Home / Waralaba / Namanya Menggema lewat Konsep Waralaba 

Namanya Menggema lewat Konsep Waralaba 

Pecel Ponorogo Bu Tari 

Bicara tentang waralaba, hampir tidak pernah menyentuh produk-produk yang berkonotasi tradisional. Jadi, ini sebuah keunikan, kalau tidak boleh dibilang keberanian, ketika Pecel Ponorogo Bu Tari menawarkan waralaba dengan nilai investasi yang terbilang besar. Dan, ternyata, peminatnya banyak. Dalam setahun, sudah dibuka tujuh gerai

[su_pullquote align=”right”]Franchisee PPBT akan mendapatkan laba yang pantas[/su_pullquote]

e-preneur.co.Pecel merupakan makanan tradisional Masyarakat Jawa Tengah dan Jawa Timur. Makanan yang dalam beberapa maskapai penerbangan nasional diperkenalkan sebagai Indonesian Salad ini, terdiri dari rebusan bayam, tauge, kacang panjang, dan beberapa sayuran lain, tergantung selera pembuatnya.

Selanjutnya, makanan yang di Jakarta disebut pecel sayuran (sekadar untuk membedakannya dengan pecel lele atau pecel ayam, red.) ini, dihidangkan dengan siraman sambel (Jawa: sambal, red.) pecel (orang Jakarta mengistilahkannya bumbu kacang, red.). Sedangkan sambel pecel itu sendiri terbuat dari kacang tanah dan cabe rawit, yang dicampur dengan daun jeruk purut, bawang merah, asam Jawa, merica, serta garam. Lalu, ditumbuk atau dihaluskan.

Biasanya, makanan sehat dan bebas vetsin ini, disajikan dengan nasi putih hangat dan peyek (Jawa: rempeyek, red.). Demikian pula dengan Pecel Ponorogo Bu Tari (PPBT), yang didirikan pasangan suami istri Sukadi dan Lestari Mujiasih, di Surabaya. Tapi, PPBT juga memiliki rasa bumbu yang khas, rempeyek yang renyah dan higienis, pelayanan yang ramah, serta desain outlet yang menarik.

Sedikit merunut ke belakang, awalnya, PPBT yang didirikan pada Agustus 2003 dalam bentuk warung tenda hanya bertujun untuk mengurangi pengangguran sebagai imbas PHK (Pemutusan Hubungan Kerja) dan untuk mengatasi dampak krisis ekonomi. Di samping itu, juga untuk mengangkat pamor makanan tradisional, dengan cara masuk ke pasar atau kalangan eksekutif.

Dalam perkembangannya, PPBT yang dibangun dengan modal awal Rp20 ribu itu, semakin digemari. Terbukti, dari jumlah konsumen yang dari waktu ke waktu semakin bertambah banyak hingga mampu membukukan omset mencapai Rp60 juta/bulan atau setara dengan 300 porsi.

“Melihat animo masyarakat yang terbilang luar biasa itu, pada awal tahun 2009, kami memutuskan untuk mewaralabakan PPBT,” kata Lestari Mujiasih. Selain itu, melalui waralaba ini, PPBT juga berharap dapat mengurangi pengangguran dengan membuka lapangan kerja sebanyak-banyaknya dan mengangkat produk tradisional (asli dalam negeri).Sehingga, bisa bersaing dengan produk mancanegara.

PPBT yang memiliki outlet di Jalan Nginden Intan Barat I (Depan RS Surabaya Internasional) dan Jalan Rungkut Mapan I (Sebelah Timur Yakaya Swalayan) di mana keduanya berlokasi di Surabaya, serta di Jalan Raya Caman, Jatibening, Bekasi, ini juga menerapkan konsep waralaba. Dengan mengembangkan konsep ini, maka brand PPBT pun lebih menggema dan dikenal luas oleh masyarakat.

Ada empat tipe konsep waralaba yang disediakan PPBT yaitu tipe gerobak, booth, food court, dan resto.Untuk tipe gerobak, investasinya dimulai dari harga Rp45 juta, untuk boothdimulai dari harga Rp75 juta, dan untuk food court dimulai dari Rp50 juta. Ketiganya sudah disertai peralatan lengkap. Sedangkan investasi untuk tipe resto, dimulai dari harga Rp90 juta dan sudah termasuk peralatan standar.

“Masing-masing tipe berlaku kerja sama selama lima tahun, dengan royalty fee sebesar 5% dari omset per bulan. Sementara,Break Even Point dapat dicapai dalam kurun waktu 12–16 bulan,” jelas perempuan, yang akrab disapa Bu Tari itu.

Dengan nilai investasi sebesar itu, Bu Tari menambahkan, franchisee akan memperolehtraining karyawan,Standard Operating Procedure, survai lokasi, paket bahan baku awal, jaminan supply bahan, pendampingan pasca opening, dan quality control. “Bahan baku utama di-supply dari pusat, sedangkan untuk bahan yang lain bisa dibeli di sekitar outlet sesuai standar,” ujar kelahiran Blitar, Jawa Timur, itu.

Di samping itu, untuk menjadi franchisee, PPBT mensyaratkan agar yang bersangkutan, pertama, memiliki kejujuran, semangat, optimis, dan tidak mudah putus asa. Kedua, mematuhi standarisasi dan peraturan yang telah ditetapkan pusat. Ketiga, memiliki investasi dana yang cukup. Keempat, lulus seleksi franchisee.

“Dengan menjadi franchisee PPBT, yang bersangkutan akan memiliki ilmu dan pengalaman di bisnis makanan, tidak perlu memulai bisnis dari nol, memperoleh komitmen dan support dari pusat, dan mendapatkan laba yang sesuai,” pungkasnya. Pada awal tahun 2010, tercatatPPBT telah memiliki tujuh outlet yang tersebar di Surabaya, Sidoarjo, Malang, Gresik, dan Medan.Sebuah bisnis yang menjanjikan, bukan?

Check Also

Menunya Ciamik, Tawaran Franchise-nya Menarik

SamWon House   Dalam bisnis yang mengusung konsep franchise, jika bukan keunggulan produknya yang dikedepankan, …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *