Home / Kiat / Gaet Pelanggan dengan Modifikasi Logo dan Harga

Gaet Pelanggan dengan Modifikasi Logo dan Harga

Ayam Bakar Mini

Untuk bisa masuk ke tengah persaingan pasar kuliner yang semakin ketat, pemain baru harus melakukan banyak cara. Di antaranya, melakukan modifikasi seperti yang dilakukan Ayam Bakar Mini

[su_pullquote align=”right”]Dengan melihat logonya saja, sudah mampu menarik konsumen untuk datang dan lalu mencoba menunya[/su_pullquote]

e-preneur.co. Beberapa bisnis kuliner waralaba dari mancanegara, mulai dari kedai kopi hingga restoran cepat saji, pada umumnya sukses menggaet konsumen di negara kita, khususnya. Terbukti dari gerai-gerai mereka, yang menjamur bak cendawan di musim hujan ke seluruh penjuru Tanah Air. Keuntungan pun terus mengalir ke kantong para pemilik usaha tersebut.

Hal itu, membuat para pengusaha pemula di Indonesia, mendambakan usaha mereka juga digemari seperti halnya usaha-usaha tersebut. Tapi, tidak gampang memang untuk menggapainya. Sebab, harus memulainya dari nol dan jatuh bangun terlebih dulu. Seakan, tidak ada kunci lain bagi mereka, selain harus melakukan inovasi.

ayam-bakar-3

Namun, inovasi dalam dunia bisnis bisa berarti pula memodifikasi usaha yang telah ada. Bagi pengusaha Tanah Air, hal ini dikenal dengan istilah ATM (Amati, Tiru, dan Modifikasi). Dan, ternyata, cara tersebuttelah sukses mengangkat beberapa pengusaha lokal. Salah satunya, Wantoro, pemilik Ayam Bakar Mini (ABM).

Setelah gagal berbisnis di beberapa jenis usaha kuliner, Iwan, begitu ia akrab disapa, akhirnya bermain di usaha ayam bakar. “Awalnya, saya pulang  kampung ke Pemalang. Di sana, saya melihat ada pedagang ayam bakar tapi bentuknya mini, dengan harga yang mini pula. Dari sini, saya berpikir, mengapa tidak membuat usaha seperti itu di Jakarta.Mengingat, di Jakarta masih langka,” cerita Iwan.

Lalu, Iwan pun membuka ABM seperti yang ada di kampung halamannya pada tahun 2010. Tapi, dikemas lebih moderen. “Untuk itu, saya membuatnya berdasarkan pengamatan saya di beberapa restoran papan atas, mulai dari pelayanan, citarasa, desain outlet, kebersihan, bahkan logonya. Lalu, saya tiru dan modifikasi,” ungkapnya.

Dalam hal ini, ia meniru logo McDonald’s (McD), lantas memodifikasinya dengan tulisan ayam bakar di atas logo, dan mengganti tagline resto cepat saji itu dengan “all lovin’ it!”. “Saya ingin mengangkat ABM, salah satunya dengan menggunakan kekuatan logo ini,” lanjutnya.

ayam-bakar-1

Iwan meniru logo resto waralaba asing itu, berkaca dari pengalaman beberapa pengusaha lokal lainnya, yang sukses setelah meniru logo beberapa usaha dari luar negeri. Ia tidak gentar, kalau nantinya pemilik brand melakukan somasi. Karena, ia sudah memiliki desain logo cadangan.

Logo McD yang hanya berganti tulisan itu, menarik perhatian calon pembeli. “Melihat logo ini saja, sudah banyak sekali konsumen yang tertarik.Mereka penasaran,ingin mencoba menu ABM,” tukasnya.

Tapi, ia tidak mau berhenti sampai di logo saja. Iwan pun membuat perbedaan sesuai dengan nama “mini” tadi yakni dengan harga mini, jauh di bawah harga ayam bakar umumnya.

Iwan juga membuat empat menu ABM yaitu porsi mini seharga Rp4 ribu, ABM plus nasi seharga Rp6.500, hingga ABM porsi sedang yang harganya berkisar Rp8.500 hingga Rp11 ribu, dan ABM full yakni satu ekor ayam bakar seharga Rp32 ribu. “Harga yang sangat mini atau murah itu pula yang membuat banyak pembeli, yang akhirnya menjadi pelanggan tetap kami,” katanya.

Namun, menurutnya, harga dan logo ABM belum cukup untuk melanggengkan loyalitas pelanggannya. Untuk itu, ia harus melakukan inovasi setiap saat agar tercapai citarasa, yang benar-benar bisa menjadi keunggulannya.

“Akhirnya, saya juga menemukan polesan sendiri, yang berbeda dengan para pesaing,” kata Iwan, yang menanamkan modal awal Rp8 juta di usaha ini.Polesan tersebut, berasal dari bahan baku tomat, garam, dan gula. Sehingga, rasa ayam bakarnya perpaduan rasa asam, asin dan manis.

Alhasil, setahun setelah usaha ini berjalan, Iwan berhasil mengantongi omset bersih Rp150 ribu/hari dari masing-masing outlet-nya. “Untuk itu, saya menghabiskan 3−5 ekor ayam/hari/outlet. Atau, sekitar 75 porsi/hari,” urai Iwan, yang saat itu sudah memiliki tiga cabang.

Menurut alumnus Teknik Tekstil Universitas Bandung Raya ini, prospek ABM dimungkinkan terus menanjak, layaknya restoran cepat saji McD. “Saya kan mensurvai berbagai usaha ayam bakar yang saya lihat. Rata-rata konsepnya biasa-biasa saja. Hanya, mereka merupakan pemain lama. Sehingga, sudah memiliki pelanggan tetap,” pungkasnya.

Check Also

“Naik Kelas” dengan Mengganti Gerobak Dorong dengan Outlet Permanen Berkonsep Restoran

Bakmi Gila Usaha kakilima banyak diminati para pelaku usaha. Selain itu, konsep PKL mempunyai potensi …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *