Home / Liputan Utama / Informasikan Apa Adanya

Informasikan Apa Adanya

Mie Ayam Grobakan

Produknya sih cuma mie ayam, tapi adanya riset, trial and error, serta jujur kepada mitra membuat Mie Ayam Grobakan berbeda dan unik dibandingkan dengan bisnis-bisnis lain yang menawarkan kemitraan

[su_pullquote align=”right”]Kepada calon mitra yang datang, Mie Ayam Grobakan selalumenginformasikan yang serba jelek, agar mereka aware jika usaha ini tidak gampang. Sekali pun, bagi sebagian mitra, nilai kemitraannya kecil[/su_pullquote]

e-preneur.co.Apa yang dilakukan penggila mie, khususnya mie ayam, ketika ia akan membangun bisnis? Sudah pasti, dia akan membangun bisnis yang berhubungan dengan mie ayam. Dan, begitulah yang dilakukan Wahyu Indra, pemilik Mie Ayam Grobakan.

“Awalnya, istri saya yang bekerja harus berangkat jam 04.30 dan pulang jam 19.30.Bahkan, kadang jam 20.30. Lama-lama, saya berpikir kalau kondisinya tidak bisa begini terus. Lalu, kami berdiskusi dan berhitung betapa sedikitnya uang yang tersisa setiap bulan, yang tidak sebanding dengan yang ia lakukan. Akhirnya, kami memutuskan istri berhenti bekerja dan saya membuatkan warung untuk dia. Lantas, berlandaskan egoisme saya, maka jadilah warung itu warung mie ayam,” kisah Wahyu.

img_1663Padahal, saat itu, mereka belum mengetahui bagaimana membuat mie, topping-nya, dan sebagainya. “Akhirnya, kami melakukan riset, trial & error, mencari informasi ke sana-kemari, dan lain-lain selama setahun. Saya pribadi suka melakukan riset pasar, misalnya tentang rasa mie ayam yang enak itu yang bagaimana, bagaimana bentuk, rasa,topping, dan mesin untuk membuatnya, harganya berapa, market-nya siapa, dan sebagainya.Sehingga, nantinya, kami mempunyai diferensiasi. Sebab, kalau tidak mempunyai diferensiasi, yang terjadi justru nothing,” lanjutnya.

Sekadar informasi, dalam dunia mie ayam, sebenarnya market-nya sudah jelas, Karena itu, jika tidak ada diferensiasinya, maka Mie Ayam Grobakan akan sama saja dengan mie ayam-mie ayam yang ada. “Dan, diferensiasi itu kami letakkan pada mie yang kami buat sendiri,” ujarnya, tentang mie buatannya yang memiliki bentuk kecil-kecil dan teksturnya tidak berubah meski sudah dalam kondisi dingin, tidak menggunakan bahan kimia sama sekali, tanpa air, dan full telur.

Selanjutnya, Mie Ayam Grobakan pun dibuka pada hari kedua ramadhan 2008. “Masalah pembukaan ini bagi saya penting sekali.Karena, kalau sudah menancap di kepala konsumen, pasti bisnis ini long lasting,” katanya. Kemudian, sarjana periklanan dari Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik ini,membuat brosur dan menyebarkannya ke mana-mana di mana hal ini sampai sekarang masih terus ia lakukan per tiga bulan sekali.

Namun, lantaran saat itu masih bekerja di sebuah production house (PH),kelahiran Jakarta, 3 Mei 1972 ini belum fokus di usaha ini. Imbasnya, antara tahun 2009 hingga pertengahan tahun 2010, karena kurang terkontrol, maka terjadi kebocoran dalam keuangan. Tapi, ternyata, dari sini muncul ilmu baru yaitu bagi hasil dengan karyawan.

Lalu, karena merasa stamina sudah tidak kuat lagi mengikuti ritme kerja di PH, Wahyu memutuskan resign dan fokus di usahanya. Hasilnya, omset kembali normal, sebulan bisa sampai Rp6 juta. Tapi, dalam perjalanannya, ia merasa omset sebesar itu tidak mencukupi lagi untuk biaya hidup. Akhirnya, terpikir untuk membuka cabang.

“Namun, ketika menyadari risikonya, saya mempunyai dua alternatif yaitu mie-nya di lempar ke pasar atau dimitrakan. Kalau mie-nya dilempar ke pasaran, harganya lebih mahal daripada mie yang lain yaitu Rp25 ribu/kg. Bisa jadi nanti cuma dilalerin. Pilihan terakhir,tentu saja dimitrakan,” ungkap pria, yang membuka usahanya di pinggir Jalan Merpati 6, Perumnas Depok I ini.

Pada tahun 2010, Mie Ayam Grobagan pun menawarkan kemitraan dengan harga Rp8,5 juta. Karena, modal awal membuka usaha ini hanya Rp27 juta. “Kalau saya mahalkan, kasihan mitra saya, modal mereka lama kembalinya. Selain itu, kepada calon mitra yang datang selalu saya informasikan yang serba jelek di usaha ini, agar mereka aware jika usaha ini tidak gampang. Sekali pun, bagi sebagian mitra, nilai kemitraan ini dianggap kecil,” ucapnya.

_mg_8803

Dengan itu, mitra mendapatkan booth, peralatan masak, dan bahan baku sebanyak 10 kg atau 120 porsi plus brosur. Jika brosur-brosur tersebut disebarkan dengan baik dan benar, 120 porsi akan habis dalam sehari. Jika bahan baku sudah habis, mitra harus membeli lagi, dengan harga Rp25 ribu/kg dan minimal pembelian 25 kg.“Mie ini, jika ditempatkan dalam freezer, bisa tahan sampai dua bulan,” tambahnya.

Di luar itu,Wahyu tidak menjanjikan apa pun. Tapi, dari hasil riset, dengan perhitungan sewa tempat dan besarnya penjualan, akan diketahui kapan balik modal. Seperti, penjualan 25 porsi maka akan balik modal empat bulan, 50 porsi (dua bulan), 75 porsi (sebulan), dan pada penjualan 100 porsi maka 25 hari sudah balik modal.

Di samping itu, dalam usaha yang dapat dijalankan tanpa pegawai ini tidak dibebankanroyalty fee.Mitra justru akan mendapatsupporting melalui gathering yang diadakan setiap tahun. “Dalam gathering, kami sudah seperti keluarga di mana yang baru membuka usaha bisa bertanya ke mereka yang sudah sukses,” ujarnya. Imbasnya, Mie Ayam Grobakan, saat wawancara ini dilakukan,memiliki 252 mitra yang tersebar di Aceh, Makassar, Bali, Lombok, dan Jabodetabek.

Namun, tidak boleh dikatakan kemitraan ini berjalan dengan mulus, ada yang terus buka, ada juga yang kemudian tutup, tapi kemudian buka lagi di lokasi yang lain. Sehingga, total hanya 60% mitra yang aktif. Tapi, di sini,mitra boleh membeli kemitraan lebih dari satu dan dalam hal ini sudah ada lima mitra yang mempunyai lebih dari satu outlet. Wahyu pun tidak menargetkan jumlah mitra, ia lebih suka menambah varian menu dan mengembangkan diri dengan membuat Mie Goreng Grobakan yang dibuka ramadhan 2014.

Check Also

Harus Pandai Membaca Karakter Orang

Fairuz (Redline Bags)   Membangun bisnis di dalam bisnis dan satu sama lain berhubungan itu …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *