Home / Frontline / Menjaga Kualitas untuk Menjala Kalangan Atas

Menjaga Kualitas untuk Menjala Kalangan Atas

Tahu Yong Cen

Lewat proses produksi yang semi moderen,Tahu Yong Cenberani membidik segmen menengah ke atas. Bahkan, dengan strategi yang brilian, tahu buatan Edi Susanto ini sudah merambahi berbagai supermarket di Jakarta dan Tangerang

[su_pullquote align=”right”]Tahu Yong Cen tidak menggunakan sistem jual putus agar dapat selalu mengontrol kualitasnya[/su_pullquote]

e-preneur.co. Dalam kacamata awam, tahu acapkali dianggap sebagai lauk yang kurang bergengsi. Pasalnya, tahu lebih banyak dikonsumsi oleh masyarakat dari kalangan bawah. Padahal, faktanya, makanan yang terbuat dari kedelai ini, memiliki beberapa tingkatan mutu.

tahu-1Grade kualitas produk ini, dinilai dari proses produksi. Dalam arti, pertama, semakin moderen peralatan yang digunakan, maka kualitas tahu menjadi lebih terjamin. Maksudnya, lebih enak, sehat, padat, dan bertekstur halus. Seperti, tahu bermerek Ori Tofu/Yong Cen yang diproduksi oleh UD Yong Cen.

Ya, home Industry yang berlokasi di Sunter Jaya, Jakarta Utara, ini menggunakan peralatan yang terbuat dari stainless steel. Di samping itu, juga dibantu oleh 14 karyawan. Sehingga, proses pembuatan tahu di sini cenderung dikategorikan semi moderen.

Meski, sebenarnya, yang ingin lebih ditonjolkan oleh sang produsen justru higienitasnya. Karena itu, peralatannya selalu dicuci bersih setelah digunakan.

Kedua, proses pembuatannya itu sendiri, yang di UD Yong Cen justru dilakukan dengan cara yang paling sederhana yaitu diambil langsung dari sari kedelai. Lantas, diproses dengan pengental (kalsium sulfat) plus garam.

“Memang, agak sedikit berbeda dengan produksi tahu pada umumnya. Imbasnya, pekerjaan yang harus dijalankan lebih banyak dan pada akhirnya membuat biaya produksi lebih besar. Sehingga, harga jualnya pun lebih tinggi ketimbang tahu-tahu pada umumnya,” ujar Edi Susanto, produsen Ori Tofu/Yong Cen.

UD Yong Cen yang dibangun lima tahun lalu ini, menghasilkan dua jenis tahu yaitu tahu Cina dan tahu pong. Berkaitan dengan harganya, beberapa tahun lalu, tahu-tahu tersebut hanya dipasarkan ke pasar tradisional middle up di kawasan Puri Indah, Muara Karang, Sunter, dan Kelapa Gading. Selain itu, juga ke pasar moderen (supermarket) middle up, seperti Sogo, KemChick, Total Buah, dan Hypermart (Puri Indah dan Lippo Karawaci).

“Sebelum kami melempar tahu-tahu kami ke pasar, kami terlebih dulu melakukan survai pasar. Ternyata, harga tahu kami lebih mahal dibandingkan dengan tahu-tahu yang selama ini beredar di pasar. Sehingga, kami berpikir untuk memasarkan tahu kami ke pasar middle up, yang kami yakini konsumennya lebih mampu beli,” ucap Edi, yang merogoh kocek sekitar Rp1 juta untuk membangun bisnis ini.

Di sisi lain, ia juga melihat tren ke depan di mana orang-orang lebih banyak berbelanja ke supermarket daripada traditional market atau lebih tepatnya mass market. Karena, suasananya lebih nyaman dan perbedaan harga barang tidak terlalu jauh lagi.

Selain itu, pasar middle up juga memiliki kesamaan pola pikir dengannya. Dalam arti, sama-sama mementingkan kualitas produk. Sebab, menurutnya, bila pola pikir sudah tidak matching, maka tidak akan ada perhargaan atas suatu barang terhadap barang yang lain.

“Padahal, yang kami inginkan dari pasar bukan cuma produk kami bisa laku, melainkan juga bisa memberi nilai tambah terhadap konsumen,” jelas sarjana ekonomi manajemen dari Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Bandung ini.

tahu-2Dengan demikian, selling in tidak bermasalah. Tapi, sebaliknya dengan selling out. Sebab, produk ini tidak dapat hanya di-display, kemudian konsumen membelinya. Apalagi, dalam tempo seminggu, barang sudah harus ditarik dari peredaran.Mengingat, kualitasnya sudah berkurang.

“Untuk mengatasi hal ini, pertama, kami melakukan edukasi dengan ‘menaruh’ sales promotion girl di setiap pasar kami. Kedua, kami tidak menggunakan sistem jual putus agar kami dapat selalu mengontrol kualitasnya,” tutur kelahiran Bengkalis ini.

Ketiga, cost of delivery tidak ditekan. “Sehingga, kami dapat memasok produk kami secara bertahap yaitu 3–4 kali seminggu untuk setiap supermarket. Padahal, produk kami ada di 20 supermarket di seluruh Jakarta dan Serpong,” lanjutnya.

Strategi yang sangat jarang dijalankan pengusaha lain ini, dimaksudkan supaya saat diproduksi barang itu hasilnya bagus, ketika dikirimkan ke pasar dan sampai ke pasar barang itu masih bagus, dan kala sampai ke tangan konsumen barang itu masih tetap bagus.

Hasilnya? “Setiap tahun, kami mengalami peningkatan penjualan 30%–40%. Sedangkan, jika dilihat dari jumlah pasokannya, semula 100 pack/hari dengan retur 20%, maka sekarang 500 pack–600 pack per hari dengan retur 2%,” ungkap Edi, yang kala itu setiap hari memproduksi 6.000–7.000 potong tahu dari 200 kg kedelai.

Sementara, berkaitan dengan semakin terkikisnya pasar tradisional, Edi justru tidak ingin menambah jumlah pasarnya. Ia hanya akan me-maintain pasar-pasar yang sudah direngkuhnya, sambil merambah “pasar” lain yaitu restoran. Lebih tepatnya, rumah makan yang care dengan terhadap kualitas produk, seperti Dapur Solo yang beberapa waktu lalu telah menjadi konsumen setianya. Sedangkan untuk produknya, ia akan membuat produk turunannya.

Check Also

“Naik Kelas” dengan Mengganti Gerobak Dorong dengan Outlet Permanen Berkonsep Restoran

Bakmi Gila Usaha kakilima banyak diminati para pelaku usaha. Selain itu, konsep PKL mempunyai potensi …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *