Home / Profil / CEO / Lead by Heart

Lead by Heart

Ria Ariyanie

(Owner & Chief Executive Officer Talk Link)

Banyak orang yang mengatakan bahwa menjadi entrepreneur itu mudah. Sebab, modalnya tidak besar, bisa dikerjakan sendiri, bisa dikerjakan sambil mengerjakan yang lain. Bahkan, bisa dikerjakan sambil masih ngantor. Faktanya, tidak seperti itu, dibutuhkan perjuangan hingga berdarah-darah. Bahkan, bernanah-nanah. Seperti yang dialami Ria Ariyanie, dalam menjalankan Talk Link

 

[su_pullquote]Jangan segan say thank you atau sorry ke anak buah kita[/su_pullquote]

e-preneur.co. A great sailor never come from the smooth sea. Haus akan ilmu dan ingin selalu berkembang, membuat Ria Ariyanie meninggalkan posisi mapan sebagai PR manager di DDB Indonesia. Ia, bersama partnernya, memilih membangun usaha sendiri, Talk Link.

Dan, perjalanannya sebagai nahkoda sebuah digital PR pun dimulai. Berikut perbincangan kami.

Bisa diceritakan dari awal perjalanan karir Anda?

Aku merupakan anak bungsu dari dua bersaudara, yang keduanya perempuan, dari pasangan suami istri Tubagus Ichsan Halir dan Dwi Retno Hapsari. Aku lahir di Surabaya, 26 November 1977.

Aku menyelesaikan pendidikan di Perth Commercial College, Australia,  hingga meraih advanced diploma dalam manajemen bisnis. Saat sedang menyelesaikan kuliah itu, terjadi krisis moneter (krismon) global.

Imbasnya, perekonomian di Australia hancur-hancuran. Demikian pula, di Indonesia. AS$1dolar melambung hingga Rp15 ribu.

Sampai, akhirnya, orang tuaku yang wirausahawan dan juga terkena dampak krismon mengatakan bahwa mereka tidak sanggup lagi membiayai. Imbasnya, aku harus pulang.

Namun, aku bertekad untuk pulang dengan membawa sesuatu. Tahun 1998, setelah lulus kuliah, aku pulang ke Jakarta.

Sebagai anak yang baru berumur 20an tahun, banyak yang aku mau atau inginkan. Sementara orang tuaku, sudah tidak lagi memberiku uang bulanan.

Akhirnya, aku berpikir untuk bekerja. Dari situlah, kehidupan yang terus-menerus bekerja dimulai.

Namun, sebenarnya, saat masih di Australia, aku juga sempat bekerja. Salah satunya, sebagai waitress. Karena, uang kiriman dipotong dari sekian ribu dolar Australia hingga tingga AUS$30.

Selanjutnya, aku bekerja pada sebuah advertising agency selama dua tahun. Kemudian, aku mendapat tawaran pekerjaan dari saudaraku untuk bekerja di bidang perhotelan yaitu di Menara Peninsula, Slipi, Jakarta Barat. Aku mendapat posisi sebagai PR (Public Relations).

Nah, dari situlah dimulainya karir PR ku. Dan, aku merasa jiwaku memang ada di PR.

Dari Menara Peninsula ini, aku pindah ke Hotel Borobudur, Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, dan akhirnya ke Sheraton Bandara, Tangerang. Posisiku tetap di bagian PR.

Untuk sampai ke tempat-tempat kerjaku ini, aku naik-turun angkutan umum dari rumahku di Kebagusan, Jakarta Selatan. Bahkan, saat di Sheraton Bandara, jam 05.00, aku sudah harus ada di Parkir Timur Senayan, Jakarta Selatan, untuk ikut shuttle bus karyawan shift pagi. Kalau tidak mau begitu, aku harus naik Damri Bandara yang saat itu harus bayar Rp10 ribu (setara dengan Rp50 ribu saat ini, red.). Tapi, jam 16.00−17.00, aku sudah boleh pulang dan sampai di rumah jam 19.00.

Lalu, aku mulai berhitung: aku sudah total bekerja selama enam tahun, empat tahun di antaranya di PR. Aku membutuhkan perkembangan diri. Aku tidak mau terus-menerus di perhotelan, aku ingin berkembang.

Lantas, aku ditolong oleh seseorang yang menjadi mentorku untuk masuk ke sebuah PR agency besar, LeoBurnett (LB) Indonesia. Jika posisi terakhirku saat di Sheraton Bandara sebagai PR manager, maka masuk ke LB sebagai account executive (AE).

Bosku menanyakan apakah aku yakin dari PR manager menjadi AE. Aku masih sangat ingat apa jawabanku, “Enggak apa-apa Mas. Mimpi saya, suatu hari nanti saya mempunyai PR agency sendiri. Tapi, untuk itu, saya harus memulainya dari bawah. Saya tidak masalah untuk turun ke bawah lagi. Karena, itu yang saya mau. Saya harus memulainya dari bawah. Saya harus mengetahui sampai yang paling bawah. Sebab, jika suatu saat saya sudah mempunyai PR agency, saya sudah mengetahui semuanya”. Aku lima tahun di LB, dari posisi AE hingga account manager.

Suatu hari, mantan bosku pindah ke agency lain yaitu DDB Indonesia dan aku diajak. Katanya, “Kita set up PR agency baru dan kita megang pemerintahan”.

Sesuatu yang baru lagi bagiku. Karena, selama di LB selalu tentang brand. Bagiku, ini kesempatan dan tantangan baru lagi, belajar lagi.

Di sini, posisiku sebagai PR manager dan aku mengurusi departemen perdagangan. Untuk itu, aku harus pergi ke mana-mana untuk mengerjakan world expo, trade expo Indonesia, exhibition, dan sebagainya. Aku di DDB selama 1,5 tahun.

Pada saat evaluasi di DDB, aku mendapat pertanyaan: what is your goal next 3−5 years? Aku teringat pada obrolanku dengan seorang klien ketika di LB mengenai PR 2.O, yang merupakan penggabungan antara PR konvensional dengan PR digital. Itu terjadi tahun 2009.

Aku merasa itu keren banget. Aku pun belajar dengan banyak membaca buku. Sekadar informasi, ilmuku banyak kuperoleh dari belajar sendiri (otodidak), di samping common sense. Bahkan, sampai ada satu buku yang sangat aku suka: The Fall of Advertising, The Rise of PR.

Jadi, pertanyaan itu, aku jawab bahwa aku ingin menjalankan PR 2.O. Aku minta diberi klien. Sehingga, aku bisa mengaplikasikannya. Mengingat, peranku di sini lebih banyak maintaining client. Baru di akhir-akhir karirku, aku ikut terjun mencari klien.

Saat itu, PR 2.O masih bibit. Belum ada yang menjalankan. Bahkan, konsepnya masih sangat sedikit yang mengetahuinya.

Dan, pada saat yang tepat, aku bertemu Rama, seorang teman yang kemudian menjadi partnerku di Talk Link. Dia mengatakan bahwa dia akan memberiku pekerjaan, tapi aku harus melakukannya sendiri. Dalam arti, aku tidak bekerja pada seseorang atau suatu perusahaan lagi.

Dia mengajak aku membangun PR agency, sebuah digital PR. Dan, ini belum ada di Indonesia.

Wah, kok sama dengan goalku. Tapi, karena I have a lot of bills to pay, kegalauanku untuk menjadi entrepreneur timbul.

Namun, dia memberi jalan keluar di mana di usaha yang akan kami bangun, aku juga digaji sesuai dengan jabatan dan pekerjaanku. Partnerku sudah memiliki perusahaan digital marketing sendiri, yang saat itu sudah berjalan lima tahun. Jadi, dia sudah mempunyai pengalaman menjadi entrepreneur.

Aku terus berpikir. Saat itu, aku masih berkeluarga. Sehingga, aku meminta saran suamiku. Dia mengizinkan, tapi aku harus memegang komitmen jika aku sudah menerjuninya, maka harus total, tidak main-main. Aku tanyakan juga ke kedua orang tuaku. Ternyata, mereka juga memperbolehkan.

Restu diperoleh, aku membuat business plan, menyiapkan P&L (Profit and Loss) Statement selama tiga bulan. Padahal, aku masih bekerja di DDB. Jadi, itu kulakukan sepulang kerja. Setiap hari aku tidur jam 03.00, lalu bangun jam 05.00, karena harus mengurus anak. Berat banget.

Sampai akhirnya jadi, fixed jalan, nama Talk Link juga sudah terbentuk, aku resign tahun 2010.

Untuk modal membangun Talk Link, aku menjual mobil yang kubeli ketika bekerja di LB sekitar tahun 2008 dan mencairkan Jamsostek/Jaminan Sosial Tenaga Kerja (sekarang, BPJS/Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Ketenagakerjaan, red.).

Modalnya yang ratusan juta rupiah, kami bagi bertiga. Ya, di sini, aku memang berpartner dengan dua temanku yang lain, tapi sahamku paling besar.

Kami berkantor di Jalan Lamandau, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Kami menempati ruko (rumah toko), bergabung dengan perusahaan partnerku. Ukurannya cuma sekitar 2 m x 3 m dan kami menempatinya berdua.

Dari sini, aku belajar bahwa ini sesuatu yang sangat baru bagiku, aku tidak mau main-main, dan aku tidak mau gambling. Karena, aku sudah memutuskan, maka aku harus terjun dan serius.

Untuk itu, aku harus memulainya dari orang yang kupercaya. Aku tidak perlu mengajari, karena sudah tidak ada waktu.

Lantas, aku menghubungi teman satu timku dulu, tapi layer di bawahku, yang sudah mengenal aku dengan baik, termasuk caraku bekerja, dan juga mengetahui tentang PR agency. Ternyata, dia mau. Alhamdulillah, bergabungnya dia, kuanggap rezekiku yang pertama.

Di awal kerja sama, kami selalu berdua ke mana-mana dengan naik turun kendaraan umum (karena, mobil sudah dijual, red.) dan dalam cuaca yang bagaimana pun hanya untuk mendapatkan satu klien. Kami benar-benar start from zero. Bahkan, klien itu pun kami dapatkan dari referensi teman.

Dan….pecah telur. Dari situ, klien pun mengalir.

Aku telepon bosku di LB, untuk sekadar mengingatkan apa yang aku katakan ketika dievaluasi. Dia kaget. Aku juga mengucapkan terima kasih atas tempaan yang dia berikan. LB dan DDB menempaku selama tujuh tahun secara habis-habisan.

Pada tahun ketiga, Talk Link mempunyai masalah finansial yang sangat berat yang membuat kami terjerembab hingga jauh di bawah lubang. Dari beberapa obrolan dengan teman-teman sesama entrepreneur, hal itu ternyata tidak hanya terjadi pada Talk Link.

Ternyata, tahun 2013 itu memang sedang terjadi krismon kedua. Pengaruhnya ke corporate, brand, produk, dan lain-lain, tapi mau tidak mau rantainya ikut terseret. Imbasnya, klien potong budget dan melakukan berbagai pengetatan.

Padahal, saat itu, Talk Link sedang berkembang. Hingga, rasanya seperti sedang dihempaskan ke jurang terdalam. Saat itulah, aku merasakan yang namanya berdarah-darah dan bernanah-nanah.

Pada saat sedang jatuh itu, stresku ampun-ampunan. Tapi, aku ditelepon oleh seorang headhunter dan diinformasikan bahwa kliennya menawari aku memimpin sebuah PR agency bertaraf multinasional dan aku diposisikan sebagai genenal manager (GM). Tawaran itu, seperti air di padang pasir.

Namun, aku tidak langsung menerima. Aku memutuskan untuk memikirkannya dulu.

Dalam kondisi menghadapi “godaan” yang sangat menggairahkan itu, aku justru berpikir ke belakang tentang apa tujuanku membangun Talk Link. Ternyata, pertama, aku ingin mewariskannya ke anakku. Kedua, untuk membuka pintu-pintu rezeki orang-orang yang kerja bersamaku, baik para karyawan maupun vendor.

Lalu, aku melihat business plan. Aku berpikir, apa yang akan terjadi pada Talk Link kalau aku keluar, orang-orang yang menggantungkan hidup mereka dan keluarga mereka ke aku. Itu doang yang aku pikirkan.

Akhirnya, keesokan harinya, aku telepon headhunter itu dan mengatakan jika aku memilih untuk bertahan di Talk Link. Aku berpikit, di sini aku nahkodanya. Kalau aku menyelamatkan diri dengan nyemplung terlebih dulu dengan menggunakan pelampung, aku tentu selamat. Tapi, bagaimana nasib awak kapalku? Tentu mereka tenggelam bersama si kapal dan mati. Bukankah seharusnya aku menyelamatkan dulu awak kapal dan kapalnya?

Kebetulan, aku suka sharing. Karena, dengan sharing, aku sering mendapat “sentilan”, “tamparan”. Seorang teman mengatakan: a great sailor never comes from the smooth sea. Seorang sahabat lain mengatakan: when God pushes you to the edge, trust Him fully. He will either catch you when you fall or teach you how to fly.

Akhirnya, aku berpikir, orang-orang yang bekerja padaku ini mempunyai rezeki masing-masing. Jadi, Allah tidak akan mendiamkan rezeki mereka. Kebetulan, rezeki mereka melalui aku. Jadi, perusahaanku pasti akan terus hidup.

Meski, untuk itu, aku harus meng-cut security, meniadakan bonus, tidak ada outing. Waktu melakukan itu, aku menangis di depan mereka.

Aku tidak perduli, sekali pun leader mereka, tapi aku tetap perempuan. Dan, itu perbedaan leader perempuan dengan leader laki-laki. Leader perempuan menggunakan hati.

Lalu, pada tahun 2015, Q4, perekonomian membaik. “Pintu” seperti terbuka lagi pelan-pelan. Saat ini, kalau boleh digambarkan, kami sedang merangkak keluar dari bawah lubang atau jurang. Kami beres-beres masalah yang kemarin, misalnya membayar hutang.

Namun, yang membuatku terharu, karyawanku (mereka ada sembilan dan aku tidak mau nambah lagi) terus bertahan dalam segala kondisi apa pun. Mereka mengatakan bahwa “kapal” ini tidak tenggelam, tapi sedang terkena badai. Nanti, badainya juga pergi. Kita akan berlayar lagi denga tenang seperti sebelum badai itu datang. Itu rezeki lagi buatku.

Dari sini, aku bersyukur bahwa ternyata rezeki itu tidak hanya berwujud duit, tapi bisa juga berwujud teman atau sahabat. Hal ini, yang selalu aku katakan ke anakku bahwa dia harus mempunyai banyak teman, sahabat-sahabat yang selalu ada di belakangnya (baca: mendukungnya, red.), yang mengerti tentang dia.

 

Jadi, apa itu Talk Link?

Talk Link adalah sebuah PR agency. Hadir pada tahun 2010. Bila semula kami berkantor di Jalan Lamandau, tapi ketika harga sewanya naik gila-gilaan (75%), kami memindahkan kantor ke Jalan Lebak Bulus PDK Raya, September lalu, sebuah ruko di kawasan pinggiran Jakarta Selatan.

Ruko ini terdiri dari tiga lantai. Kalau kami sewa semuanya, tidak sesuai dengan kebutuhan kami yang cuma satu lantai. Akhirnya, aku mengajak teman untuk sharing. Dia di lantai tiga, aku di lantai dua, dan lantai satu kami gunakan bersama sebagai ruang meeting, ruang resepsonis, dan pantry. Imbasnya, cost dibagi dua, overhead kepotong setengah.

Fokusku sekarang bukan lagi lokasi kantor, melainkan income masuk. Apalagi, kantor yang sekarang masih berlokasi di Jakarta.

Tentang Talk Link, aku pernah mengatakan pada seseorang bahwa orang-orang pasti tidak mengetahui apa itu Talk Link, tapi aku tidak membutuhkan sebuah nama yang terkenal, melainkan trust dari klien. Satu trust saja akan sambung-menyambung. Klien pertama kami Fujitsu, berikutnya Opera, Mitsubishi, Samsung, Bintan Lagoon Resort, dan sebagainya.

Bila agency-agency besar atau ikan-ikan besar selalu mengincar umpan-umpan besar atau yang first, maka Talk Link cukup diberi second line-nya saja. Pertimbangannya, dengan second line bisa membuatnya sejajar dengan level di atasnya. Seperti Opera, yang merupakan competitor Google. Kalau yang lain mengincar Google, saya justru mengincar Opera.

Talk Link meng-handle semua klien, termasuk personal branding (Talk Link pernah meng-handle Manoj Punjabi, red.). Di sisi lain, karena ingin tetap menginjak tanah, Talk Link berprinsip: jangan cuma memikirkan commercial, namun juga sosial. Kami mempunyai beberapa proyek pro bono yang kami jadikan CSR (Corporate Social Responsibility), seperti RHOI (Restorasi Habitat Orangutan Indonesia). Selain itu, Talk Link juga tidak mau memegang investor relations. Karena, itu ada ilmunya sendiri dan aku belum berani melangkah ke arah sana.

Namun, Talk Link meng-handle communication audit. Sepanjang yang aku tahu, baru ada satu atau dua PR agency yang bisa melaksanakan communication audit. Sedangkan yang lain, tidak menerapkannya lebih karena tidak tahu. Padahal, jika dilihat dari keuntungannya, jauh lebih baik daripada marketing audit atau brand audit yang lebih banyak dikenal orang-orang.

Ilmu communication audit ini, aku dapatkan saat mengikuti PRSI (Public Relations Society of Indonesia) dan aku langsung berpikir ini bisa dijadikan duit. Faktanya, memang belum ada PR agency yang menggunakannya.

Singkat kata, keunggulan Talk link yaitu adanya communication audit, selain adanya message. Dalam dunia PR, semua yang bergelut di dalamnya mempunyai kegiatan yang sama, seperti press conference, media session, meet up komunitas, penulisan press release, dan sebagainya. Intinya, message yang disampaikan bisa diterima atau ditangkap oleh audience.

Dari pitching-pitching yang Talk Link menangkan selalu dikatakan bahwa message kami “kena”, message kami “dapat”. Itu semua karena Talk Link cultural based, sesuatu yang sedang tren di masyarakat. Misalnya, untuk financial technology yang sekarang sedang happening, trennya yaitu para pengusaha UKM (Usaha Kecil Menengah) dan start up sedang kesulitan modal.

Itu yang Talk Link bawa dulu, setelah itu baru brand-nya masuk. Talk Link tidak pernah mengedepankan brand terlebih dulu, melainkan problem need masyarakat itu apa dulu dan di situlah kami masuk. Kami ketuk dulu hati masyarakat. Kalau sudah terketuk, masyarakat akan selalu mengingat brandnya. Jika sebaliknya, justru cuma akan lewat doang. Begitu selalu kami katakan ke klien.

Keunggulan lain yaitu analitik atau monitoring kami. Banyak yang masih menggunakan PR value berupa AVE (Advertising Value Equivalent). Jadi, pemberitaan dinilai kalau memasang iklan di media itu berapa harganya. Perlu diingat: berita bukan iklan, sehingga penetrasinya berbeda. Sedangkan yang di digital, perhitungannya ada pada like, view, comment, share.

Sedangkan Talk Link menggunakan digital reputation, misalnya indeksnya berapa, reputasinya bagaimana. Karena itu, selalu kami katakan jika perhitungan kami berbeda. Kami mengikuti AMEC (Association Measurement Evaluation Communication). Perhitungan dengan AMEC ini, aku dapatkan ketika mengikuti konferensi di Hong Kong.

Singkat kata, dalam dunia PR ada banyak ilmu-ilmu baru dan perkembangan. Bagi beberapa PR agency besar, tentu sudah malas harus belajar lagi. Karena, merasa sudah besar.

Nah, justru di situ untungnya Talk Link sebagai ikan besar di kolam kecil. Ditunjang dengan semangat dan kekuranganku, yang haus akan ilmu-ilmu baru dalam dunia PR dan perkembangannya.

Keunggulan Talk Link berikutnya yaitu timku seringkali menghadapi event bentrok. Misalnya, dalam satu hari ada tiga event. Akhirnya, kami bagi badan, split.

Mereka sudah otopilot. Seiring dengan berjalannya waktu dan menghadapi berbagai hantaman hingga berdarah-darah dan bernanah-nanah, sistem pun aku bentuk. Pada saat sistem sudah terbentuk, baru aku bisa membuka bisnis yang lain seperti Medialogue dan Roti shop.

Turn over karyawanku almost zero dan aku bangga dengan itu. Karyawanku yang dari awal Talk Link berdiri, masih ada sampai sekarang. Sedangkan yang baru masuk, sudah ada di sini 2−3 tahun lalu.

 

Strategi apa yang membuat para karyawan bertahan hingga saat ini?

Mereka sudah kuanggap keluargaku. Aku katakan kepada mereka bahwa meski mereka sudah mempunyai manager atau atasan sendiri, tapi my door always open to you to come.

Jadi, kalau kalian mau berdiskusi, berdebat, bahkan curhat silahkan. Aku tidak akan menanyakan masalah pribadi kalian, tapi kalau kalian sudah datang ke aku, maka aku akan open, my ears are all yours, aku akan memberi opini.

Mungkin, karena aku perempuan, aku lead by heart. Aku juga tidak pernah memarahi karyawanku di depan karyawan-karyawan yang lain atau orang lain.

Aku sangat menghargai hirarki. Kalau ada salah satu yang salah, team leadernya yang aku panggil dan dia yang aku marahi. Buat aku, satu salah, maka semuanya salah. Satu berhasil, keberhasilan semuanya. Aku sangat mengedepankan team work.

Di sisi lain, meski mereka memiliki manager, tapi jangan pernah berpikir aku tidak melihat cara kerja mereka, jangan berpikir aku tidak melakukan evaluasi. Dan, itu nanti akan masuk ke evaluasi tahunan. Tapi, aku congrats ke semuanya.

Aku memberi mereka kebebasan, full authority. Aku juga result oriented, tapi juga pay on small details. I don’t care how you do it, tapi aku mau resultnya begini.

I’m a person who never take no as an answer. Aku memang sadis. Bahkan, dalam evaluasi, ada yang mengatakan kalau aku fierce. Tapi, aku tidak segan say thank you ke mereka atau say sorry.

Aku juga tidak mau mempertaruhkan nama Talk Link dan anak-anakku. Jika aku melihat anak-anakku bekerja sampai gila-gilaan, tapi klien masih ngeyel saja. Akhirnya, aku putuskan selesai kontrak, selesai sudah kerja sama itu. Untungnya, kami selalu dihindarkan dari hal-hal seperti itu.

Suatu ketika, kami pitching untuk klien kakap, pesaingku juga kakap. Dan, kami kalah. Aku katakan kepada anak-anakku bahwa kalah pitching tidak berarti gagal, jadikan pelajaran saja. Kedua, pasti akan dihindarkan dari sesuatu yang sangat besar, yang tidak pernah kita ketahui, yang tidak akan dapat kita handle. Contoh, ketika pitching (maskapai penerbangan) Merpati, kami kalah. Tidak berapa lama, Merpati ambruk.

 

Target ke depan?

Kami baru saja melewati anniversary kelima yang aku sebut PELITA (Perjuangan Lima Tahun). Sekarang, kami berada di lima tahun kedua dan sedang merangkak ke luar dari bawah jurang. Target kami hanya mengumpulkan duit, margin. Selain itu, berinovasi dan selanjutnya berkembang.

Pada tahun kedua atau ketiga Talk Link, aku sempar berpikir untuk membentuk divisi event organizer (EO). Karena, waktu itu kami banyak bekerja sama dengan berbagai EO. Jadi, aku berpikir daripada selalu bekerja sama dengan mereka mending membentuk EO sendiri. Sehingga, hanya berputar ke dalam.

Namun, seorang teman mengatakan itu pemikiran salah. Karena, itu diversifikasi dan akan membuat klien bingung sebenarnya Talk Link itu itu PR agency atau EO.

Temanku menyarankan agar Talk Link tetap sebagai PR agency, sementara EO biarkan menjadi ladang rezeki pihak lain. Akhirnya, aku kembalikan ke tujuanku awal di mana aku ingin membuka pintu rezeki. Kalau aku juga memiliki EO, tertutup dong pintu rezeki EO-EO partnerku.

Dia juga menyuruhku untuk melakukan ekspansi dan ekspansiku yang pertama dari media monitoring berekspansi menjadi tim analitik. Karena itulah, di sini ada communication audit. Jadi, inovasi yang nanti kami lakukan merupakan bagian dari ekspansi.

 

Masih punya waktu untuk diri sendirikah?

Masih, seperti nyalon, main game, jalan-jalan dengan para sahabat. Hobiku kan traveling. Kata Dalai Lama: once a year, go some place you’ve never been before.

Waktu ulang tahun, seorang teman mengucapkan never stop seeking happiness. Itu sekarang fokusku: mendapatkan kebahagiaan dalam rutinitas keseharianku.

 

Siapa yang paling berperan dalam hidup Anda?

Anak (Artessya Aqueela Haritha, 9 tahun). Kalau sedang stress, terus pulang ke rumah dan memeluk anakku, rasanya semua masalah hilang.

Anak ini pengertian banget. Alhamdulillah, aku diberi anak yang tegar, kuat, dan pengertian. Memang, awalnya dia protes dengan kesibukanku. Tapi, setelah aku beri pengertian, dia menerima.

Tapi, sesibuk apa pun, aku selalu ada di semua firstnya. Seperti, pertama kali dia memanggil Bunda, merangkak, berjalan, makan, masuk sekolah, dan sebagainya. Itu yang aku tanamkan ke diriku sendiri bahwa sesibuk apa pun aku harus ada di first timenya. Karena, aku ingin setelah dia dewasa itu yang tertanam dalam pikirannya. Bahwa, meski Bundanya sibuk, tapi selalu ada di setiap masa-masa pentingnya.

Dia yang membuat aku tegar. Jadi, Jangan suruh aku memilih antara anakku dengan yang lain-lain. Karena, semua akan kalah dengan anakku.

Aku berpisah dengan Ayahnya di tahun pertama Talk Link berjalan. Di tengah-tengan proses perceraian, Talk Link mengalami masalah. Saat itu, aku merasa sedang berada di titik nadir. Tapi, dia yang waktu itu baru berumur lima tahun, mampu membuatku tetap waras.

Tanpa mengecilkan peran orang tuaku, karena aku bisa sampai di sini berkat doa mereka. Aku juga banyak ditolong oleh sahabat-sahabatku. Tapi, jika ditanya siapa penyemangat hidupku dan membuatku selalu waras ya itu anakku. Bukan cuma itu, melainkan juga doa anakku. Beberapa kali itu aku buktikan, saat pitching, aku minta didoakan anakku dan makbul (terkabul, red.).

 

Dari sini, apa pelajaran hidup yang sudah Anda ambil?

Ada satu pelajaran buatku: jika kita sudah memutuskan menjadi entrepreneur, maka tidak ada batasan lagi antara kehidupan pribadi dengan bisnis. Semuanya sudah nge-blend. Karena itu, dibutuhkan time management.

Check Also

Sukses Membangun Kerajaan Bisnis dengan Telaten Merangkai Jaringan

Onny Hendro Adhiaksono (PT Trimatra Group) Dalam bisnis, selain modal, jaringan dan skill mempunyai peran …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *