Home / Frontline / Tembus Pasar dengan Internet Marketing

Tembus Pasar dengan Internet Marketing

Abon Ikan Tuna

Dibandingkan dengan abon ayam atau abon sapi, abon ikan tuna memang masih kalah pamor. Padahal, tidak kalah bergizi dan lezat. Lebih dari itu, sebagai produk yang terbilang baru, peluang bisnisnya masih terbuka lebar. Apalagi, dengan sistem internet marketing, seperti yang dijalankan The House of Abon Tuna

[su_pullquote align=”right”]Abon Ikan Tuna Djoeraganz dipasarkan secara online, yang didukung oleh teknik-teknik internet marketing[/su_pullquote]

e-preneur.co. Bisa dipastikan, semua orang mengetahui dan pernah menyantap abon sapi atau abon ayam. Tapi, bagaimana dengan abon tuna?

Boro-boro pernah memakannya, ada produk pelengkap santapan atau lauk berbahan baku ikan tuna sirip kuning ini pun, mungkin sebagian besar dari kita baru sekarang mendengarnya.

Padahal, menurut Wahyu Utama Dewaputra, pemilikThe House of Abon Tuna, dibandingkan kedua abon tersebut di atas, abon tuna mempunyai manfaat alami yang berasal dari ikan tuna.Di samping itu, abon tuna diolah dari bahan baku pilihan yaitu ikan tuna sirip kuning (yellow fin),yang banyak terdapat di Perairan Indonesia.

“Sementara dibandingkan berbagai abon tuna lain yang beredar di pasaran, abon tuna kami mempunyai tekstur yang lembut.Sehingga, aman dikonsumsi oleh anak-anak (minimal berumur enam bulan,red.),” ungkap Tommy Funz, sapaan akrabnya.

Selain itu, ia melanjutkan, juga dilengkapi dengan sertifikasi halal dari LPPOM−MUI (Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan, dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia),dikemas secara praktis dan higienis dengan zipper lock, memiliki kandungan alami ikan tuna, serta tanpa pengawet dan MSG.

Sedangkan dalam pemasarannya, produk yang diambil dari sebuah tempat produksi di Cirebon ini dipasarkan secara online, yang didukung oleh teknik-teknik internet marketing, agar cepat dikenal oleh seluruh masyarakat Indonesia. Mengingat, pengguna internet di Indonesia mencapai 65 juta user.

abon ikan tuna-2

Ya, Abon Ikan Tuna Djoeraganz (merek produk ini, red.) hanya dipasarkan melalui facebook, BBM (BlackBerry Messenger), serta website dan toko online. Jadi, untuk membelinya dilakukan dengan cara menghubunginyamelalui SMS (Short Message Service), BBM, WA (WhatsApp) , e-mail, atau telepon.

“Lalu, sebutkan berapa jumlah yang dipesan dan apa saja rasanya (ada tiga rasa unggulan, red.) Selanjutnya, transfer sesuai total harga produk plus ongkos kirim sesuai kota yang dituju. Terakhir, transfer checked done, produk segera dikirimkan ke alamat pembeli,” jelas sarjana ekonomi manajemen perusahaan dari UPN (Universitas Pembangunan Nasional) Veteran, Yogyakarta, ini.

Di sini, ia menambahkan, ada minimum order yaitu tiga pieces untuk pembelian retil dan 30 pieces untuk reseller. Sekadar informasi, harga eceran atau end user produk ini Rp30.000,- yang dikemas dalam bobot 100gr.

“Kapasitas produksi kami saat ini 1 ton/bulan di mana 50%nya diserap pasar dan akan terus meningkat. Untuk itu, kami membukukan omset mencapai Rp100 juta–Rp150 juta per bulan,” ujar distributor Abon Ikan Tuna Djoeraganz ini.

Jika saat barang diterima konsumen dalam kondisi yang tidak seharusnya, misalnya rusak, maka The House of Abon Tuna yang berlokasi di Gang Globe, Kecamatan Jati, Kudus, Jawa Tengah, ini akan menggantinya dengan produk yang 100% baru plus bonus tertentu. “Tentu, sebelumnya kami akan meminta foto-foto kerusakannya dan melakukan verifikasi dengan pihak ekspedisi terkait,” imbuhnya.

abon ikan tuna-4Saat ini, diakuinya bahwa sebagai distributor lebih menguntungkan ketimbang menjadi produsen. Lantaran, ia bisa lebih fokus dalam penetrasi pasar, tidak direpotkan dengan proses produksi, dan lebih mampu menjangkau pasar atau bisa dekat dengan pasar.

Meski begitu, kelahiran Yogyakarta, 29 Desember 1973 ini tetap membutuhkan reseller untuk boosting sales, memudahkan pelanggan melakukan pembelian di kota terdekat, menghemat ongkos kirim bagi pelanggan, dan mengenalkan produk ini ke pasar dengan lebih cepat.

“Kami masih membutuhkan banyak reseller untuk seluruh Indonesia, minimal 500 reseller yang tersebar di penjuru Indonesia, dengan prioritas wilayah Jawa Timur, Yogyakarta, Sulawesi Selatan, Jawa Tengah, DKI Jakarta, Kalimantan Timur, Bali, Banten, Jawa Barat, dan Sumatera Utara,” ucap pria, yang membangun usahanya pada 5 Mei 2011 ini.

Di samping itu, Tommy Funz melanjutkan, setelah pemasaran secara online bisa dikatakan stabil, ia berencana membuka gerai offline. Dengan tujuan, mengokohkan positioning-nya sebagai salah satu produk best seller yang digemari masyarakat, sekaligus agar dapat membuka lapangan pekerjaan seluas-luasnya.

“Target kami, memiliki gerai offline dengan 50 karyawan atau lebih yang melayani semua kebutuhan pelanggan dan reseller di seluruh Indonesia dan mancanegara,” tegasnya.

Sementara ke depannya, ia berorientasi pada ekspor Abon Ikan Tuna Djoeraganz. Artinya, secara proses produksi sedikit demi sedikit dipantaskan untuk mendapatkan sertifikasi ekspor dari pemerintah dan instansi terkait. “Misi kami: membanjiri dunia dengan 100% produk asli Indonesia ini!” pungkasnya.

Check Also

“Naik Kelas” dengan Mengganti Gerobak Dorong dengan Outlet Permanen Berkonsep Restoran

Bakmi Gila Usaha kakilima banyak diminati para pelaku usaha. Selain itu, konsep PKL mempunyai potensi …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *