Home / Frontline / Maksimalkan Kapasitas Tempat Sampah

Maksimalkan Kapasitas Tempat Sampah

Trash Press

Setiap orang membuang sampah setiap hari. Setiap orang pasti juga memiliki tempat sampah. Tapi, masalah sampah tidak berhenti begitu saja. Tofan yang menjadi “kurban” dari sampah mencoba mengurangi dampak sampah, dengan menciptakan Trash Press

[su_pullquote align=”right”]Trash Press berkapasitas tiga kali lipat lebih banyak ketimbang tempat sampah pada umumnya[/su_pullquote]

e-preneur.co. Sampah merupakan bagian dari kehidupan kita sehari-hari, yang seringkali menimbulkan masalah yang memusingkan. Terutama, bagi mereka yang mendapat tugas untuk membuang sampah. Sebab, telat beberapa menit saja, maka mereka yang setiap pagi memungut sampah dari rumah ke rumah (kita sering menyebut mereka sebagai tukang sampah, red.), sudah tidak terlihat lagi.

Akibatnya, sampah-sampah itu akan teronggok begitu saja hingga keesokan harinya. Bisa dibayangkan kan bagaimana baunya, di samping kotor karena berserakan setelah diacak-acak binatang atau pemulung, juga dapat memicu munculnya penyakit yang dibawa oleh lalat-lalat yang beterbangan.

myfotoUntuk itu, jangan malas membuang sampah. Sampah harus dibuang setiap hari, terutama untuk sampah basah. Sekadar informasi, berdasarkan komposisinya, sampah dibedakan menjadi pertama, sampah basah (organik) yaitu sampah yang mudah membusuk. Karena, berasal dari sisa makanan, sayuran, dedaunan kering, dan sebagainya. Sampah semacam ini dapat diolah menjadi kompos.

Kedua, sampah kering (anorganik) yakni sampah yang tidak mudah membusuk, seperti plastik atau kertas pembungkus makanan, botol dan gelas minuman, kayu, kaleng, dan lain-lain. Jika diolah, sampah ini dapat dijadikan sampah komersial atau sampah yang laku dijual. Sebab, ia dapat diolah menjadi produk lain. Di negara-negara berkembang, kapasitas sampah organik lebih besar daripada sampah anorganik yaitu 60%–70%.

Namun, kadangkala, muncul rasa malas untuk membuang sampah. Apalagi, bagi Raden Mochammad Tofan yang kerap pulang ke rumah dalam kondisi sangat lelah.

“Dalam seminggu, 3–4 kali saya diberi tugas membuang sampah setiap subuh oleh Ibu saya. Saya malas banget. Karena, saya sering pulang kemalaman. Biasanya, saya tidur lagi usai sholat subuh. Berangkat dari situ, saya berangan-angan seandainya bisa membuang sampah seminggu sekali, tentu tidur saya lebih nyaman. Cara satu-satunya untuk mewujudkan angan-angan itu yaitu dengan memaksimalkan tempat sampahnya,” tutur pemuda, yang akrab disapa Tofan itu.

Pada umumnya, Tofan melanjutkan, bila tempat sampah sudah penuh, maka ia akan diinjak-injak agar ada ruang kosong untuk sampah berikutnya. “Ide saya, bagaimana jika menekan tempat sampah itu bukan dengan kaki, karena terkesan jorok, melainkan dilakukan secara otomatis. Akhirnya, terciptalah desain alat penekan sampah yang sangat unik ini,” kata kelahiran Bogor, yang menamai produknya Trash Press.

Trash Press, ia menjelaskan, merupakan tempat sampah yang dilengkapi dengan alat penekan sampah. Fungsinya, untuk menekan sampah supaya ruang kosong yang dibuat, dapat diisi lebih maksimal.

“Prinsip kerja alat ini mudah banget: tekan dan sampah pun lebih padat! Dengan adanya Trash Press ini, efisiensi ruang tempat sampah bisa diperluas lagi. Sebab, Trash Press berkapasitas tiga kali lipat lebih banyak ketimbang tempat sampah pada umumnya. Sehingga, jika biasanya harus membuang sampah tiga kali dalam seminggu, kini cukup seminggu sekali,” ujarnya, agak berpromosi.

Penekan sampah ini, ia menambahkan, juga berfungsi sebagai penutup yang sangat rapat. Sehingga, binatang-binatang kecil seperti kecoa, nyamuk, semut, dan lain-lain, yang sempat masuk ke dalam Trash Press akan mati. Di samping itu, dengan semakin seringya alat penekan ini ditekan, maka tidak akan ada lagi ruang bagi hewan-hewan tersebut untuk hidup.

detail

Meski berawal dari tujuan untuk menyenangkan diri sendiri, dalam perkembangannya, Tofan tergugah oleh pemandangan yang dilihatnya setiap saat di Bandung, kota di mana ia tinggal. Seperti diketahui, Kota Kembang ini, mengalami masalah serius dalam hal sampah, tepatnya tempat pembuangan sampah akhir (TPSA).

“Masyarakat menolak wilayah mereka dijadikan TPSA. Karena, jorok, kotor, polusi, dan sebagainya. Sedangkan TPSA yang sudah ada, semakin sempit.Sehingga, lebih cepat terisi. Kalau setiap keluarga memaksimalkan tempat sampah mereka, tentu mereka tidak akan terlalu sering membuang sampah dan TPSA pun lebih dapat dijaga kapasitasnya,” jelasnya.

Sayang, Trash Press yang terbuat dari plastik PP (Poly Propylene) untuk tempat sampahnya dan alumunium untuk alat penekan sampahnya ini, belum dapat diproduksi.Mengingat, belum ada perusahaan yang mau memasarkannya. Selain itu, dibutuhkan waktu yang relatif panjang, untuk memperkenalkannya kepada masyarakat.

desainawal“Lebih dari itu, saya belum sempat mengajukan proposalnya kepada pemerintah daerah, yang dalam hal ini lebih berwenang terhadap masalah kebersihan ini,” ucap sarjana teknik geofisika, Institut Teknologi Bandung itu.

Selain itu, ia juga belum dapat memastikan apakah Trash Press ini untuk sampah organik atau sampah anorganik. “Dilihat dari desain awalnya, Trash Press ini difungsikan untuk menampung baik sampah basah maupun sampah kering. Tapi, sebaiknya memang sampah basah dipisah dari sampah kering atau sebaliknya,” imbuhnya, agak ragu.

Nantinya, ia melanjutkan, Trash Press yang berbentuk kotak berwarna hijau dengan tutup berwarna biru plus gagang penekan di atasnya itu, akan dijual dengan harga Rp30 ribu–Rp50 ribu. “Mungkin harganya bisa lebih murah lagi, kalau bahannya terbuat dari kayu atau bahan-bahan lain. Karena, bagian utama dari Trash Press adalah penekan sampahnya,” kata finalis Djarum Black Innovation Award 2008 ini.

Sedangkan untuk bentuknya sebenarnya bervariasi, disesuaikan dengan subyek penggunanya. “Untuk perumahan mungkin sama ukurannya dengan yang saya desain,” kata Tofan, yang menghabiskan waktu tiga hari untuk mendesain Trash Press.

Dalam business plan yang dibuatnya, Tofan menganggarkan modal awal sebesar Rp10 juta, yang digunakan sebagai biaya produksi. Dari modal sebesar itu, dapat diproduksi sekitar 100 Trash Press per bulan.

Pada dasarnya, setiap hari, setiap orang membuang sampah, setiap rumah memiliki tempat sampah, dan setiap orang memiliki keinginan membuat lingkungannya bersih. “Dengan hadirnya Trash Press, nantinya, saya berharap masalah sampah akan sedikit teratasi,” pungkasnya, berharap. Apa pun usaha dan bentuknya, bila itu menyangkut kebersihan harus didukung. Bukan begitu para investor?

Check Also

Cucian Bersih, Ekosistem Terjaga

Deterjen Minim Busa Isu ramah lingkungan membuat para pelaku usaha terus menggali ide untuk menciptakan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *