Home / Senggang / LifeStyle / Sandal yang Menantang Kreativitas

Sandal yang Menantang Kreativitas

Napaktilas

Menyukai traveling berarti menyukai hal-hal yang simple. Tapi, bagi perempuan, simple tidak berarti apa adanya. Berkaitan dengan itu, Dian pun memproduksi Napaktilas yang bukan cuma praktis dibawa ke mana pun, melainkan juga nyaman dipakai dan fashionable. Selain itu, produk ini juga inovatif dan menguji kreativitas pemakainya

[su_pullquote align=”right”]Untuk yang kurang kreatif, melalui situsnya, Napaktilas mengajarkan bagaimana caranya mengubah-ubah model talinya[/su_pullquote]

e-preneur.co. Sandal merupakan salah satu alas kaki yang tidak hanya membuat anggota tubuh paling bawah itu merasa nyaman, tetapi juga aman dan tambah cantik penampilannya. Karena itu, tidak mengherankan, jika sandal selalu dibutuhkan.

Dalam arti, “pasarnya” masih terbuka sangat lebar. Sehingga, mampu menampung sebanyak mungkin sandal baik dengan model-model baru maupun sekadar modifikasi.

sandal napaktilas-2Uniknya, dalam “pasar” sandal, “kue” bisnisnya terbagi rata. Dengan demikian, tidak pernah terjadi saling sikut atau bahkan saling gilas. Masing-masing model sandal memiliki penggemar.Ambil contoh, sandal Napaktilas (baca: Napaktilas, red.) yang dibuat dan dipasarkan Dian Herdiany pada November 2010.

Napaktilas merupakan modifikasi dari sandal kung fu yaitu sandal jepit unik yang dijual di Pasar Malioboro, Yogyakarta. Sandal ini murah harganya dan sangat nyaman dipakai, meski dari segi kualitas sangat buruk. Sebagai salah satu penggemarnya, Dian terinspirasi untuk membuat sandal sejenis dengan penambahan di sana-sini agar lebih cantik dan awet dipakai.

Berkaitan dengan itu, meski memiliki bentuk fisik mirip sandal teplek, tapi Napaktilas tampil beda. Sebab, pertama, dilihat dari alasnya, Napaktilas terbuat dari kulit sapi asli yang dibuat oleh para pengrajin sandal di Cibaduyut, Bandung.

Kedua, Napaktilas memiliki tali yang terbuat dari kain katun di mana kain-kain itu dapat dicopot, diganti dengan tali lain, dan diubah-ubah bentuk ikatannya, tergantung dari kreativitas pemakainya. Sehingga, modelnya pun bisa berubah-ubah. Lebih dari itu, sandal ini menantang pemakainya untuk kreatif.“Untuk yang kurang kreatif, saya mem-posting melalui sebuah situs tentang bagaimana caranya mengubah-ubah model talinya,” kata Dian.

Tali-tali yang berwarna-warni, sehingga dapat disesuaikan dengan busana yang dipakai pemiliknya itu dibuat oleh para tetangga di sekitar rumah Dian, di kawasan Guntur, Jakarta. Mengingat, kawasan tersebut banyak dihuni oleh para penjahit bersepeda. “Sebenarnya, inti dari usaha ini yaitu memanfaatkan kondisi lingkungan di sekitar kita. Sehingga, menjadi efektif,” imbuhnya.

Seperti sudah dikatakan di atas bahwa setiap model sandal memiliki konsumen. Demikian pula dengan Napaktilas, yang disukai oleh mereka yang tidak menyukai sandal berhak, seperti para mahasiswi dan pelancong ekspatriat.

sandal napaktilas-3“Pembeli sandalku terbagi menjadi dua yaitu orang-orang yang social media networking dan mereka yang mengetahui website-ku entah dari mana,” ungkap sarjana antropologi Universitas Indonesia, Jakarta, yang menjual hasil karyanya secara online. Tidak mengherankan,jika sandal yang tersedia dalam ukuran 36−43 itu bukan hanya merambah seluruh Indonesia, terutama Indonesia Bagian Timur, melainkan juga telah “terbang” ke New York, Jerman, Selandia Baru, dan Australia.

Setiap bulan, Dian secara rutin memproduksi 60−70 pasang Napaktilas di mana 60%-nya diserap pasar. Sedangkan sisa produksi diserap melalui berbagai pameran yang rajin diikutinya.

Sementara untuk harga, Napaktilas dijual (saat wawancara ini dilakukan) Rp185 ribu/set di mana dalam satu set/kardus terdapat sepasang alas sandal, dua pasang tali, dua buah bead/hiasan pada sandal, kantung untuk menyimpan sandal tersebut, serta selembar petunjuk cara merawat dan menyimpan sandal. Tali dan bead juga ada yang dijual terpisah.

Berkaitan dengan tali-temali Napaktilas, setiap bulan, Dian juga selalu mengeluarkan model-model baru, termasuk bahan, motif, dan warnanya yang ia rangkum dalam istilah edisi. Saat wawancara ini dilakukan, ia telah menelurkan edisi kelima atau motif jumputan.

“Bagi mereka yang pernah membeli tali edisi pertama, biasanya akan membeli tali di edisi-edisi berikutnya. Berkaitan dengan itu, aku memproduksi tali tiga kali lipat lebih banyak ketimbang alas sandalnya,” jelas kelahiran 1 Desember 1975, yang menjual tali-talinya dengan harga Rp35 ribu/sepasang. Sedangkan untuk bead-nya, ia menjual dengan harga Rp20 ribu−Rp25 ribu setiap pasangnya.

Dalam tempo setahun, usaha yang dibangun dengan modal awal sebesar Rp2,5 juta ini, telah membukukan penjualan sebanyak 500 pasang. Sebuah angka yang cukup besar untuk sebuah social business.

Dikatakan begitu, sebab sebenarnya kehadiran Napaktilas dilatarbelakangi oleh keinginan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Kampung Halaman di mana Dian merupakan salah satu pendirinya, untuk mandiri. Mengingat, sudah sejak tahun 2006, Kampung Halaman di-support oleh sebuah LSM asing.

Lantas, tahun 2010, LSM yang bergerak dalam bidang pendidikan dengan menggunakan bantuan media elektronik dan ditujukan bagi para remaja berumur 15−25 tahun tersebut, memikirkan cara agar dapat mengurangi subsidi dari LSM asing itu. Kampung Halaman pun memulainya dari unit bisnis yang dibangun di bawah sistem koperasi. Dan, Napaktilas merupakan initial project-nya.

Jadi bagaimana prospeknya? “Bagus sekali. Setiap hari selalu ada yang memesan sandal ini. Karena, produk ini unik, dalam arti, memerlukan kreativitas,” pungkas Dian.

Check Also

Ketika Para Perantau Kangen dengan Kampung Halamannya

Bubur Samin Bubur Samin bukanlah makanan tradisional Solo, tapi menjadi menu takjil yang ikonik di …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *