Home / Frontline / Satu Macam, Tapi Ada di Banyak Tempat

Satu Macam, Tapi Ada di Banyak Tempat

Soto Kwali Sukoharjo Makmur

Sebenarnya, Soto Kwali Sukoharjo Makmur sama dengan soto pada umumnya. Tapi, soto yang satu ini mampu mengembangkan dirinya hingga menjadi10cabang cuma dalam tempo tiga tahun dan tersebar ke seluruh Batam

[su_pullquote align=”right”]Soto Kwali Sukoharjo Makmur, pada hari-hari biasa “menghabiskan” 300–400 mangkok, sedangkan pada hari Minggu bisa sampai 500-an mangkok[/su_pullquote]

e-preneur.co. Soto. Siapa yang tidak kenal dengan makanan yang satu ini? Di luar itu, apa pun namanya dan dari mana pun asalnya, “wajah” dan rasanya hampir sama. Sehingga, bisa diterima oleh lidah siapa pun. Seperti halnya, Soto Kwali Sukoharjo Makmur (baca: Soto Kwali, red.).

Ya, menurut Tukiman, pemilik Soto Kwali Sukoharjo Makmur, pada dasarnya soto buatannya sama dengan soto pada umumnya. “Tapi, kami mempunyai cirikhas yaitu dalam memasaknya menggunakan kwali dari tanah yang kami datangkan dari Solo. Selain itu, kami mengemasnya dengan harga yang merakyat yaitu Rp10 ribu/porsi (soto campur nasi) dan menggunakan bahan baku yang berkualitas. Dalam arti, dagingnya masih segar,” jelasnya.

IMG_2527Kondisi soto dicampur nasi tersebut, pada awalnya membuat masyarakat Batam bertanya-tanya. “Saya jelaskan, jika itulah cirikhasnya. Tapi, kalau ingin nasi dan soto dipisah juga tidak apa-apa. Dalam perkembangannya, mereka bisa menerima. Bahkan, yang dulu bertanya-tanya, sekarang menjadi pelanggan tetap. Artinya, soto saya sudah diterima oleh berbagai suku di Batam,” lanjutnya.

Soto Kwali hadir pada tahun 2004 di kawasan Legenda Malaka (depan SMPN 12), Batam. Pada Oktober 2009, usaha ini mengalami kebakaran besar hingga habis-habisan. Tapi, sebulan kemudian bangkit lagi. Bahkan, pada tahun 2011, berkat bantuan teman-teman di komunitas masyarakat Jawa di Batam, usaha ini didaftarkan ke Kementerian Hukum dan HAM untuk dipatenkan.

Bukan cuma itu, pada tahun yang sama, Tukiman juga mem-franchise-kan usahanya. Tapi, karena masih pembelajaran, pria yang mengaku tidak sekolah ini menerapkan konsep franchise secara sederhana. Ia hanya mematok nilai franchise Rp30 juta (di luar bumbu yang harus dibeli setiap bulan, red.), sementara angkringan dan mangkok disediakan oleh franchisor, sedangkan meja, kursi, dan tempat disediakan oleh franchisee.

Kerja sama ini berlangsung selama dua tahun. Jika ingin diperpanjang, franchisee cukup menandatangani kontrak kerja sama baru dan membayar Rp5 juta/tahun. Setelah usaha tiga bulan berjalan, franchisor baru menarik royalty fee-nya sebesar 5% dari omset kotor per bulan.

Untuk tempatnya, belum ada patokan. Karena, usaha tersebut bisa saja dibuka di perumahan atau ruko. Demikian pula, dengan Break Even Point dan Return of Investment.

[su_slider source=”media: 1748,1747,1746,1743,1742″ width=”800″ height=”540″ title=”no”]

“Sebab, salah satu franchisee kami dalam sebulan bisa membukukan omset Rp113 juta. Sehingga, otomatis sudah balik modal,” kata kelahiran Sukoharjo, 7 Agustus 1964 ini. Sekadar informasi, warung makan yang dibuka dari jam 7 pagi hingga 9 malam ini, pada hari-hari biasa “menghabiskan” 300–400 mangkok, sedangkan pada hari Minggu bisa sampai 500-an mangkok.

“Sebenarnya niat mem-franchise-kan belum ada, tapi masalahnya sudah ada yang meminta. Di sisi lain, saya ingin mengembangkan usaha ini. Kalau mencari orang-orang untuk memegang usaha saya di suatu tempat itu susah. Namun, jika mereka itu mitra yang notabene ikut memiliki usaha ini, pasti yang bersangkutan juga bersemangat mengembangkan, tidak mau rugi juga karena sudah mengeluarkan modal,” tambahnya.

Saat ini, Soto Kwali telah memiliki 10 warung soto di mana empat di antaranya milik franchisee. “Kami berpikir, daripada banyak macam tapi hanya di satu tempat, lebih baik satu macam tapi di banyak tempat,” ujarnya.

Bukan cuma itu, Tukiman juga menargetkan merambah kota-kota besar di luar Batam. Dan, ia akan memulainya di Balikpapan di mana ia pernah tinggal selama enam tahun dan cukup mengenal masyarakatnya.

Check Also

Ketika Para Perantau Kangen dengan Kampung Halamannya

Bubur Samin Bubur Samin bukanlah makanan tradisional Solo, tapi menjadi menu takjil yang ikonik di …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *