Home / Frontline / Musik untuk Menyatukan Kebudayaan

Musik untuk Menyatukan Kebudayaan

Miladomus

Tidak bisa dipungkiri bahwa alunan nada dan irama atau yang lebih dikenal dengan sebutan musik merupakan hal yang sudah sangat melekat dalam kehidupan pribadi seseorang. Tidak hanya sebagai pendengar, kita juga bisa berperan sebagai dalang di balik setiap keindahan nada dan irama tersebut. Karena itu, saat ini, sudah banyak kita jumpai usaha yang mengatasnamakan “musik”. Tapi, ada sedikit perbedaan untuk yang satu ini. Apa itu?

[su_pullquote align=”right”]Meski Guzheng berasal dari Cina, Miladomus tetap mengutamakan Kebudayaan Indonesia di dalamnya[/su_pullquote]

e-preneur.co. Guzheng adalah salah satu alat musik tradisional Cina, yang lebih dikenal dengan istilah Kecapi Cina. Alat musik yang dimainkan dengan cara dipetik ini, terbuat dari kayu dan berbentuk kotak cembung. Sementara di bagian atasnya, terbentang 21 senar yang diatur sesuai dengan nada pentatonis Cina yaitu do, re, mi, sol, dan la.

Nada pentatonis inilah, yang kemudian menjadi cikal bakal nama Miladomus. Sebab, mi, la, dan do merupakan tiga nada utama dalam Kecapi Cina tersebut, sedangkan mus merupakan kependekan dari kata musik.

img_0838Merunut ke belakang, pada tahun 2000, sekelompok orang memperkenalkan Musik dan Kebudayaan Cina ke masyarakat Indonesia. “Waktu itu, masa Pemerintahan Gus Dur, yang memberi kebebasan kepada berbagai budaya, termasuk Budaya Cina. Dari situlah, saya dan teman-teman mulai ngamen dari satu tempat ke tempat lain di mana masing-masing membawa kecapi,” kisah Leny Tjandra, salah satu pendiri dan pemilik, juga pengajar di Sekolah Musik Miladomus.

Akhirnya, pada tahun 2008, didirikan sebuah sekolah musik Kecapi Cina dengan nama Sekolah Musik Panda. “Awalnya, nama kami Panda. Tapi, waktu tampil di luar negeri, mereka tertawa mendengar nama itu. Maka, kami ganti nama yang lebih dewasa dan jadilah Miladomus,” tutur kelahiran tahun 1976 ini.

Miladomus didirikan dengan latar belakang dan tujuan untuk saling memperkenalkan budaya yaitu antara Budaya Cina dan Budaya Indonesia. “Kami selalu berupaya untuk memasukkan lagu-lagu Indonesia di setiap penampilan kami. Bahkan, di beberapa kesempatan, kami pernah berkolaborasi dengan Kecapi Sunda dan Kecapi Jawa. Karena, menurut kami, meski alat ini berasal dari Cina, kami tetap harus mengutamakan Kebudayaan Indonesia di dalamnya,” tambahnya.

img_0845Sekolah musik yang berlokasi di kawasan Taman Jatibaru, Cideng, Jakarta Pusat, ini juga melakukan kerja sama dengan beberapa sekolah musik lain untuk melebarkan sayapnya. Selain itu, mereka juga ikut berpartisipasi dalam kegiatan ekstrakurikuler di BPK Penabur, Jakarta. “Kalau untuk yang di Cideng, kami mempunyai sekitar 100 murid. Tapi, kalau untuk keseluruhannya bisa mencapai 200 murid,” jelasnya.

Sementara untuk menunjang kegiatan kursusnya, Miladomusmenyediakan beberapa fasilitas. “Kami memiliki kelas-kelas, studio untuk murid yang mau rekaman, dan satu ruang konser. Selain itu,keyboard, gitar, dan Biola Cina, serta sekitar 20 kecapi,” paparnya.

Di sini, juga terdapat kelas privat yang dibagi menjadi beberapa level yakni level dasar sampai level delapan. Sistem pengajarannya mengadopsi kurikulum langsung dari Cina dan tambahan dari Budaya Indonesia.

“Untuk level dasar, murid akan diajarkan cara memetik kecapi. Kemudian, dilatih sikap dan posisi duduk yang pas dan benar ketika memainkannya. Karena, nantinya akan membantu energinya,” jelas Eni Agustien, yang juga salah satu pendiri dan pemilik, sekaligus pengajar di Sekolah Musik Miladomus.

Untuk naik ke level yang lebih tinggi, murid akan melalui ujian yang diadakan dua kali dalam satu tahun. Setelah lulus ujian ini, murid akan naik ke level berikutnya. Pada level lima dan seterusnya, murid diminta untuk membuat karya berupa lagu yang diciptakan dan diaransemen sendiri. Leny menuturkan bahwa pada tahap inilah, musikalitas murid itu digali lebih dalam.

img_0862Di level terakhir, murid akan tampil pada konser tunggal di mana mereka akan membawakan 8–10 lagu. Setelah itu, mereka dituntut untuk bisa mengajar dan tampil di berbagai acara, layaknya seorang profesional.

Selain kelas privat, ada pula kelas yang disebut music for fun. Kelas ini, lebih banyak diisi oleh orang tua atau lansia (lanjut usia) yang belajar memainkan Guzheng hanya untuk kesenangan tersendiri atau kebutuhan lainnya.

“Ada beberapa orang tua yang datang belajar hanya untuk senang-senang saja, sekaligus refreshing. Ada juga yang untuk kebutuhan tertentu. Di sini, ada murid yang sudah berumur 70 tahun,” ungkapnya.

Kegiatan sekolah musik ini juga termasuk padat, dengan adanya beberapa event di dalam maupun di luar sekolah. “Ya, memang kegiatan kami sangat padat. Setiap 3–4 bulan, kami selalu mengadakan konser untuk para murid. Lalu, ada kompetisi setiap tahunnya. Ditambah lagi, undangan untuk tampil pada beberapa acara di luar sekolah,” kata Eni, yang lahir di Malang tahun 1976 ini.

Sekadar informasi, Miladomus sudah beberapa kali berpartisipasi dalam beberapa acara di luar negeri. Salah satunya, Third International Rondalla Festival di Filipina.

“Kalau untuk jam kursus, kami mengikuti standar sekolah musik yaitu satu bulan empat kali atau satu minggu satu kali dan satu kali pertemuan 45 menit. Di minggu kelima, kami ambil untuk libur,” ungkap Leny.

Selain sebagai sekolah musik, Miladomus juga menjual beberapa unit Guzheng. “Ada beberapa orang yang menitipkannya pada kami untuk dijualkan. Satu unitnya seharga Rp3,8 juta,” lanjutnya.

Apabila Anda tertarik untuk mengikuti kursus Kecapi Cina di Miladomus, Anda tidak perlu merogoh kocek terlalu dalam. Cukup dengan Rp420 ribu, Anda sudah bisa mendaftar dan mengikuti kursus di sekolah musik yang pernah mendapat penghargaan dari MURI, atas rekor pemrakarsa dan penyelenggara pagelaran musik kecapi dengan peserta terbanyak ini.

Check Also

Ketika Para Perantau Kangen dengan Kampung Halamannya

Bubur Samin Bubur Samin bukanlah makanan tradisional Solo, tapi menjadi menu takjil yang ikonik di …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *