsepnya?

Menurut Dina Ardha, kreator tiramizu kukus bermerek Dien’Z, umbi-umbian dan buah-buahan seperti ubi ungu, singkong, garut, gayong, sukun, pisang, dan lain-lain digunakan sekadar untuk diferensiasi produk. Di samping sebagai upaya untuk mengembangkan bahan-bahan lokal, agar kelak mampu bersanding dengan berbagai jenis makanan dari mancanegara.

Di sisi lain, ia berkeinginan pula untuk mengangkat nilai jual berbagai produk pertanian lokal tersebut. Sehingga, nantinya, dapat meningkatkan pula kesejahteraan para petaninya, khususnya yang berada di kawasan Gunung Kidul, Yogyakarta.

“Selama ini, kita hanya mengenal singkong dan ubi ungu sebagai makanan masyarakat kelas menengah ke bawah. Padahal, umbi-umbian tersebut dapat diolah menjadi makanan yang mempunyai nilai jual dan gengsi yang tinggi. Sehingga, mampu menjangkau masyarakat kalangan menengah ke atas,” jelas Dina, yang membangun usahanya dengan modal Rp4 juta–Rp5 juta.

Dalam pengolahannya, ia menjelaskan, singkong dan ubi ungu dibuat menjadi tepung terlebih dulu. Tepung-tepung itu, diperolehnya melalui supplier.

Lantas, tepung singkong dan ubi ungu yang memiliki kandungan gluten (daya rekat, red.) rendah tersebut, dicampur dengan tepung terigu supaya cake dapat mengembang dengan sempurna. Sementara untuk tiramizu kukus rasa pisang, digunakan pisang segar yang dihaluskan. Dengan demikian, rasa pisangnya sangat terasa.

Selain berbeda bahan baku, tiramizu kukus ini juga berbeda dengan tiramizu yang selama ini kita kenal. “Kalau tiramizu ‘asli’ terbuat dari lady finger (sejenis kue kering, red.), yang dicampur dengan krim kental dan dibubuhi dengan kopi. Kemudian, dimasukkan ke dalam lemari es untuk disajikan dalam kondisi dingin. Maka, tiramizu kukus Dien’Z merupakan salah satu jenis cake yang mengadopsi rasa tiramizu ‘asli’, yang bisa disantap dalam kondisi hangat maupun dingin,” ungkapnya.

Tiramizu kukus ini, ia melanjutkan, sebenarnya cenderung modifikasi dari brownies kukus. “Agar masyarakat tidak bosan, kami menambahinya dengan kopi yang merupakan unsur utama dari tiramizu. Sementara, cokelat yang digunakan berupa cokelat putih. Sehingga, tiramizu kukus ini menjadi berbeda dengan brownies kukus, yang pada umumnya menggunakan cokelat pekat. Di samping itu, untuk sentuhan akhirnya, ditambahkan bermacam-macam topping sesuai dengan rasanya. Dengan demikian, rasa tiramizu kukus ini menjadi semakin menggigit dan berbeda dengan produk sejenis,” ujarnya.

Saat ini, Dina telah memproduksi beberapa rasa tiramizu seperti original, keju, cokelat, blueberry, singkong, pisang, dan ubi ungu. Sedangkan rasa garut, sukun, dan gayong masih dalam proses uji coba.

“Permintaan masyarakat terhadap rasa pisang, singkong, dan ubi ungu jauh lebih banyak ketimbang rasa cokelat, keju, dan blueberry. Mungkin, karena masyarakat sudah terbiasa dengan rasa-rasa tersebut,” ucapnya.

Tiramizu kukus Dien’Z dibuat dalam berbagai ukuran, rasa, dan harga, seperti ukuran loyang 10 cm x 18 cm rasa original, singkong, blueberry, ubi ungu, cokelat, pisang, dan keju. Sedangkan untuk ukuran loyang 20 cm x 20 cm, hanya dibuat berdasarkan pesanan. Sementara untuk harganya, mencapai Rp50 ribu.

Untuk daya tahannya, tiramizu yang tidak menggunakan bahan pengawet ini sama dengan cake pada umumnya yaitu tiga hari dalam suhu ruang dan satu minggu bila dimasukkan ke dalam kulkas.

“Per bulan, untuk tiramizu kukus berbagai rasa, kami memproduksi rutin 20–40 pak dan kadang-kadang 60–75 pak guna memenuhi pesanan langsung toko oleh-oleh di Yogyakarta. Sedangkan untuk tiramizu kering/panggang, kami memproduksi sebanyak 30 pak,” tutur Dina, yang memproduksi hasil karyanya ini di garasi rumahnya yang terletak di Perum Gading Sari, Sleman, Yogyakarta.

Untuk mendapatkan produk ini, ia menambahkan, konsumen dapat memperolehnya di home industry sekaligus outlet tersebut. Di sini, mereka dapat membeli langsung atau memesan produk ini. Sehingga, fresh from the oven. Selain itu, konsumen juga dapat mencarinya di berbagai gerai/toko oleh-oleh di Yogyakarta dan sekitarnya.

Prospeknya? “Sangat menjanjikan. Sebab, bahan bakunya sangat variatif, serta rasa dan produknya inovatif. Sehingga, produk ini pun menjadi lain daripada yang lain,” pungkasnya. Sekadar informasi, tiramizu kukus Dien’Z telah mengantongi sertifikat produk pangan Industri Rumah Tangga dan Penyuluhan Kesehatan dari Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman, Yogyakarta.

Check Also

Banyak Peminatnya

Rental Portable Toilet Kehadiran toilet umum—terutama yang bersih, nyaman, wangi, dan sehat—menjadi salah satu kebutuhan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *