Home / Frontline / Tembus Pasar Keripik dengan Kemasan Apik

Tembus Pasar Keripik dengan Kemasan Apik

Kele

Dalam memasarkan produk, kemasanlah yang pertama kali dilihat calon konsumen. Berlandaskan hal itu, Lisma pun mengemas Keripik Lelenya dalam kaleng yang eye catching. Imbasnya, produk tidak hanya “naik kelas”, tapi juga terjaga kerenyahannya

[su_pullquote align=”right”]Kalau dengan kemasan plastik dijual Rp15 ribu, orang mungkin mikir. Tapi, kalau dengan kemasan kaleng begini, orang pasti mau[/su_pullquote]

e-preneur.co. Packaging atau kemasan bisa menjadi nilai tambah suatu produk atau daya tarik bagi konsumen. Sehingga, mereka mau merogoh kocek lebih dalam untuk membeli barang itu.

Meski, sejatinya, produk yang baik yakni yang cantik di luar, juga cantik di dalamnya. Tapi, bagaimana pun, produk yang eye catching dapat membantu pemasaran menjadi lebih mudah. Dan, inilah yang diyakini Lisma Warni dalam memasarkan produknya yaitu Kele, perpaduan nama antara keripik dengan (ikan) Lele.

Lisma memproduksi Kele setahun lalu. Diakuinya, pemilihan Lele sebagai bahan baku tidaklah mudah. Karena itu, ia sempat menggunakan Ikan Tuna, Ikan Hiu, dan Ikan Pari. Kendati dari sisi rasa, tidak senikmat Lele. “Apalagi, dari segi harga, Lele relatif murah dan jarang sekali naik,” ujar penyuka Lele ini.

Nina-Keripik Lele (10)Selanjutnya, perempuan yang cuma bermodalkan Rp50 ribu dalam membangun usahanya ini berpikir, bagaimana caranya keripik yang selama ini ia jual dalam kemasan plastik itu bisa “naik kelas”. Di samping itu, kemasan tersebut juga harus bisa membuat Keripik Lele ini bertahan lebih lama.

Tercetuslah kaleng di mana hal ini juga dilatarbelakangi pangsa pasarnya yang menengah ke atas. Tapi, untuk memperoleh kemasan yang apik, Lisma harus memesan dari Jakarta. Sebab, di Medan, kemasan kaleng yang bagus belum ada.

Kemudian, Lisma pun memasarkan produknya dalam kemasan kaleng berbobot 75 gr. Bagian dalam kaleng tersebut, dilapisi aluminium foil. Sementara bagian luar kaleng, berwarna merah jambu menyala. Dengan desain kaleng yang sedemikian rupa, keripik ini pun memiliki level dan standar tersendiri di mata konsumen.

“Satu kaleng beratnya 75 gr dengan isi bersih 50 gr. Kalau dengan kemasan plastik dijual Rp15 ribu, orang mungkin mikir. Tapi, kalau dengan kaleng begini, orang pasti mau. Karena, kemasannya tidak sembarangan,” beber sulung dari tiga bersaudara ini. Di sisi lain, dengan kemasan kaleng, Kele bisa bertahan hingga satu tahun. Mengingat, kalengnya bertutup rapat.

Imbasnya, saat ini, dengan dibantu dua karyawan, kapasitas produknya yang semula hanya 5 kg/minggu, meningkat menjadi 30 kg/minggu. Selain itu, jika pada awalnya cuma dijual dari teman ke teman, kini sudah merambah Surabaya dan Jakarta. Untuk itu, perempuan berusia 32 tahun ini membukukan omset Rp20 juta.

“Saat ini, pemasaran produk saya mencakup dari teman ke teman, via online, atau telepon langsung. Sedangkan untuk toko ritel, belum saya masukkan. Karena, mereka menganut sistem barang ditaruh dulu, bayar belakangan. Sementara pelaku UKM seperti saya, membutuhkan perputaram modal. Jadi, saya belum pasarkan ke ritel. Saya memilih membentuk pasar sendiri,” jelasnya.

Sekadar informasi, usaha keripik ikan, khususnya Keripik Lele, belum ada di Medan. Kondisi ini, justru tidak diinginkan Lisma. Sebab, pada satu sisi, berbisnis tanpa pesaing memang menguntungkan.Tapi, di sisi lain, tanpa pesaing berarti tidak ada pembanding.

“Jujur, saya kesulitan mengenalkan Kele. Karena, banyak orang yang belum pernah melihat Keripik Lele. Sehingga, jika saya tidak memberi tester saat memasarkan, maka konsumen akan merasa seperti membeli kucing dalam karung. Apalagi, packaging-nya tertutup rapat. Lain halnya kalau ada pesaing, saya tidak begitu sulit lagi memperkenalkan keripik ikan ini,” paparnya.

Meski begitu, ia membulatkan tekad untuk terus memasarkan produk ini agar makin dikenal publik, sembari terus berinovasi yaitu dengan membuat Keripik Belut.

Check Also

“Naik Kelas” dengan Mengganti Gerobak Dorong dengan Outlet Permanen Berkonsep Restoran

Bakmi Gila Usaha kakilima banyak diminati para pelaku usaha. Selain itu, konsep PKL mempunyai potensi …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *