Home / Profil / Kisah Sukses / “Bisnis Tanpa Pendidikan (Formal) itu Omong Kosong”

“Bisnis Tanpa Pendidikan (Formal) itu Omong Kosong”

Fitria Octarina

(Pemilik CV Ria Jaya)

Alah bisa karena biasa. Begitulah perjalanan bisnis tanaman yang dijalankan Nina. Sebab, meski terlahir sebagai anak petani dan penjual tanaman, tapi ia tidak pernah bersentuhan secara bisnis dengan berbagai pohon yang dijual Almarhum Bapaknya. Sampai, pada akhirnya, ia harus menjalankan bisnis keluarga ini, sepeninggal sang Bapak

[su_pullquote align=”right”]Saya menggunakan analisa SWOT untuk mengetahui tanaman apa yang dibutuhkan konsumen[/su_pullquote]

e-preneur.co.Tahukah Anda, bila pohon (buah) sama dengan barang antik? Dalam arti, semakin bertambah umurnya, semakin bertambah pula harganya.

Karena, sebatang pohon mangga, misalnya, ketika baru berumur setahun cuma dihargai Rp100 ribu. Dua tahun kemudian, dengan perawatan yang baik, ia akan tumbuh sebagai pohon yang telah memiliki ukuran dan bentuk tubuh yang bagus, serta sudah mulai berbuah. Pada saat itu, harganya pun melonjak menjadi Rp750 ribu–Rp1 juta.

Sementara, sebagai bisnis, tanaman pohon tidak akan pernah membawa kerugian. Sebab, akan selalu ada yang meminatinya.

Di sisi lain, pohon dapat diperbanyak baik melalui anakan, cangkok, maupun okulasi. Bahkan, dengan adanya kemajuan pengetahuan, tanaman keras pun kini dapat ditanam di lahan sempit melalui sistem tabulampot (tanaman buah dalam pot). Seperti, yang terjadi pada pohon klengkeng.

nina-2Kedua hal tersebut di atas, hanyalah sekelumit latar belakang eksternal yang memicu Fitria Octarina terjun ke bisnis tanaman. Sedangkan secara internal, gadis yang biasa disapa Nina ini terlahir sebagai anak petani. Sehingga, dari lahir hingga saat ini, ia sudah akrab dengan segala macam pohon.

“Tapi, saya baru benar-benar menekuni bisnis tanaman, meski masih dalam kapasitas kecil, ketika Bapak saya sakit. Maklum, kami membutuhkan tambahan biaya berobat,” tuturpemilik CV Ria Jaya (hortikultura) ini.

Namun, latar belakang internal tersebut tidak lantas membuat kelahiran Jakarta, 3 Oktober 1980 ini, bisa menjalankan bisnis itu semudah ia mengedikan bahu. Kala sang Ayah akhirnya meninggal dan mewasiatkan agar ia melanjutkan bisnis ini, kebun (begitu ia mengistilahkan, red.) dalam kondisi porak poranda. Dalam arti, tanaman yang ditinggalkan Ayahnya tinggal ala kadarnya. Di samping itu, uang tunai yang tersisa hanya Rp5 juta.

“Sebenarnya, saya masih awam dengan bisnis ini dan belum mengetahui semua jenis tanaman. Saya juga belum mengetahui teman-teman petani mana yang mau dan bisa diajak bekerja sama. Sehingga, kemudian, saya menanamkan modal yang terlalu tinggi di bisnis ini,” kisah Nina, yang resmi terjun ke bisnis ini pada tahun 2005.

Tapi, dalam perjalanannya, ia belajar dari buku dan para kuli yang bekerja di sekitar kebun Ayahnya sampai tahap menguasai, baik cara menanam maupun merawat tanaman. Bukan cuma itu, dengan pendekatan yang baik, pada akhirnya, ia memperoleh harga khusus setiap kali membeli tanaman dari teman-teman petani dan bisa menghadapi konsumen.

Sarjana ekonomi dari Universitas Gunadarma, Jakarta, ini juga menggunakan analisa SWOT (Strengths, Weaknesses, Opportunities, dan Threats) untuk melihat, mendengar, dan mengetahui tanaman apa yang dibutuhkan konsumen. Ia memanfaatkan pula brand Ragunan yang identik dengan tanaman.

Sementara untuk bisa memperoleh kepercayaan dari bank, meski modalnya cekak dan pengalaman bisnisnya baru seumur jagung, sarjana S-2 di bidang psikologi dari almamater yang sama ini hanya selalu berusaha keras membayar pinjaman tepat waktu. Hingga, suatu ketika, ia pernah dinobatkan sebagai nasabah terbaik dari sebuah bank.

Hal itu, tentu saja berbanding terbalik dengan apa yang dialami para pengusaha muda pada umumnya. Menurutnya, biasanya mereka kurang menjiwai bisnis yang ditekuni atau hanya beranggapan bahwa bisnis merupakan sarana untuk menghasilkan uang.Secara manajerial, mereka belum mampu.Sehingga, omset naik dan turun secara dramatis. Atau, karena memiliki fasilitas yang lengkap, maka mereka masih berjiwa manja. Imbasnya, bank pun kurang menaruh kepercayaan terhadap mereka.

Di luar itu, Nina terus meningkatkan pemasaran dan menekan biaya hidupnya. Di samping itu, ia juga terus menciptakan kepercayaan konsumen dan tidak membeda-bedakan orang-orang di sekitarnya.

“Karena, bisa saja seorang tukang sapu pinggir jalan mendatangkan konsumen bagi saya, kan?” kata Nina, yang pernah memegang proyek penghijauan Polda Metrojaya (tahun 2005), proyek penghijauan PLTU Cilegon, dan penghijauan Astra International (tahun 2006), serta meraih penghargaan Pengadaan Rumput Tercepat dari MURI (Musium Rekor Indonesia).

Di sisi lain, latar belakang pendidikan, bagi Nina, juga berpengaruh dalam menjalankan bisnis. Contoh, dari ilmu ekonominya, ia mengambil sisi marketing untuk menjalankan bisnis ini. Sementara dari psikologinya, ia menggunakannya ketika berhubungan dengan para karyawannya.Terutama, dalam pemberian gaji. Tak pelak, puluhan karyawannya sampai kini masih setia bekerja padanya.

“Bisnis tanpa pendidikan itu omong kosong! Sebab, dari ilmu yang kita miliki, kita dapat mengetahui bagaimana caranya mengelola pemasaran, keuangan, atau mengetahui bagaimana caranya berkomunikasi dengan konsumen. Apalagi, pada umumnya, tanaman mempunyai konsumen dari kalangan menengah ke atas,” tegas peraih penghargaan Pemuda Pelopor bidang Kewirausahaan Provinsi DKI Jakarta ini.

Dengan modal seperti itu, tidak mengherankan bila ia dapat mengembangkan CV Ria Jaya yang berlokasi di dalam Kompleks Wiraguna, Ragunan, Jakarta Selatan, ini dengan membuka CV Ria Jaya Flora (tahun 2006) yang menyediakan tanaman hias dan fokus pada pembuatan taman.

Setahun kemudian, ia membuka CV Ria Jaya Tani yang menyediakan sarana prasarana (pot, pupuk, media tanam, dan lain-lain) dengan harga grosir. Di samping itu, saat wawancara ini dilakukan, di CV Ria Jaya terdapat 200 drum aneka tanaman dengan harga minimal Rp500 ribu/pohon. “Rata-rata per bulan saya membukukan omset Rp30 juta (di luar proyek),” kata Nina, yang dari bisnis ini juga mampu membeli rumah dan mobil.

Namun, tidak berarti perjalanan bisnisnya berlangsung dengan mulus. Kerikil-kerikil tajam tetap saja menghadang langkah bisnisnya. Seperti yang terjadi baru-baru ini,ketika mitranya yang merupakan salah satu perusahaan terbesar di negeri ini, mangkir dari sisa pembayaran yang hanya senilai Rp43 juta.

“Mungkin, hal ini disebabkan saya masih muda, terlalu baik, dan jujur. Sehingga, mitra saya itu menggampangkan atau mengentengkan hubungan bisnis ini. Saya akui inilah beberapa kelemahan lain pengusaha muda, selain juga cenderung masih labil mental dan emosinya, serta polos hingga akhirnya bisa dengan mudah dibodohi,” ucap Nina, yang menjalin kemitraan di antaranya dengan PT Adi Karya (Persero), PT Waskita Karya, PT Jaya Konstruksi, dan lain-lain.

Untuk mengantisipasi agar nantinya kejadian yang sama tidak menimpanya lagi, Nina mempersiapkan MoU (Memorandum of Understanding) di awal menjalin kerja sama atau mengajukan tender. “Agar bukan cuma saya yang kena penalti ketika menyelesaikan proyek lewat dari waktu yang telah disepakati, tapi juga mitra saya jika mereka telat membayar dari waktu yang telah disepakati,” kata Ketua Kelompok Tani Wiraguna Ragunan, yang merupakan binaan Dinas Pertanian dan Kehutanan DKI Jakarta ini.

Kini, “produk” CV Ria Jaya sudah tersebar ke seantero Nusantara. “Awalnya, kemitraan kami hanya bersifat per proyek. Tapi, saya menyambungnya dengan mengajukan tawaran maintenance. Lantaran, tanaman itu kan tidak cuma sekali ditanam dan disiram terus habis perkara. Ia juga terus tumbuh.Sehingga, membutuhkan perawatan yang teratur. Untuk itu pula, ia membutuhkan pot, pupuk, media tanam dan sebagainya yang semuanya itu tersedia di CV Ria Jaya Tani,” jelas perempuan, yang juga terlibat dalam proyek penghijauan dan penanaman rumput di sepanjang aliran Banjir Kanal Timur.

Berkaitan dengan itu, CV Ria Jaya juga merambah bisnis maintenance dan rental tanaman. “Saat ini, saya menggalakkan maintenance dengan fokus rumah-rumah konsumen dengan tarif rata-rata Rp250 ribu–Rp300 ribu per sekali datang per rumah, termasuk fasilitas obat dan fasilitas taman. Umumnya, maintenance ini dilakukan dua kali dalam sebulan,” pungkas Nina, yang pernah menangani 15 rumah di seluruh Jakarta dan tinggal mempertahankan bisnisnya.

Check Also

Sukses Membangun Kerajaan Bisnis dengan Telaten Merangkai Jaringan

Onny Hendro Adhiaksono (PT Trimatra Group) Dalam bisnis, selain modal, jaringan dan skill mempunyai peran …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *