Home / Frontline / Bukan Untuk Yang Bermodal Pas-pasan

Bukan Untuk Yang Bermodal Pas-pasan

Sour Sally

Mempertahankan lebih sulit ketimbang membangun. Tapi, sebagai yang pertama, maka dialah yang selalu diingat. Begitulah yang terjadi pada Sour Sally, pionir froyo di Indonesia. Dan, ketika menawarkan franchise, setiap bulan outlet baru pun dibukanya

[su_pullquote align=”right”]Untuk bisa menjadi franchisee-nya, Sour Sally akan melihat kecukupan modal dan keseriusan mereka dalam mengelolanya terlebih dulu[/su_pullquote]

e-preneur.co. Kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda. Hal itu dibuktikan oleh Sour Sally, pionir frozen yogurt (froyo) di Indonesia.

Dibuka untuk pertama kalinya pada Mei 2008 di Senayan City, Jakarta, Sour Sally menimbulkan fenomena tersendiri, yang ditandai oleh antrian panjang pengunjung selama beberapa bulan. Bukan cuma itu, Sour Sally juga menimbulkan booming bagi bisnis sejenis. Imbasnya, dalam tempo dua tahun setelah beroperasi, Sour Sally pun tancap gas dengan membuka sekitar 20 outlet yang tersebar di beberapa ibukota provinsi.

sour sally-4Namun, kemudian, terpikir bahwa peluang bisnis semacam ini tidak hanya dapat diperoleh dari income sale. Dengan brand yang sudah dikenal orang banyak, harusnya juga memperoleh revenue yang lain.

Akhirnya, terbetik keinginan untuk mem-franchise-kan. Tahun 2009, Sour Sally menawarkan “franchise” dengan brand Yogu Buzz, yang merupakan second product Sour Sally dan…gagal. Sekali pun “berhasil” membukukan tiga outlet yang tersebar di Jakarta.

“Selain salah konsep, produk yang ditawarkan bukan Sour Sally. Yogu Buzz belum dikenal orang-orang. Mereka juga melihat Yogu Buzz tidak ada hubungannya dengan Sour Sally, meski tertulis Yogu Buzz by Sour Sally. Akhirnya, “franchise” Yogu Buzz kami tutup pada tahun 2012 dan franchisee terakhirnya yang tinggal satu kami ubah menjadi Sour Sally Mini. Selanjutnya, kami mengejar target franchise Sour Sally,” ungkap Bambang Sugeng Haryadi, General Manager Operational PT Berjaya Sally Ceria, perusahaan yang memayungi Sour Sally.

Tahun 2010, Sour Sally pun berbenah mempersiapkan konsep franchise. Konsep “franchise” Yogu Buzz diubah dengan hanya menawarkan satu produk: Sour Sally. Sementara tipe franchise yang ditawarkan yaitu Sour Sally Mini (baca: Mini, red.) dan Sour Sally Butik (baca: Butik, red.).

Franchise tersebut ditawarkan pada tahun 2012 atau pada saat Sour Sally baru berumur empat tahun. Sementara, peraturan mensyaratkan sebuah perusahan baru boleh di-franchise-kan minimal sudah berumur lima tahun.

sour sally-3“Menurut saya, lima tahun itu ketentuan untuk mendapatkan Surat Tanda Pendaftaran Waralaba (STPW). Di sisi lain, franchise itu lebih kepada kesepakatan bahwa kami mempunyai brand dan akan menawarkannya kepada orang lain. Ketika orang lain sepakat untuk mengunakan brand itu, kendati saya belum mempunyai STPW, apakah bisa dianggap sebagai pelanggaran. Tentu saja tidak. Karena, pada dasarnya, yang kami jual berupa komitmen. Memang yang mereka beli hanya brand dan brand identik dengan tulisan. Tapi, di dalam brand terdapat komitmen, Standard Operating Procedure, kelangsungan masa depan, dan sebagainya,” jelas Bambang.

Di sisi lain, ia melanjutkan, konsep franchise yaitu ingin membangun wirausaha dan wirausaha itu terdiri dari beberapa segmen. Dalam arti, ada yang mempunyai modal sedang dan ada pula yang mempunyai modal berlebih.

“Karena, itu, kami menawarkan Mini dengan nilai invesatsi kurang dari Rp200 juta dan Butik dengan nilai investasi lebih dari Rp800 juta,” ujar pria, yang juga menyandang jabatan Franchise Division Head ini.

Nilai investasi tersebut di luar tempat di mana jika Butik dibuka di mal-mal besar dengan luas outlet lebih dari 30 m², maka Mini dibuka di mal-mal menengah ke bawah seluas kurang dari 20 m². Lokasi ini, juga berkaitan dengan harga produk yang dijual tanpa mengurangi kualitas, jumlah varian produk, jumlah topping, mesin yang digunakan, dan lain-lain.

“Pada Mini, mesin yang digunakan cuma satu. Artinya, hanya akan menghasilkan dua rasa. Sementara Butik, menggunakan dua mesin, sehingga menghasilkan enam rasa. Selain itu, pada Butik juga terdapat tambahan produk-produk lain,” tambahnya.

Namun, seiring berjalannya waktu, terjadi pelebaran pada Mini. Karena, traffic tidak hanya di mal, melainkan juga di apartemen, misalnya. Sementara, apartemen identik dengan lifestyle, demikian pula Sour Sally.

“Dengan demikan, apartemen dengan sekian tower dipastikan adanya traffic, maka kami pun mencoba membuka Mini di sana dan ternyata bisa. Seperti, yang terjadi di Kalibata City di mana kami membuka Mini dalam sebuah ruko (rumah toko) berukuran 12 m². Jadi, di mana ada lifestyle dan banyak orang, di situlah sebagian pasar Sour Sally,” ucapnya.

sour sally-5Saat ini, Sour Sally telah memiliki 38 outlet di mana 12 di antaranya milik franchisee baik dalam bentuk Butik maupun Mini. Ke depannya, Sour Sally menargetkan membuka satu outlet per bulan.

Hal-hal inilah, yang membuat banyak orang tertarik untuk menjadi franchisee-nya. Untuk itu, Sour Sally akan melihat kecukupan modal mereka terlebih dulu. Sebab, orang-orang yang berinvestasi di sini tidak mungkin uangnya pas-pasan. Hal ini, akan berimbas pada masalah di belakang hari. “Bisnis tidak pernah memberi garansi: Anda membeli bisnis saya dan Anda akan untung!” tegasnya. Selain itu, franchise tidak dapat dibeli dengan cara kredit!

Kriteria lain yaitu keseriusan. Orang-orang yang hanya invest, sedangkan pengelolaan bisnis diserahkan ke Sour sally juga tidak masuk dalam kriteria franchisee Sour Sally. “Tidak ada kewajiban franchisee terlibat langsung. Dia bisa menyerahkan kepengelolaan pada orang kepercayaannya. Tapi, setidaknya dia concern,” ujarnya.

Selanjutnya, di samping harus membayar investasi seperti tersebut di atas, franchisee juga dipungut management fee sebesar 6% yang diambil begitu outlet franchisee beroperasi dan untung. Pengertian untung di sini yaitu dengan investasi untuk Mini, misalnya, maka target penjualan Rp32 juta/bulan. Kalau hanya ratusan ribu rupian per bulan, maka management fee itu belum bisa diambil.

“Bila sampai 2–3 bulan tetap belum sesuai target, maka kami akan mencarikan solusinya. Karena, fungsi dari management fee ‘kan membantu me-manage mereka,” jelasnya. Sementara untuk Return of Investment, di atas kertas maksimal 1 tahun 11 bulan. Tapi, rata-rata dapat dicapai dalam tempo 1,5 tahun dengan target penjualan Rp32 juta/bulan untuk Mini dan Rp170 juta/bulan untuk Butik.

Check Also

Menunya Ciamik, Tawaran Franchise-nya Menarik

SamWon House   Dalam bisnis yang mengusung konsep franchise, jika bukan keunggulan produknya yang dikedepankan, …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *