Home / Frontline / Roti Zaman Kolonial yang Masih Eksis

Roti Zaman Kolonial yang Masih Eksis

Bluder

Masa penjajahan Belanda tidak hanya meninggalkan kenangan pahit bagi masyarakat Indonesia, tapi juga kenangan manis. Salah satunya, mengenalkan kita dengan roti. Termasuk, Roti Bluder yang lalu menjadi oleh-oleh khas Madiun

[su_pullquote align=”right”]Bluder Kresna mampu memanjakan lidah dan menyebabkan konsumen mencoba sekali lagi dan lagi[/su_pullquote]

e-preneur.co. Belanda, bisa jadi merupakan salah satu negara yang dianggap berjasa dalam mengenalkan roti kepada masyarakat Indonesia. Sebab, di era kolonialisme Belanda, banyak toko roti yang didirikan. Termasuk, di kota kecil seperti Madiun.

DSC_6559

Toko roti yang ada, umumnya menjaga betul resepnya secara turun-temurun dan dari satu generasi ke generasi yang lain. Sehingga, citarasa dan tekstur roti tidak banyak berubah. Salah satu roti yang masih menjaga betul citarasa dan tekstur aslinya yaitu Bluder.

Bluder merupakan salah satu roti dengan resep yang sudah ada sejak lama. Dan, di Madiun, Roti Bluder seakan sudah menjadi ikon dan bawaan wajib kalau berkunjung ke kota itu. Menurut Lia Christy yang merupakan owner Bluder Kresna, Roti Bluder memang menjadi jajanan yang populer dan sudah ada sejak dulu. Bahkan, di zaman kolonial, roti ini sudah eksis.

“Ciri utama Roti Bluder yaitu teksturnya yang super lembut, empuk, dan serat roti ketika dirobek terlihat jelas. Tekstur luar dan dalam roti ini juga terlihat selalu basah. Karena kelembutannya inilah, Bluder menjadi roti primadona anak-anak hingga orang tua dan pendamping wajib minum teh di kala pagi dan sore hari,” ungkap Lia, yang menjadi penerus sang Ibunda, Lies Sudaryanti, dalam mengelola Bluder Kresna.

Konon, kelembutan tekstur Bluder, khususnya produksi Bluder Kresna, susah ditiru. Sehingga, meski hanya memiliki tiga varian rasa yaitu rasa cokelat, keju, dan kismis, tapi permintaan akan roti ini kian hari kian meningkat. Dan, walau harga di atas rata-rata di mana satu Bluder all variant dijual Rp6.000,-. tapi rasa Bluder Kresna dijamin premium.

“Kebanyakan konsumen saya mengaku, jika Bluder produksi kami mampu memanjakan lidah dan bisa menyebabkan untuk mencoba sekali lagi dan lagi. Nah, salah satu rahasia dari kami agar Bluder memiliki citarasa yang khas yaitu menggunakan bahan-bahan terbaik. Untuk bahan-bahan Roti Bluder kami, sebagian masih menggunakan bahan-bahan impor agar roti kami tidak berubah rasa dan teksturnya. Jadi, wajar jika harga Bluder Kresna di atas rata-rata,” ujar alumnus Universitas Atmajaya ini.

DSC_6558

Namun, Bluder tergolong roti basah. Sehingga, tidak bisa tahan lama dalam penyimpanannya. Menurut Lia, Bluder buatannya hanya mampu bertahan 3–5 hari dalam suhu ruang. “Sebenarnya, waktu simpan Bluder bisa diperpanjang dengan menambahkan bahan pengawet kimia. Tapi, kami enggan menggunakannya. Karena, sedikit banyak akan mempengaruhi rasa. Dan, jangan sekali-kali menyimpan Bluder di lemari es! Sebab, tekstur Bluder akan berubah menjadi agak keras,” tambahnya.

Melihat perjalanan dan lika-liku yang sudah dilalui Bluder Kresna, ternyata tidaklah semulus jalan tol. Jatuh bangun sudah dirasakan oleh Lies Sudaryanti, mulai dari susahnya pemasaran hingga seretnya produksi. Namun, jika melihat perkembangan perusahaan Bluder Kresna sekarang, Lia dan sang Ibunda pantas menyunggingkan seulas senyum.

“Dulu, Bluder masih belum se-booming sekarang. Dari 100 potong yang kami produksi, seringkali tidak habis dalam semalam. Namun, sekali layar dibentangkan, kami enggan surut. Perlahan-lahan, kami bangkit. Dan, Bluder pun pelan-pelan mulai dikenal oleh masyarakat luas. Saat ini, dengan dibantu tujuh pegawai, setiap hari kami memproduksi Bluder hingga 2.000 potong. Pada bulan-bulan tertentu seperti liburan, produksi akan meningkat,” pungkas Lies.

Check Also

Ketika Para Perantau Kangen dengan Kampung Halamannya

Bubur Samin Bubur Samin bukanlah makanan tradisional Solo, tapi menjadi menu takjil yang ikonik di …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *