Home / Frontline / Usung Nama-nama Unik dan Menggelitik

Usung Nama-nama Unik dan Menggelitik

Pondok Terlarang

Latah atau mengikuti yang sedang tren, seringkali berkonotasi negatif. Tapi, apa yang dilakukan Davi dengan Sup Buah Quldi-nya tentu tidak dapat dikategorikan seperti itu. Sebab, Davi bukan sekadar mengikuti tren, melainkan juga melakukan inovasi, baik di produk maupun nama produk. Sehingga, konsumen pun tergelitik rasa penasaran mereka. Imbasnya, omset membubung dan bisnis menggurita

[su_pullquote align=”right”]Nama-nama ini, bukan sekadar cara untuk menarik perhatian konsumen. Bukan pula untuk menutupi kalau itu makanan atau minuman biasa dengan rasa yang biasa[/su_pullquote]

e-preneur.co. Menjamurnya suatu bisnis makanan atau minuman, biasanya akan memancing beberapa orang untuk ikut “bermain” di dalamnya. Hingga, akhirnya, makanan atau minuman tersebut booming.

Hal seperti ini, terjadi pula pada sup buah, yang sejak beberapa waktu lalu tumbuh bak cendawan di musim hujan di Jakarta. Imbasnya, minuman segar nan dingin ini merambah pula kota-kota lain, di antaranya Balikpapan.

IMG_0688Di kota yang terletak di Kalimantan Timur (Kaltim) tersebut, sup buah pun merajalela. Dan, hal itu, membuat Muammar Qadafi pun tertarik untuk membuka usaha ini.

Tapi, Davi, begitu ia akrab disapa, tidak ingin menyajikan sekadar sup buah. Untuk itu, ia melakukan inovasi dari komposisi buah yang digunakan dan mengusung nama, yang membuat orang-orang penasaran untuk merasakannya. Ia menamai produknya Sup Buah Quldi.

“Sup Buah Quldi memang berbeda dengan sup buah pada umumnya. Terutama, dari komposisi buah yang digunakan yaitu kurma, kismis Arab, nangka, kelapa, dan alpukat. Digunakannya kurma dan kismis Arab memang mengarah ke buah-buahan di Timur Tengah. Sementara nangka, kelapa, dan alpukat sekali pun ‘cuma’ buah pelengkap, tapi posisinya tidak dapat digantikan buah-buahan lain. Karena, keberadaan buah-buahan ini menambah citarasa kurma dan kismis Arab. Sehingga, menghasilkan rasa yang khas. Jadi, komposisi ini sudah pakem,” jelas Davi.

Lantas, di mana quldi-nya? Tentu itu pertanyaan yang muncul. “Dalam Bahasa Arab, sedikit perbedaan huruf saja akan menimbulkan arti yang berbeda. Dalam Bahasa Arab, buah terlarang yang dimakan oleh Nabi Adam dan menyebabkannya beserta Siti Hawa harus ‘turun’ ke bumi itu, ditulis khuldi, bukan quldi. Itu artinya, quldi tidak memiliki makna apa pun. Hanya, sebuah kiasan atau plesetan kata khuldi yang digunakan untuk membuat orang-orang penasaran,” ungkapnya.

Dan, Davi berhasil dengan strateginya. Orang-orang pun penasaran, datang ke outlet-nya, dan memesan minuman segar sekaligus mengenyangkan ini.

Imbasnya, setiap hari 100 cup tandas diserap konsumen di mana harga per gelasnya Rp10 ribu untuk wilayah Balikpapan, Samarinda, dan Bontang. Sementara, Sup Buah Quldi yang juga dapat ditemui di Makassar dan Jakarta ini dijual dengan harga Rp8 ribu/cup.

Sebenarnya, tamatan Sekolah Menengah Atas ini melanjutkan, pada awalnya Sup Buah Quldi dijual by online untuk menghindari risiko bisnis dan melakukan tes pasar terlebih dulu, untuk mengetahui sejauh mana rasa penasaran masyarakat. Selanjutnya, juga dipasarkan melalui BlackBerry Messenger.

IMG_0667“Ketika permintaan mulai banyak, saya membuka booth. Dan, pada April 2011, saya membuka mini resto berukuran sekitar 8 m x 10 m dengan nama Pondok terlarang,” kisahnya.

Selain menyediakan Sup Buah Quldi, Pondok Terlarang juga menyediakan menu-menu lain seperti Ayam Kampus (= ayam goreng tepung) yang dibanderol dengan harga Rp6 ribu–Rp13 ribu, PSK Nugget (= Pisang Susu Keju dalam bentuk nugget) seharga Rp10 ribu–Rp14 ribu, Salad Buah Dada (= salad buah, salad sayur, jus, dan sebagainya) seharga Rp8 ribu, dan Tahu Ranjau (= tahu goreng potong dadu yang diberi taburan bumbu pedas) seharga Rp6 ribu.

“Nama-nama ini, bukan sekadar cara untuk menarik perhatian konsumen. Bukan untuk menutupi kalau itu makanan atau minuman biasa dengan rasa yang biasa pula,” tegasnya.

Pondok Terlarang, ia menambahkan, hadir dengan konsep mini resto yang berkiblat pada jaringan resto Es Teler 77 dan dengan brand apa saja ada. Karena itu, interiornya dicat garis-garis dengan warna-warni ngejreng, yang dimaksudkan untuk menggambarkan keceriaan.

“Kebanyakan yang nongkrong di sini anak-anak muda dan mahasiswa. Dari sisi harga pun, mengarah ke mereka,” ucap Davi, yang sebenarnya lebih menekankan konsep take away.

Menilik prospeknya yang bagus dan tahan lama di Balikpapan, kelahiran Yogyakarta, 24 Desember 1986 ini pun menawarkan kemitraan dalam bentuk booth, khusus untuk Sup Buah Quldi. Harga kemitraan untuk smallbooth yaitu Rp10,7 juta dan untuk big booth Rp14 juta, tanpa franchisee fee dan royalty fee, serta berlaku seumur hidup. Sementra Return of Investment, dijanjikan dalam tempo dua bulan.

“Sekarang, kami telah memiliki 46 mitra yang sebagian besar tersebar di Kaltim, sementara sisanya tersebar di Makassar, Jakarta, Kendal, dan Bali,” ujar Davi, yang membukukan omset Rp2,5 juta/hari dengan penyumbang terbesar dari Sup Buah Quldi.

Bicara tentang masalah, sama dengan para pebisnis di Balikpapan yang lain, tak lain dan tak bukan yaitu sumber daya manusia (SDM). Mengingat, masyarakat Kota Minyak ini mempunyai gengsi yang terlalu tinggi. Padahal, untuk menjadi penjaga booth dibutuhkan mental yang kuat.

“Untuk itu, bekerja sama dengan mitra, kami mengikat SDM dengan sistem kontrak. Sehingga, sama-sama diuntungkan,” ungkapnya.

Sementara untuk pesaing, Davi justru menjual semua yang dijual oleh para pesaingnya. “Makanan atau minuman apa pun yang mereka jual dapat ditemui di Pondok Terlarang. Dengan demikian, konsumen yang pernah datang ke sini, tidak akan mungkin pindah ke tempat lain,” imbuhnya.

Rencana ke depan? “Pondok Terlarang memang nama yang unik. Tapi, dalam perkembangannya, saya akan mengeluarkan setiap produknya untuk berjalan sendiri-sendiri. Selanjutnya, saya akan ‘bermain’ di mal. Sehingga, nantinya, bersaing dengan berbagai brand yang sudah dikenal di berbagai mal. Konsep yang diusung yaitu merangkum semua konsep brand-brand itu,” pungkasnya.

Check Also

Membidik Kalangan Menengah ke Bawah

Alarm Rumah Made in Gresik  Kondisi perekonomian yang semakin sulit berimbas pada meningkatnya angka kriminalitas, …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *