Home / Liputan Utama / rumahjahit.com

rumahjahit.com

Dahsyat!

Pantang menyerah dengan bisnis konveksinya yang gulung tikar, Unang pun bangkit dengan mengubah konsepnya yang semula offline menjadi online. Hasilnya, klien yang semula cuma dua, kini menjadi ratusan. Imbasnya, omsetnya pun membubung hingga 300%!

[su_pullquote align=”right”]Dengan online, omset yang dibukukan jauh lebih besar[/su_pullquote]

e-preneur.co. Bila ingin bertahan dalam dunia bisnis, maka ikutilah kemauan pasar. Tapi, janganlah hal ini diartikan sebagai sekadar mengikuti arus atau latah.

Ada beberapa hal dalam bisnis itu yang harus terus dipertahankan hingga menjadi cirikhas, yang memudahkan konsumen atau pasar mengenalinya. Dan, inilah yang setidaknya dijalankan oleh rumahjahit.com.

IMG_1561

Tahun 2005, Unang Supriadi membangun perusahaan pengadaan seragam untuk kalangan menengah dan eksklusif. Lantaran sibuk di produksi dan melayani konsumen, perusahaan yang memiliki 10 penjahit ini hanya mempunyai dua konsumen besar.

Tahun 2008, karena adanya perubahan manajemen pada kedua konsumen besar itu, hubungan kerja sama mereka pun diputus.“Padahal, kami mempunyai banyak staf dan produk yang tidak dapat dijual, mengingat berupa seragam khusus. Akhirnya, kami ‘melempar’ seragam-seragam tersebut ke daerah-daerah bencana. Selanjutnya, kami terpaksa menutup perusahaan dan menjual semua aset,” kisah Unang.

Untuk mengisi waktu, Unang bergabung dengan sebuah komunitas bisnis. Di sinilah, ia memperoleh motivasi.Bahkan, hingga dikenalkan dengan seorang tokoh. Lalu, ia belajar tentang bisnis online pada tokoh tersebut selama tiga bulan.

Lantas, karena satu dan lain hal, ia memutuskan untuk belajar tentang bisnis online secara otodidak, di samping belajar ke teman-teman yang lain dalam komunitas bisnis itu. Total, ia belajar tentang seluk beluk bisnis online selama setahun dan selanjutnya berdirilah rumahjahit.com, sekitar tahun 2010.

Dengan demikian, Unang telah mengubah konsep bisnisnya dari offline menjadi online. Untuk itu, ia cuma menanamkan modal sebesar Rp100 ribu guna membeli domain. Sementara untuk tempat, ia menempatkan kantornya di lantai dua rumahnya yang terletak di Jalan Ceger Raya, Pondok Aren, Tangerang. Di kantor ini, ia mempekerjakan 10 karyawan sekaligus tim intinya.

IMG_1556

“Dengan online itu effort-nya kecil, serta pasarnya sangat luas dan tidak terbatas. Saat masih offline, batas usaha saya hanya 1–5 kilometer ke kanan dan ke kiri. Tapi dengan online, saya bahkan bisa merambah ke luar negeri, meski itu belum saya lakukan. Pasar saya masih sebatas di dalam negeri. Selain itu, dengan online, dari sisi modal juga lebih kecil. Apalagi, jika kita ikut mentoring bisnis. Sebab, di sini kita tidak hanya diajari cara berjualan, tapi juga mengelola aset, mengelola keuangan, dan lain-lain. Sementara dari sisi risiko pun lebih kecil dan lebih dari itu semua, omsetnya jauh lebih besar,” kata Unang, yang selama tahun 2010 dan tahun 2011 omsetnya melonjak 300%.

Risiko yang dihadapi rumahjahit.com semakin kecil.Lantaran, bisnis ini bekerja sama dengan mitra. Ya, rumahjahit.com mempunyai 16 mitra produksi di mana mereka merupakan para penjahit, yang menjalin kerja sama dengan sistem outsoursce. Mereka tersebar di Jakarta dan Bandung.

“Pengertian mitra di sini yaitu kami yang membeli bahan, memotong pola, dan sebagainya, lalu mitra yang mengerjakan/menjahitnya, dan selanjutnya kami yang mengurusi finishing-nya berupa quality control dan kadangkala proses membordir,” jelas lulusan SMA ini.

Dari sisi produk, rumahjahit.com masih “bermain” di seragam. Untuk itu, rumahjahit.com menyasar empat konsumen yaitu seragam sekolah, seragam kampus, seragam komunitas, dan seragam perusahaan dari kalangan menengah.

“Tahun 2012, kami lebih banyak ‘bermain’ di kampus (75%).Sedangkan yang 25% di perusahaan, komunitas, dan sekolah. Tahun 2013, permintaan dari perusahaan mengalami peningkatan 10%,” ungkap Unang, yang mempunyai 200 klien dari perguruan tinggi di antaranya UT, UIN, dan Al-Azhar.

Muluskan usaha ini? “Ya! Terbukti, selama dua tahun berturut-turut omset saya sebesar 300%. Complain pun dapat kami tangani dan besarnya hanya 2%,” tegasnya.

Untuk itu, tahun depan, ia berencana memiliki garmen yang besar. Selanjutnya, 2–3 tahun berikutnya, melalui garmen itu, ia akan menggapai pasar luar negeri. Itu artinya, usaha ini masih ingin memiliki perusahaan offline.

“Kami ingin merambah ke semua sisi. Menjadi jagoan di online saja, tidak bisa. Karena, semua ‘pintu’ menyediakan rezeki masing-masing. Jika dikatakan bahwa bisnis online itu semuanya atau selalu dahyat, bisnis offline pun banyak yang dahsyat. Jadi, kalau dua-duanya bisa kita raih, mengapa tidak?” lanjut kelahiran Bandung, 24 Mei 1975 ini, yang juga berencana menambah link baik di kampus maupun perusahaan, merambah rumah sakit, dan menambah karyawan.

Check Also

Harus Pandai Membaca Karakter Orang

Fairuz (Redline Bags)   Membangun bisnis di dalam bisnis dan satu sama lain berhubungan itu …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *