Home / Senggang / Jalan-Jalan / Surga Belanja Penyuka Fashion Kekinian

Surga Belanja Penyuka Fashion Kekinian

Airplane Systm

Kota Distro. Begitu sebutan lain dari Bandung. Sebab, di Kota Paris van Java ini dapat dijumpai ratusan distro (dan juga clothing) yang menyajikan berbagai busana dan aksesori untuk berbagai umur dan kalangan, dengan model yang tidak pasaran. Hingga, masyarakat mancanegara pun meminatinya. Seperti, produk-produk yang dihasilkan Airplane Systm

[su_pullquote align=”right”]Setiap saat, Airplane melakukan update produk[/su_pullquote]

 e-preneur.co. Bicara tentang clothing di Bandung, tidak dapat dilepaskan dari Airplane Systm (baca: Airplane, red.) yang telah “melemparkan” produknya ke berbagai distro di 94 kota kabupaten di seluruh Indonesia dan 10 negara, dengan sistem beli putus. Sekadar informasi, clothing yaitu produsen sekaligus pemasok aneka busana dan aksesorinya ke berbagai distro (distribution store), baik dengan sistem titip jual maupun jual putus.

Apa resepnya? “Produknya harus eksklusif dan unik. Karena itu, harus diproduksi dengan jumlah terbatas. Dalam arti, Airplane yang memiliki sekitar 600 artikel atau desain untuk setiap season-nya tidak meluncurkannya secara bersamaan, tapi dibagi ke dalam empat bulan. Dan, untuk setiap artikel hanya diproduksi 150–200 pieces,” kata Tb. Fiki Chikara Satari, Director sekaligus salah satu dari tiga owner Aiplane Systm.

airplane-4Kecuali, Fiki melanjutkan, saat lebaran, misalnya.Jumlah produksinya bisa berkembang hingga empat kali lipat. “Mengingat, ini hanya penjualan sekali setahun,” tambahnya.

Kedua, setiap tahun selalu menyediakan model baru sesuai dengan season, misalnyaback to school, lebaran, dan akhir tahun atau tahun baru. “Tapi, pada praktiknya, setiap saat kami melakukan update,” ujar Fiki.

Aiplane, ia menambahkan, memiliki tim research and development yang selalu memantau keinginan pasar melalui kuesioner yang disebarkan, di samping data-data di toko.“Hasilnya, kami jadikan patokan untuk membuat desain baru.Sehingga, meski season-nya belum berakhir, kami sudah meng-update produk-produk kami,” lanjutnya. Dan, biasanya produk-produk tersebut tidak bertahan lama di gudang.Mengingat, permintaan dari (distro) daerah semakin banyak.

Dalam berproduksi, clothing sekaligus distro ini mempunyai rumah produksi yang hanya berfungsi membuat sampel. “Tapi, kalau hasilnya dari segi kualitas bagus ya sekalian kami produksi. Sebenarnya, yang kami kedepankan yaitu produk berteknologi maju, misalnya product development jins. Kami tidak ingin cuma membeli bahan, menjahit, terus selesai deh. Kami juga ingin ada proses pencucian, bordir, pengancingan, pola, dan sebagainya. Untuk itu, kami bermitra dengan perusahaan tekstil besar,” ucapnya.

airplane-3Sedangkan dilihat dari konsep produknya, Airplane menyebutnya street style, terkini, dan sporti. “Meski Aiplane ditujukan bagi anak muda (laki-laki) perkotaan kelas menengah ke atas dan berumur 15–25 tahun, tapi kami juga mengembangkan produk untuk perempuan yang lebih girlie, tanpa meninggalkan kesan gagah,” imbuhnya.

Menengok ke belakang, Aiplane muncul pada tahun 1997 dan berdiri resmi pada tahun 1998 sebagai distro. Karena, belum mampu mengisi tokonya dengan produk sendiri. Seiring dengan bertambahnya pemasukan, modal awal yang cuma Rp300 ribu pun ditambah dan Aiplane memutuskan untuk beralih menjadi clothing.

“Dibandingkan sebagai distro yang tinggal ngambil barang dengan sistem konsinyasi, clothing memang berisiko lebih gede dan harus memiliki modal banyak.Sebab, juga harus mengeluarkan biaya produksi. Meski begitu, pemasukannya lebih besar pula,” ungkapnya.

Kemudian, pada tahun 2001, Airplane membuka toko sendiri di Jalan Aceh, Bandung, dengan modal kurang dari Rp10 juta. Di toko seluas 70 m² (kini, 150 m², red.) yang didesain dengan dominasi warna yang Airplane banget yaitu merah, hitam, dan putih ini, dijajakan kaus, jaket, celana panjang, aksesori, sepatu, celana boxer, dan sebagainya, dengan kisaran harga Rp55 ribu–Rp325 ribu.

“Selain menjual produksi sendiri, kami juga menerima merek lain berupa merchandise band, sekadar untuk mendukung kiprah anak-anak band lokal,” ucap Fiki,yang 60%–75% pengunjung tokonya per hari dipastikan membeli.

Sementara untuk meningkatkan pemasaran, Airplane menggunakan sistem jemput bola dengan mendatangi para konsumennya menggunakan bus bekas bermerek HINO, yang telah diubah karoserinya. Distro berjalan yang mulai beroperasi awal Agustus 2006 itu, diberi nama Vicee-Airbus One (VAB-1). VAB-1 yang kini telah berganti nama menjadi Airbus One (AB 1) dapat dijumpai di Jalan Sultan Agung, Bandung.

Selanjutnya,clothing yang mempersonifikasikan produknya seperti pesawat terbang ini, fokus pada bisnis ritel dan wholesale fashion industry.Dalam arti, Airplane idak mau lagi terjebak dalam embel-embel independen dan lokal, kecuali sekadar sebagai penyemangat. Dan, ke depannya, berencana go international.“Untuk itu, Airplane melakukan persiapan go international dengan menetapkan standar kualitas produk, legal aspect, dan jaringan usaha di luar negeri (partnership),” pungkasnya. Selamat berbelanja

Check Also

Ketika Para Perantau Kangen dengan Kampung Halamannya

Bubur Samin Bubur Samin bukanlah makanan tradisional Solo, tapi menjadi menu takjil yang ikonik di …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *