Home / Liputan Utama / Membantu Mengoptimalkan Perkembangan Otak Anak

Membantu Mengoptimalkan Perkembangan Otak Anak

Fastrackids Indonesia

Ketika seorang anak berumur delapan tahun, perkembangan otaknya akan mencapai 85%. Bila dalam jangka waktu 10 tahun jaringan saraf otaknya tidak saling terkoneksi, maka tidak akan ada perkembangan lagi. Fastrackids pun hadir untuk membantu mengoptimalkan perkembangan otak anak, melaluirangsangan, bukan mengisinya dengan ilmu

[su_pullquote align=”right”]Fastrackids menawarkan metode pendidikan educational zigzagging untuk mengetahui pintar tidaknya seorang anak[/su_pullquote]

e-preneur.co. Perkembangan dalam bidang teknologi ilmu kedokteran yang memunculkan citiscan, MRA, dan sebagainya, menunjukkan bahwa secara fisik, anak yang berumur lima tahun mengalami perkembangan otak sebesar 55%. Dan, saat dia berumur delapan tahun, perkembangan otaknya mencapai 85%. Bila dalam jangka waktu 10 tahun jaringan saraf otaknya tidak saling terkoneksi, maka tidak akan ada perkembangan lagi.

fastrackids-2“Inilah dasar ketertarikan saya, untuk mengambil lisensi Fastrackids dan mengembangkannya di Indonesia. Saya ingin memanfaatkan hasil penemuan di bidang ilmu pengetahuan medis itu, untuk mengoptimalkan perkembangan otak anak. Bukan mengisinya dengan ilmu, melainkan dengan rangsangan. Sehingga, jika nantinya si anak telah mencapai perkembangan otak yang optimal, dia akan mudah berpikir tentang 3–4 hal secara bersamaan,” ungkap Yadi Budhisetiawan, Managing Director Fastrackids Indonesia (FI).

FI yang berkantor pusat di kawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara, berdiri April 2004 dan sekarang telah tersebar di 12 lokasi. Disamping itu, juga memiliki lebih dari 40 guru yang disyaratkan “beraliran” learning excellent(bukan academic excellent,red.), bisa berbahasa Inggris dengan toefel 550, dan minimal sarjana D-3. “Lebih dari itu semua, harus affectionate children, bukan sekadar like children,” ujar Yadi.

Selain itu, lembaga pendidikan yang bersifat kursus dan total memiliki sekitar 800 murid berumur 3–8 tahun ini, menawarkan metode pendidikan educational zigzagging, fasilitas touch screen board dengan laser pen, parents website, serta metode canggih untuk mengetahui pintar tidaknya seorang anak.

Di dalam kelas, para “murid” diajar oleh tiga guru yang salah satunya berupa e-teacher, dengan menggunakan bahasa pengantar Bahasa Inggris dan Bahasa Inggris–Indonesia. “Yang berperan di sini tetaplah guru.Tapi, mereka tidak menjelaskan materi, melainkan aplikasinya. Ilmu yang diajarkan bersifat universal. Meski kurikulumnya dibuat oleh franchisor (Amerika Serikat, red.), namun hanya 20% yang diajarkan selama dua jam masa belajar, sisanya aplikasi,” jelasnya.

FasTracKids-1

Menurut Yadi, pada dasarnya, munculnya berbagai lembaga pendidikan semacam ini, hanyalah sebuah trend, di samping menangkap peluang yang ada. Tapi, dia tidak main-main dengan “bisnis” ini. Sebelum resmi dibuka pada Mei 2006, dia mengeluarkan Rp400 juta untuk commercial launch dengan ujicoba 18 bulan untuk kalangan ekspatriat Barat, ekspatriat Asia, pasangan suami istri (pasutri) Indonesia−asing, dan pasutri lokal di kawasan Kemang.

“Ujung-ujungnya memang duit. Tapi, bila dalam bisnis pada umumnya, balik modal bisa kurang dari tiga tahun dengan titik impas enam bulan, maka dalam dunia pendidikan, titik impasnya 12 bulan dan balik modal minimal empat tahun. Di sisi lain, bila bisnis sudah turut campur, maka idealisme pendidikan hilang sudah,” tegas Yadi, yang mengeluarkan modal Rp380 juta untuk membangun FI dengan franchise fee Rp240 juta untuk 15 tahun dan royalty fee US$300/bulan untuk 100 murid atau 12,5% dari penjualan.

Check Also

Harus Pandai Membaca Karakter Orang

Fairuz (Redline Bags)   Membangun bisnis di dalam bisnis dan satu sama lain berhubungan itu …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *