Home / Liputan Utama / Omset Terangkat dengan Desain Khusus

Omset Terangkat dengan Desain Khusus

Bisnis Busana Muslim

(Manet)

Lebaran tinggal dalam hitungan hari. Umat Islam pun mulai bersiap-siap menyambut datangnya Hari Kemenangan atau lebaran, dengan busana yang pantas. Sementara, di sudut yang lain, para pebisnis busana muslim pun tak mau kalah memanfaatkan momen itu dengan meraup pemasukan sebesar-besarnya.Termasuk Manet, yang saat puasa sekali pun telah terangkat omsetnya 2−3 kali lipat

[su_pullquote align=”right”]Saat puasa, omset Manet naik 2−3 kali lipat[/su_pullquote]

manet-2e-preneur.co. Lebaran identik dengan baju baru. Tak afdal rasanya, bila menyambut Hari Kemenangan itu tanpa mengenakan busana baru.Lebih tepatnya,pakaian yang biasanya tidak dikenakan pada momen-momen di luar Idul Fitri alias busana bernuansa Islami.

Hal ini, ditangkap dengan manis oleh para pebisnis buasana muslim. Salah satunya, Manet, yang dibuka pada tahun 2007 silam. Berdasarkan pengalaman kala membuka toko busana muslim di kawasan Tanah Abang, Jakarta Pusat sekitar tahun 2002−2003,Badroni Yuzirman menuturkan bahwa memang saat puasa dan lebaran,penjualan baju muslim laku keras hingga booming.

“Pada bulan-bulan ‘biasa’, Manet rata-rata berproduksi sebanyak 10.000 pieces/bulan. Tapi, kala peak season yang terjadi pada trisemester terakhir dan biasanya jatuh pada bulan puasa dan lebaran, kami meningkatkan kapasitas produksi 2−3 kali lipat. Sementara untuk produk kami yang menjangkau busana kasual sampai formal, bila pada bulan-bulan ‘biasa’ kapasitas produksi yang bersifat kasual lebih banyak daripada yang formal, maka pada bulan puasa dan lebaran menjadi sebaliknya,” kata pemilik Manet ini.

Meski begitu, Manet yang berlokasi di kawasan Ruko Permata Kebayoran Plaza, Jakarta Selatan, ini tidak tergoda untuk meraup pemasukan sebesar-besarnya dengan berproduksi melebihi permintaan. Mengingat, begitu bulan puasa dan lebaran berakhir, maka tak ada lagi konsumen yang berkunjung. Padahal, bisa jadi sisa barang yang kemarin masih ada, sedangkan barang baru terus diproduksi. Imbasnya, penjualan justru drop dan para penjahit pun menganggur hingga pertengahan tahun berikutnya.

“Saya tidak mau seperti itu. Saya beranggapan bisnis itu harus bersifat jangka panjang. Saya lebih suka yang laku sedikit-sedikit tapi bersifat terus-menerus atau stabil, dibandingkan sekarang laku besar-besaran namun besoknya sama sekali tidak ada pembeli. Sebab, kami ‘kan tidak hanya berjualan saat puasa dan lebaran,” ungkap pendiri komunitas Tangan Di Atas ini.

Tanpa bermaksud mengecilkan siraman rezeki bulan puasa dan lebaran, tapi bagi sarjana di bidang manajemen dari Universitas Trisakti, Jakarta, ini, kedua momen penting umat Islam itu bukanlah momen yang sangat istimewa. Karena, bisnis busana muslim yang dibangun dengan modal awal sebesar Rp100 juta ini, berganti desain setiap dua bulan sekali (bahkan, saat ini pun sudah menyiapkan rancangan untuk momen setelah lebaran, red.). Dengan demikian, naik turunnya omset Manet tidak terlalu tergantung pada puasa dan lebaran.Lebih tepatnya, tidak terlalu signifikan.

[su_custom_gallery source=”media: 1989,1988″ limit=”8″ link=”lightbox” target=”blank” width=”350″ height=”530″ title=”never”]

“Cuma persiapannya yang lebih matang. Maksudnya, bila pada bulan-bulan ‘biasa’, desain dapat kami persiapkan 1−2 bulan sebelumnya. Tapi, untuk menyambut dan menghadapi puasa dan lebaran, kami sudah mempersiapkan desain khusus sejak awal tahun. Untuk itu, kami sudah meneropong tren mode ke depan.Misalnya, bahan apa yang nantinya digunakan dan bagaimana desainnya agar tidak ketinggalann mode. Biasanya, kami tidak pernah meleset. Karena, kami menghindari tren dan berpatok pada desain yang berlaku sepanjang tahun,” jelasnya.

Bagi Manet, ia melanjutkan,bulan puasa dan lebaran justru bulan take and give. “Kami take karena penjualan dan omset meningkat. Tapi, kami juga give dengan memberikan tunjangan hari raya kepada karyawan kami dan bersedekah. Sedangkan untuk konsumen yang loyal, kami mengirimi mereka parsel, hadiah, dan lain-lain,” katapria berdarah Minang ini.

Di sisi lain, bisnis busana muslim yang dipasarkan secara online ini terpaksa menahan diri untuk tidak berproduksi lagi demi menjaga brand dan eksklusivitas. “Memang akan selalu ada konsumen yang tidak kebagian. Tapi, nanti di momen berikutnya, mereka justru akan memperoleh produk baru. Karena, kami berganti desain setiap dua bulan sekali. Jadi, selain menjaga eksklusivitas, kami juga ingin membuat konsumen selalu penasaran untuk datang dan melihat produk-produk baru kami,” kata Roni, yang telah memenuhi pesanan dari hampir seluruh Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Hong Kong.

Padahal, dengan nada merendah Roni menambahkan, sebenarnya produk-produk Manet sama saja dengan berbagai busana muslim pada umumnya.Termasuk, yang diperdagangkan di Tanah Abang. Tapi, bila busana muslim di Tanah Abang didesain sendiri oleh pemilik toko, maka Manet memiliki tim perancang busana (fashion designer). Sehingga, produknya akan memberi kesan aktif dan dinamis.

“Manet ditujukan bagi keluarga muda muslim Indonesia dengan 1−2 anak, berumur 25 tahun–45 tahun, aktif, menyukai hal-hal baru, dan fashionable. Baju-baju Manet juga dapat dikenakan untuk acara-acara formal sekaligus bersantai (semi formal, red.).Misalnya, jins yang dipadupadankan dengan baju koko,” ungkap Roni, yang menggunakan sistem outsourcing dalam berproduksi. Untuk itu, ia menjalin kerja sama dengan beberapa perusahaan konveksi yang berlokasi di Jakarta, Bandung, Tangerang, Bogor, dan lain-lain.

Untuk harga, Manet yang menawarkan blus, setelan gamis, baju koko, jilbab, mukena, dan aksesoris ini mematok harga ratusan ribu rupiah. “Kalau pun ada kenaikan saat puasa dan lebaran itu tidak signifikan. Hal itu, lebih berkaitan dengan naiknya harga bahan baku dan biaya produksi,” katanya.

Busana muslim bukan lagi sebuah tren atau bersifat musiman. Dalam arti, hanya dikenakan pada acara-acara yang berhubungan dengan ibadah. Busana muslim sudah menjadi busana yang dapat dipakai sepanjang waktu dan dalam berbagai acara formal maupun santai. Bahkan, kini kecenderungan untuk mengenakan busana muslim sama dengan busana “biasa”. Dengan demikian, tidak ada salahnya merayakan “pesta kemenangan” dengan berbusana muslim, bukan?

Check Also

Harus Pandai Membaca Karakter Orang

Fairuz (Redline Bags)   Membangun bisnis di dalam bisnis dan satu sama lain berhubungan itu …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *