Home / Frontline / Tawarkan Menu Mancanegara Rasa Nusantara

Tawarkan Menu Mancanegara Rasa Nusantara

Ratjikan

Ingin makan−minum kenyang dan puas, tapi tidak membuat kantong bolong? Mungkin Anda perlu mencoba menu-menu di Ratjikan yang menyajikan makanan luar negeri dengan rasa Indonesia, dengan harga terjangkau

[su_pullquote align=”right”]Dengan hanya Rp35 ribu, orang sudah makan−minum dengan kenyang di Ratjikan[/su_pullquote]

e-preneur.co. Banyak orang yang memiliki hobi berwisata kuliner, dalam arti, berburu makanan enak di mana pun dan kapan pun. Tapi, tidak banyak orang yang berpikir bahwa hobi itu, bila dikembangkan, bisa berubah menjadi usaha yang menambah pundi-pundi keuangan mereka.

(Ki-Ka) Febby, Endang, Anggun

Dari beberapa gelintir orang yang menyadari bahwa dari hobi bisa berkembang menjadi usaha, tersebutlah tiga serangkai Febby Paramita, Anggun Melati, dan Endang I. Wahyuni.

“Kami adalah freelancer yang hobi makan. Sebagai sesama freelancer yang berpenghasilan tidak menentu, kami berpikir untuk dapat membuat usaha yang dapat memberikan pemasukan rutin setiap hari. Karena itu, kami memutuskan untuk terjun ke usaha kuliner. Suatu bidang usaha yang kami anggap menjanjikan, sekaligus dapat menjadi wadah bagi hobi kuliner kami,” kisah Anggun Melati, mewakili ketiga rekannya.

Lalu, awal tahun 2016, mereka mulai menggodok ide untuk membuat sebuah warung makan. Dan, pada April lalu, mereka mewujudkannya dengan mengambil lokasi di Vio Kuliner, Jalan Jatiwaringin Raya, Pondok Gede. Bekasi. “Untuk modalnya, kami kumpulkan dari modal pribadi. Masing-masing menyumbang dengan jumlah yang sama,” lanjut Anggun, tanpa menyebutkan jumlah nominalnya.

Ratjikan, demikian nama warung makan mereka,berasal dari kata “Racikan” yang ditulis dengan ejaan lama. Nama ini, mereka pilih karena sesuai dengan konsep masakan yang mereka tawarkan yaituperpaduan antara menu luar negeri dengan rasa Nusantara.

“Menu khas kami yaitu Ramen Rempah, serta mie instan dan roti bakar kreasi. Untuk minumannya, kami menyajikan Milky Latte (minuman berbahan dasar susu, red.), kopi, dan infused water,” kata Anggun yang bersama dengan Febby bertanggung jawab dalam operasional sehari-hari, sementara Endang bertanggung jawab untuk dapur dan produksi.

[su_slider source=”media: 1361,1359,1357,1358,1360″ width=”800″ height=”540″]

Untuk menu andalannya yaitu Ramen Rempah,terutama rasa kari ayam dan rendang, kelahiran 18 September 1985 ini menjelaskan bahwa Ratjikan menggunakan mie ramen yang diolah dengan bumbu home made, untuk menghasilkan citarasa yang khas. Sementara untuk harganya, Sarjana Sains yang sedang melanjutkan pendidikan untuk meraih gelar Magister Management di bidang creative marketing ini mengatakan bahwa hanya dengan sekitar Rp35 ribu, seseorang sudah bisa makan dan minum dengan kenyang di Ratjikan.

Harga yang sangat terjangkau ini bisa dimaklumi, mengingat Ratjikanmengincar pasar anak muda dan para pencinta makanan pedas. Selain itu, karena jenis makanan yang disajikan tergolong fusion.Sehingga,pada umumnya, lebih disukai oleh generasi muda yang sudah mengenal budaya asing sekaligus citarasa Indonesia. “Untuk pencinta pedas, kami merasa segmen pasar tersebut di Indonesia tergolong besar di antara pangsa pencinta kuliner,” ujarnya.

Konsep menu fusiondiusung Ratjikan, karena mereka tidak memiliki pilihan menu yang terlalu banyak dan ingin lebih fokus ke kualitas rasa. “Menurut pengamatan kami, restoran yang memiliki terlalu banyak menu cenderung kurang di rasa,” tambahnya.

Ratjikan yang ditata keren dan fungsional, dengan memanfaatkan bahan-bahan yang low budget dan sentuhan kreativitas, dibuka setiap hari pada jam 10.00−22.00. Tapi, ke depan, jam operasional akan berlangsung lebih lama yaitu hingga jam 01.00 atau 02.00 dini hari. “Saat ini, yang paling ramai pada hari Sabtu, dari jam makan siang hingga malam hari,” ungkapnya.

Namun, layaknya sebuah usaha di mana ada masa “panen” di situ pula ada masa “paceklik”, Ratjika pun pernah mengalami masa sulit. Untuk menghadapi “masalah” itu, mereka berupaya melakukan cara-cara marketing yang kreatif, dengan biaya yang efisien. Sesuatu yang low cost high impact, seperti promosi-promosi yang menyasar pengguna media sosial atau yang dibuat khusus untuk segmen pasar di sekitar warung mereka. Mereka juga menyediakan fasilitas pesan−antar dengan menggunakan jasa ojek. “Dari makanannya sendiri tidak ada perubahan, hanya penambahan ongkos kirim saja,” tambahnya.

Rencana ke depan? “Ekspansi dengan memperbanyak outlet dan mengembangkan sistem kemitraan/waralaba,” tegasnya.

Check Also

Ketika Para Perantau Kangen dengan Kampung Halamannya

Bubur Samin Bubur Samin bukanlah makanan tradisional Solo, tapi menjadi menu takjil yang ikonik di …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *