Home / Inovasi / Solusi Atasi Sampah
081003-N-2456S-020 ATLANTIC OCEAN (Oct. 3, 2008) Aviation Electronics Technician Airman Eric Syck burns trash in the incinerator aboard the aircraft carrier USS Theodore Roosevelt (CVN 71). The Nimitz-class aircraft carrier and embarked Carrier Air Wing (CVW) 8 are underway on a scheduled deployment. U.S. Navy photo by Mass Communication Specialist 3rd Class John Suits/Released)

Solusi Atasi Sampah

Incinerator ala Yotty

Sampah, apa pun jenis dan bentuknya, akan selalu ada selama manusia masih ada. Tapi, sampai sejauh ini, penanganan terhadapnya, boleh dikata, belum maksimal. Yotty mencoba mencarikan jalan keluar, dengan memodifikasi tempat pembakaran keramiknya menjadi tempat pembakaran sampah (incinerator). Dan, BNN pun memesannya

[su_pullquote align=”right”]Dapat digunakan untuk membakar narkoba (ganja, ekstasi), sampah basah/kering, sampah organik/non organik, sampah rumah sakit, penyakit tumbuhan, serta bangkai binatang dan kotorannya yang mengandung virus berbahaya.[/su_pullquote]

e-preneur.co. Bandung Lautan Sampah. Begitu, satu lagi julukan ibukota Provinsi Jawa Barat itu.

Sampah-sampah, baik yang menumpuk hingga membentuk bukit maupun yang bertebaran di sudut-sudut jalan, di kota yang mendapat julukan Paris van Java itu, tentu saja menimbulkan bau yang tidak sedap dan mengundang lalat untuk mengerumuninya. Ironisnya, sampah-sampah ini berdekatan dengan pasar, warung makan, dan bahkan rumah sakit.

Kondisi lingkungan yang tidak sehat ini, menimbulkan keprihatinan tersendiri di hati Siti Djuhro, seorang pengrajin keramik. Sehingga, muncullah ide di benaknya, untuk memodifikasi tempat pembakaran keramiknya menjadi tempat pembakaran sampah.

incinerator-2

“Kalau keramik saja dapat saya bakar dengan tempat pembakaran keramik, masa sih sampah nggak bisa? Padahal, tidak berbeda cara pemasangan burner, cerobong, dan relnya,” ujar, perempuan yang akrab disapa Yotty ini.

Lantas, pada tahun 2004, ia melalukan trial and error berulang kali, untuk menemukan bentuk yang pas berikut spesifikasi tempat pembakaran sampah, seperti yang ia mau. Setelah itu, ia menuangkannya dalam sketsa. Sehingga, dapat diwujudkan dalam bentuk nyata.Langkah terakhir yaitu menjelaskan kepada konsumen tentang apa itu incinerator (tempat pembakaran sampah, red.) tersebut, apa saja fungsinya, apa saja bentuknya, secepat apa mampu membakar sampah menjadi abu, dan sebagainya.

“Kami juga berkreasi dalam bentuk.Sehingga, tidak monoton dan konsumen pun menyukainya. Di samping itu, masing-masing tipe incinerator buatan kami memiliki kelebihan,” jelas Yotty, yang telah bergelut dengan bisnis keramik printing selama lebih dari 30 tahun.

Sekadar iniformasi, incinerator yang berbahan bakar gas dan listrik ini, dibuat oleh perusahaannya yaitu PT Global Cilegon Banten, memiliki aneka bentuk, seperti kubus, silinder, dan persegi empat. Sedangkan cerobongnya, dapat ditempatkan di tengah atau di pinggir, sesuai dengan keinginan konsumen.

incineratorIncinerator ini, ia melanjutkan, mampu membakar sampah dalam suhu tinggi yaitu1.500° C hingga 2.500° C. “Tapi, titik leburnya macam-macam, tergantung dari sampah apa yang akan dibakar. Misalnya, sampah yang berwujud ganja, cukup dibakar dengan suhu 700° C. Sedangkan ekstasi, membutuhkan suhu 1.000° C untuk melumatkannya,” ungkapnya.

Incinerator yang berkapasitas 1−4 ton ini, juga dapat digunakan untuk memusnahkan sampah rumah sakit (khususnya sisa-sisa organ tubuh), sampah basah, sampah kering, sampah organik, sampah non organik, penyakit tumbuhan (yang mungkin tidak berbahaya bagi manusia, tapi mematikan bagi tanaman-tanaman lain), serta bangkai binatang dan kotorannya yang mengandung virus atau bakteri berbahaya (virus flu burung, misalnya).

Untuk membakar sampah pada umumnya, ia menambahkan, dibutuhkan waktu maksimal lima jam. Sedangkan untuk sampah narkoba, diperlukan waktu 1−2 jam.

“Dengan ketentuan, jika akan membakar sampah basah, jangan semua sampah basah dimasukkan ke dalam incinerator. Sebab, akan susah dibakar. Yang harus dilakukan yaitu mencampurnya dengan sampah kering, dengan kapasitas sampah kering lebih banyak. Selanjutnya, susunannya diatur sedemikan rupa.Sehingga, api dapat membakar dengan sempurna,” katanya.

Di samping itu, ia melanjutkan, sebaiknya tabung hanya diisi ¾ dari kapasitasnya. “Bila sampahnya banyak, setelah melakukan pembakaran pertama dan sisa pembakaran diambil, biarkan incinerator beristirahat selama satu jam dengan cara didinginkan dengan blower, yang terdapat di dalam alat ini juga. Sesudah itu, gunakan untuk membakar sampah berikutnya. Demikian seterusnya,” jelasnya.

Sisa pembakaran dapat digunakan sebagai pupuk tanaman. Tapi, hal ini tidak berlaku bagi sisa pembakaran narkoba, yang bentuknya seperti abu rokok itu. “Saya sarankan untuk dikubur saja.Karena, tidak ada manfaatnya,” ujarnya.

Sedangkan asapnya setelah keluar sebagai hasil pembakaran pertama, akan dibakar lagi dengan suatu alat yang juga terdapat dalam cerobong itu.Sehingga, ternetralisasikan dan tidak berbahaya lagi. Sekadar informasi, khusus tentang asap dari hasil pembakaran narkoba ini, telah mengalami uji coba dari Kementerian Lingkungan Hidup dan dinyatakan tidak mengandung apa pun lagi alias aman.

Incinerator yang dibuat oleh Yotty dibantu enam orang yang ahli dalam bidang casing, batu, kayu, burner, pemasangan cerobong, serta umum, dan beberapa karyawan lain ini, ditawarkan dengan harga (saat itu) minimal Rp1 milyar.Berikut garansi lima tahun untuk body frame dan setahun untuk bahan bakunya yang masih diimpor.

“Menurut perkiraan saya, incinerator saya ini akan mampu bertahan 50 tahun. Sebab, saya membuat casing-nya dengan besi terbaik. Buktinya, ketebalan besi casing tempat pembakaran keramik saya hanya 3 mm dan sampai sekarang (lebih dari 30 tahun), masih berfungsi dengan baik. Sedangkan incinerator saya, memiliki ketebalan besi 10 mm. Batunya, saya letakkan vertikal dengan ketebalan 20 cm.Padahal, biasanya horizontal dengan ketebalan 5 cm. Lebih dari itu semua, untuk membakar keramik dibutuhkan suhu 1.250° C, sedangkan untuk sampah maksimal hanya 1.000° C,” jelasnya, tanpa bermaksud promosi.

Tidak ada kendala? “Mungkin, kendala justru muncul dari para pemakainya, yang kurang paham bagaimana memakainya.Meski, peraturan pemakaian sudah saya tempelkan pada incinerator tersebut. Mungkin, pada harganya yang terbilang tidak murah.Sehingga, tidak memungkinkan perusahaan-perusahaan kecil, terutama rumah sakit, untuk membelinya. Padahal, di luar kasusnya sebagai produk saya, incinerator ini sangat bermanfaat. Bukankah sampah itu selalu ada?” kata wanita, yang pada tahun 2006, mendapat pesanan dua unit incinerator dari BNN (Badan Narkotika Nasional).

Check Also

Cucian Bersih, Ekosistem Terjaga

Deterjen Minim Busa Isu ramah lingkungan membuat para pelaku usaha terus menggali ide untuk menciptakan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *