Home / Frontline / Lokasi Mal, Harga Warteg

Lokasi Mal, Harga Warteg

Waroeng Gubrak Café and Resto

Makanan enak dan murah harganya tapi dikemas secara mahal, sering menjadi strategi jitu berbagai tempat makan guna menarik konsumen. Tak terkecuali Waroeng Gubrak Café and Resto, yang merupakan ajang belajar menjadi pengusaha para mahasiswa Gici Business School Batam. Hasilnya, setiap jam, tempat makan ini tidak pernah sepi pembeli

[su_pullquote align=”right”]Makanan yang tersedia, sebenarnya makanan yang pada umumnya disukai oleh orang-orang Batam, tapi kami membuatnya ala Waroeng Gubrak[/su_pullquote]

e-preneur.co. Apa yang terjadi jika sebuah lembaga pendidikan mempunyai usaha, yang dapat dijadikan sebagai ajang belajar para mahasiswanya? Jawabnya: Waroeng Gubrak Café and Resto (baca: Waroeng Gubrak, red.), yang dimiliki Gici Business School (GBS) Batam.

Di Batam, GBS memiliki tiga kampus yaitu di Batu Batam, Batu Aji, dan Kepri Mall. Di Kepri Mall inilah, sekolah tinggi ini mempunyai berbagai jenis usaha. Salah satunya, Waroeng Gubrak yang hadir atas inisiatif dan modal pemilik Yayasan GBS, serta ditujukan bagi para dosennya agar mereka kelola. Tapi, karena mereka tidak mau menjalankannya, maka akhirnya Waroeng Gubrak pun diambil alih oleh para mahasiswanya.

waroeng gubrak-2

“Waroeng Gubrak dibuka pada 12 November 2012.Karena, pemilik Yayasan GBS ingin agar mahasiswanya bisa belajar berbisnis sambil kuliah. Sehingga, nantinya, ketika kami sudah lulus dan ingin menjadi pengusaha, maka kami sudah mempunyai bekal. Jadi, ini mata kuliah gratis di mana kami bisa kuliah sambil bekerja dan mendapat gaji, serta bagi hasil sebesar 40%,” kata Dosma Eprida Lumban Gaol, yang saat itu merupakan mahasiswi jurusan manajemen bisnis Gici Business School, sekaligus Kordinator Waroeng Gubrak Café and Resto.

Tempat makan yang terletak di Kepri Mall City Walk Lantai 2 ini, terbagi menjadi dua shiftjam buka yaitu pagi hingga sore (jam 07.30–jam 14.00) dan sore hingga malam (jam 14.30–jam 21.00). “Sementara yang menjalankannya total lima orang yaitu saya sebagai kordinator, Om Willy sebagai koki, serta Ester, Sonsan, dan Bais sebagai waiter. Jumlah kami tidak banyak. Karena itu, nantinya, kami akan ‘mengambil’ tiga staf yang memang harus stay di sini selama jam kerja,” jelas Dosma.

Penetapan atau pembagian tugas ini, ia menambahkan, ditentukan oleh pemilik Yayasan GBS. “Dalam pembagian kerja ini, sebagai kordinator, saya bertugas mengatur dan mengelola jalannya Waroeng Gubrak. Sementara sebagai chef, Om Willy bertanggung jawab atas semua masakan. Meski begitu, antara saya dengan Om Willy juga sering menjalin komunikasi untuk masalah bahan baku,” ungkapnya.

Ini berarti masing-masing tidak sibuk dengan tugasnya. “Intinya, semua yang ada di sini harus bisa semuanya. Saya, misalnya, harus bisa menjadi kasir dan tukang masak. Sedangkan Om Willy, tidak hanya menjadi chef, tapi kadangkala juga menjadi tukang cuci gelas dan piring. Kami bekerja saling melengkapi sekali pun sudah diplot dan tidak boleh menggantungkan diri pada yang lain,” tambahnya.

Sedangkan menurut Erianto Syofian, nama panjang Om Willy, “Waroeng Gubrak merupakan resto yang menyediakan semua makanan Nusantara (Jawa, Sunda, dan Oriental, serta Bali, Manado, dan Medan). Keunggulan Waroeng Gubrak yaitu makanan yang tersedia sebenarnya makanan yang pada umumnya disukai oleh orang-orang Batam, tapi kami membuatnya berbeda yaitu ala Waroeng Gubrak”.

IMG_0298

Selain itu, ia melanjutkan, Waroeng Gubrak juga menyediakan menu-menu tertentu yang hanya dapat ditemui pada hari-hari tertentu. Imbasnya, konsumen pun pada akhirnya mengetahui kapan mereka harus datang lagi, untuk mendapatkan menu tersebut. Misalnya, untuk dapat menikmati menu sayur bening bayam, ikan pepes, dan sapo tahu, mereka harus datang pada hari Senin. Sedangkan untuk bisa menyantap genjer Betawi dan sop tulang, mereka harus datang pada hari Selasa.

Waroeng Gubrak yang mengandalkan minuman teh tarik ini, hadir dengan konsep prasmanan dengan harga setiap sayur (waktu itu) Rp2.500, sedangkan untuk nasi gratis. Tapi, harga ini menjadi berbeda jika sayur diambil dalam piring tersendiri. Meski begitu, untuk tempat makan di dalam mal, harganya tetap terjangkau. Sehingga, setiap orang yang masuk ke dalam mal ini bisa ikut menikmati sajian dalam Waroeng Gubrak. “Dengan kata lain, meski berada dalam mal tapi harga hampir sama dengan warteg (warung tegal),” bebernya.

Mungkin, karena itu, Waroeng Gubrak yang menyediakan sekitar 60 kursi ini ramai pengunjung pada hari biasa atau hari kerja, tepatnya sekitar jam 11.00–jam 13.00. Apalagi, di sekitar Kepri Mall ini banyak orang kantoran. “Terlebih, setelah kami beroperasi lebih pagi lagi dari jam 10.00 menjadi jam 07.30. Hampir setiap jam selalu ada konsumen yang datang,” imbuh Dosma.

Bahkan, kini, pada hari Minggu yang biasanya sepi juga mulai agak terisi. Karena, di lantai atas mal ini terdapat gereja. “Kendati, lokasi Waroeng Gubrak hampir tidak terlihat,” ucapnya.

Ke depannya? Para pengelola Waroeng Gubrak ini menargetkan menambah omset hingga 50%. Dan, itu berhubungan dengan perkembangan mal ini di mana sekarang mereka telah membuka fasilitas ice skating danblitztheater. “Selain itu, juga membuka cabang di semua mal di Batam. Mengingat, mahasiswa kami juga banyak,” pungkas Om Willy.

Check Also

Ketika Para Perantau Kangen dengan Kampung Halamannya

Bubur Samin Bubur Samin bukanlah makanan tradisional Solo, tapi menjadi menu takjil yang ikonik di …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *