Home / Frontline / Batik Bermotif Ikon Jakarta

Batik Bermotif Ikon Jakarta

Batik Betawi

Tahukah Anda, bila ibukota negara kita ini juga memiliki batik yang dikenal dengan istilah Batik Betawi? Meski baru bisa ditemui di tempat-tempat tertentu, tapi batik yang satu ini mulai menarik perhatian konsumen

[su_pullquote align=”right”] Semua ikon Jakarta melekat pada Batik Betawi agar masyarakat lebih mengenal Kebudayaan Betawi[/su_pullquote]

e-preneur.co. Begitu berbicara tentang batik, maka yang terlintas dalam pikiran tentulah Kota Solo, Pekalongan, atau Yogyakarta. Sebaliknya, orang-orang pasti akan blank, bila berbicara tentang Batik Betawi.

Hal itu, bisa dimaklumi.Karena, selama ini, orang-orang memang tidak mengetahui jika ibukota negara ini juga memiliki batik. Selain itu, Batik Betawi juga berbeda dari sisi warna dan motif dengan batik ketiga kota yang dijuluki Kota Batik tersebut di atas.

batik betawi-2

Batik Betawi mempunyai motif yang khas berupa ikon-ikon Jakarta. Seperti, Boneka Ondel-ondel, alat musik Tanjidor, Tugu Monumen Nasional, Patung Pancoran, Tugu Selamat Datang, Masjid Krukut, Abang–None Jakarta, Pengantin Betawi, sampai Gedung DPR di Senayan. Selain itu, juga ada motif Pohon Mengkudu, yang mulai langka di Jakarta.

“Semua ikon Jakarta melekat pada Batik Betawi. Motif-motif tersebut memang digunakan agar masyarakat lebih mengenal Kebudayaan Betawi,” jelas Siti Laela, pemilik Sentra Batik Betawi Terogong.

Sementara dari sisi warna, batik tulis dan batik cap Betawi lebih bermain di warna-warna yang ngejreng. “Warna cerah dan mencolok menambah nilai perbedaan Batik Betawi dengan batik di daerah-daerah lain,” ucap perempuan, yang membangun usahanya pada akhir tahun 2012 lalu.

batik betawi-4Sebenarnya, penduduk asli Jakarta ini melanjutkan, Batik Betawi sudah lama ada, meski kehadiran belum setua Batik-batik Solo, Pekalongan, atau yogyakarta. “Terakhir kali saya melihat keberadaan Batik Betawi, sekitar tahun 1960-an,” tuturnya, saat ditemui di rumah sekaligus galerinya yang berlokasi di Jalan Terogong III, Cilandak Barat, Jakarta Selatan.

Untuk itu, guna melestarikan batik khas Betawi yang sudah hampir punah hingga mulai susah dicari di pasaran, juga membangkitkan kembali pamornya, kelahiran 27 September 1963 ini berinisiatif mendirikan Kampung Batik Betawi. Dan, ia pun segera menerima tawaran pelatihan membatik selama tiga bulandari Suku Dinas UMKM Jakarta Selatan hingga rampung.

Beberapa bulan kemudian, wanita yang biasa disapa Mpok Ela ini membangun sentra batik, dengan modal patungan dengan saudara-saudaranya. Lalu, sekitar enam bulan setelah usahanya berjalan, wanita yang juga berprofesi sebagai guru Bahasa Inggris di sebuah SMK di Jakarta ini, mulai mendapat pesanan. “Kira-kira Januari 2013, pesanan sudah lumayan banyak,” imbuh Mpok Ela, yang mempromosikan Batik Terogong, begitu ia menamai hasil karyanya, dengan rajin mengikuti pameran, di samping informasi dari mulut ke mulut.

Batik tulis karya Mpok Ela dibanderol dengan harga Rp200 ribu−Rp500 ribu per lembar untuk bahan katun. Sedangkan untuk yang berbahan sutera, mencapai Rp1 juta. Sementara yang batik cap, dihargai Rp120 ribu−Rp150 ribu.“Harga disesuaikan dengan motif, banyaknya warna, dan jenis bahan. Selain itu, semakin susah membuatnya, harganya juga semakin mahal,” kata Mpok Ela, yang juga menjual Batik Terogong-nya di Galeri Cilandak Town Square dan by online (www.batikbetawiterogong.com).

Ya, Batik Betawi memang harus melalui proses pembuatan yang panjang, mulai dari pembuatan pola dengan pensil dan malam, penembokan, hingga proses pewarnaan. Imbasnya, untuk menghasilkan selembar batik tulis saja dibutuhkan waktu 12 hari. Di samping itu, karena keterbatasan tenaga kerja, Mpok Ela dan delapan pekerjanya hanya mampu membuat 100–200 lembar batik cap dan 20 lembar batik tulis per bulan.

Untuk itu, ia berharap Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta mendukung Sentra Batik Betawi yang ada di Jakarta. Karena, dengan Batik Betawi inilah, Jakarta mempunyai seni melalui kain. “Kami masih membutuhkan bantuan dari pemprov dan kelurahan untuk minimal membantu dalam sumber daya manusia,” pungkas Mpok Ela, yang Batik Betawi buatannya digemari para pegawai negeri, pejabat, artis, sampai wisatawan mancanegara.

Check Also

Ketika Para Perantau Kangen dengan Kampung Halamannya

Bubur Samin Bubur Samin bukanlah makanan tradisional Solo, tapi menjadi menu takjil yang ikonik di …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *